Bagaimana Jika Aku Terlalu Menginginkanmu?

Standard

Kucari, tak kudapatkan dirimu

Setelah sekian lama, aku bertanya-tanya. Akan sepotong hati yang telah lama hilang itu. Kita pernah membaginya bersama, meski mungkin hanya dalam satuan menit. Kita lebih banyak membisu, tiada berkata sedikitpun. Karena kita tahu bahwa dalam kebisuan itu, adalah cara kita bisa memahami satu sama lain. Entah, atau mungkin aku yang tidak bisa memahami bagaimana caranya untuk bisa lebih mengenalmu dari itu.

Kemudian saat waktu dan jarak menjadi sesuatu yang membuatku kehilangan akan bayang-bayang itu, aku terus mencari dan bertanya-tanya ataukah benar itu memang dirimu. Aku mencoba menemukanmu dalam cerita-cerita lama yang pernah kutulis. Dalam sebuah lembar-lembar lama yang pernah aku kagumi sendiri, dan hampir tak kutemukan dirimu lagi disana.

Namamu tertulis, tapi masih ingatkah akan spasi yang sudah terlanjur membentang bagai dua samudera itu? Kau, ada dimana?

Kuhirup tak kudapatkan nafasmu

Kita begitu mungil dalam sebuah dunia yang besar. Bahkan ketika aku mencoba untuk menelusuri nafas rindu yang pernah terhirup. Aku masih tak bisa menemukan sosokmu di dalam sana. Kamu tersimpan dalam debu ingatan yang mematikan aroma. Sehingga aku kesulitan untuk bisa mengingat-ingat, bagaimana aroma rindu itu dalam ingatanku. Tolong aku, aku tak bisa mengingatnya sendirian.

Aku sudah terlanjur menyukaimu, dalam setiap sisi yang bahkan aku tidak menyadari ada pada dirimu. Semua deskripsi itu, bagai secara otomatis diterjemahkan dalam kode-kode di dalam perasaan di dalam pikiranku sendiri. Aku bagai telah menerima segala kurang yang mungkin ada padamu, sehingga aku selalu menemukan ada sisi yang selalu menawan. Aku selalu mencari-cari helaan napas yang kulewatkan, karena aku takut tidak kutemukan diriku di dalamnya.

Kemana kini dirimu berada?

Akhirnya, aku berhasil menemukanmu. Susah payah aku bisa menemukan jejak-jejak itu. Aku mencoba menelusuri, menelusuri, aku seperti memiliki waktu ekstra yang kubuat sendiri hanya untuk menemukanmu sendiri. Kemudian, aku mendapatkan skenario, petunjuk-petunjuk yang membawaku lebih dekat. Mereka bilang, kamu sudah berlari lebih jauh, dari jarak yang sudah kutempuh, sehingga aku baru menyadari bahwa aku sudah terlambat untuk bisa mengejarmu.

Bisakah kau berhenti berlari sejenak?

Bisakah kau mendengar suaraku disana, sekali lagi?

Hilangkah, atau hanya sementara?

Lalu kemudian, kamu memutuskan untuk tetap menghilang dari hidupku. Meski aku sudah berusaha untuk tetap menempatkanmu dalam spasi khusus yang paling istimewa. Kamu berada dalam loker bertuliskan kata yang selalu menjadi kata paling sakral dalam hidupku. Yang membuatku menganggapmu sebagai elemen yang paling penting dalam kehidupanku, nanti.

Lalu kemudian, kamu tetap memutuskan untuk tetap menghilang dari hidupku. Aku tak pernah paham apa alasanmu untuk tetap berlalu, berlari, menghilang. Meski aku sudah mengatakan untuk bisa tetap mengejarmu dalam pencarianku yang begitu panjang dan melelahkan. Pencarian yang aku selalu enggan untuk selalu bisa memulainya dari awal. Perasaan yang terlalu rentan untuk bisa kubagikan kepada orang lain. Itulah sebabnya aku tetap bergelantungan dalam perasaan sendirian, karena aku hanya menginginkanmu seorang diri yang bisa menemaniku dalam setiap cerita-cerita yang ingin kubuat.

Apalah artinya jika aku sudah menempatkanmu bagai roh, dalam tulisan yang selalu kubanggakan sendiri? Kamu sudah sakral, terpatri, dalam kamus besar hidupku. Aku selalu kembali membuatmu menjadi definisi yang paling benar, agar aku selalu bisa kembali menjadikanmu alasan, disetiap perjuangan dan perjalanan jauh yang kulakukan.

Tolong!

Kembalilah. Kamu tidak akan pernah paham bagaimana perasaan itu terus menghantuiku. Menghantui, dalam setiap kesepian meski bintang-bintang terlepas di langit bagai tumpahan pasir putih di lantai hitam yang pekat. Semuanya begitu jelas, sejelas perasaan rindu yang selalu kusembunyikan. Dari pesan-pesan yang selalu kucoba untuk sampaikan, untukmu.

Meski jauh, takkan pernah tergantikan

Itu tidak mungkin! 

Mereka bilang. Kamu dan aku, sejatinya tak akan bisa bersatu dalam sebuah cerita yang selalu aku inginkan. Perlahan-lahan, aku mulai menemui jalan yang mengantarkanku pada alasan-alasan mengapa kamu selalu menghindar setiap kali aku mencoba meraihmu.

Kamu, berbeda. Mereka bilang kita terlalu berbeda. Bagai minyak dan air yang tak akan pernah menjadi satu elemen.

Apa kamu menginginkannya? Kenapa begitu membingungkan? Kenapa begitu?

Apa ini jalan yang benar-benar tidak bisa dirubah? Kupikir, saat aku tumbuh dewasa, aku bisa menentukan jalan hidup yang kuinginkan. Dan aku menginginkan dirimu sebagai jalan yang aku pilih. Tapi mengapa kamu memilih orang lain untuk menjadi jalanmu?

Apakah aku terlalu buruk bagi dirimu? Atau aku yang sudah terlanjur menghamba pada perasaan yang rapuh ini? Apakah kamu memang benar-benar sudah terlanjur menyerah, sehingga kamu membentuk tembok-tembok besar itu dihadapanku? Sehingga meski kupikir, dalam sisa-sisa kelelahan yang kupunya, aku hanya tinggal sedikit melangkah dan meraihmu.

Tapi kemudian, kamu malah kembali menghilang.

Kuharap kau ada, disampingku saat ini

Sudah cukup.

Kupikir ini sudah saatnya aku menghapuskan memori tentang dirimu. Me-reset kembali definisi yang sudah aku buat sendiri. Mengapuskan semua pembenaran-pembenaran, meski sebenarnya itu semua keliru. Menahan perasaan ingin memiliki yang sudah terlanjur sampai di persimpangan jalan buntu. Semuanya sudah kembali tertutup oleh dinding-dinding yang kau buat. Kau yang memutuskan untuk menjauhkanku sejauh-jauhnya. Menjauhkanku sejauh-jauhnya dalam jarak yang aku sendiri tak pernah bisa membayangkan apakah suatu saat aku bisa kembali menelusuri itu.

Kupikir, aku sudah cukup.

Cukup lelah, terus-menerus mengubah jalan cerita yang hampir di akhir, menjadi sebuah awal yang baru. Meski kini, kau memutuskan untuk menjadikan ceritamu sendiri, lebih bahagia dari yang kamu inginkan.

Aku sudah menerimanya. Bahwa aku memang belum siap untuk menggenggamu sepenuhnya. Tidak sesiap dirinya yang kini kau pilih.

Kini aku harus berjuang menghapus satu-satu. Meski sejatinya, aku terlanjur menginginkan dirimu.

Dan aku tak bisa bertanya lebih jauh lagi.

 

di adopsi dari lagu Rio Febrian – Kuharap Kau Ada
Advertisements

Kita yang Belum Bertemu

Standard

Awan berkerumul dalam satu titik. Saat matahari hampir tiba, mereka sudah siap menyambut di sisi-sisi bukit. Langit saat itu masih berwarna jingga dengan sedikit oranye, debur ombak masih mendorong-dorong pasir menuju tepi. Dua kelomang sudah terbangun mencari rumah yang baru, karena rumah lama mereka sudah terasa sangat sempit. Elang laut kembali, menuju laut untuk mencari rezeki yang baru. Terbang menuju ujung laut yang bundar, menyisakan siluet dengan guratan sayap yang sangat tajam dan berani.

Kemudian hilang.

Suara ombak masih menggerus, berdebur nyaman, dengan angin laut yang meniupkan dahan-dahan kelapa. Pasir sudah tak lagi sama, ada bekas injakan telapak kaki kiri, beberapa sentimeter di depan, kaki kanan, begitu seterusnya sampai satu kilometer jauhnya.

“Mungkin, kalau aku hanyutkan pagi ini, dia akan lebih cepat tiba.”

Ombak kembali menyapu, kali ini bekas telapak kaki itu juga hilang. Pasirnya tidak putih, tapi berwarna sedikit merah muda. Butirnya sangat halus, bahkan lebih halus dari garam dapur merk terbaik sekalipun. Matahari akhirnya tiba.

Sebuah botol, berisi kertas kecoklatan yang digulung dengan pita merah. Ditutup dengan tutup dari gabus. Laki-laki itu meletakkan botol diatas air yang masih mendorong-dorong menuju tepi. Buih-buih berkerumul diatas pasir, kemudian menghilang bagai terserap ke dalamnya. Suara deru masih terdengar. Tidak ada suara lain, selain suara ombak dan angin.

Botol itu terombang-ambing, semakin menjauh diatas ombak yang menggulung tipis-tipis. Matahari mulai naik, menyinari sisi kaca dan terbiaskan, membuat botol bening itu menerawang garis laut yang tidak lurus. Bergulung, terus bergulung. Kemudian menjauh hingga tidak terlihat lagi.

Laki-laki itu masih tetap tenang di pinggir pantai, menanti kosong. Matanya menerawang ke ujung lautan yang mungkin tidak berujung. Menunggu, membuat cahaya matahari mewarnai kulitnya menjadi sedikit keemasan. Dia menyipit, mencoba tetap menyaksikan, kemana botol itu pergi. Kemana lautan membawanya.

“Sudah kau hanyutkan lagi?” Tanya seorang pria tua yang berjalan tergopoh-gopoh menarik satu dahan kelapa yang kering.

Laki-laki itu berbalik dan menatap, kemudian mengangguk. “Aku yakin, kali ini pasti sampai.”

“Kemana?”

Dia bergeming. Suara deru ombak masih mengalun. “Entahlah…”

Pria tua itu menatap sabar, “..kemana saja, aku yakin dia akan menerimanya.”

Continue reading

Berdamai dengan Hujan

Standard

“Itu terlalu naif menurutku..” Ucapnya bergurau, kemudian dia kembali menatap lurus ke depan, kearah hamparan padi-padi yang membentang hijau. Sungai besar menanti di ujungnya. Tebing-tebing batu membingkai cakrawala. Diatas, jalur kereta api tua yang menghubungkan Purwokerto – Cilacap masih setia menjadi penghubung perjalanan.

Aku menghela napas, “Setidaknya, kita harus bisa merencanakan segala hal sejak awal, bukan?” Sejenak mencoba membiarkan angin sejuk sore hari, membuat kami berdua terduduk diatas batu, ditepi barisan padi.

Kerudung merah muda panjang itu melambai tertiup angin. “Aku bersyukur..” Ucapnya perlahan, dia menunduk sunyi. Aku memerhatikan. Continue reading