Mimpi-Mimpi Yang Sama

Standard

Gerimis mengguyur, rintik-rintik kecil saja saat aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, sejak sore tadi aku menghabiskan waktu di pinggir pantai, duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu, mengobrol dengan beberapa kerabat kerja yang baru saja kenal saat bertemu di Sorong. Kami banyak berdiskusi mengenai dunia konservasi, yang pada kenyataannya begitu sempit. Mas Wawan sempat mengenal dua sahabat baikku, Barkah dan Rido yang kebetulan tahun lalu mengikuti kegiatan monitoring di Teluk Cendrawasih, sehingga kami lebih benyak berdiskusi mengenai mereka berdua, lebih tepatnya bergosip tapi “tidak jahat”.

Aku jadi lebih banyak mengenal juga sisi lain pekerjaan di dunia nirlaba, atau organisasi non pemerintah. Banyak hal yang belum diketahui mengenai naik turunnya bekerja di organisasi konservasi semacam ini. Yang paling aku tahu adalah sistem penjaringan tenaga kerja, yang cenderung mengandalkan network internal, atau jaringan-jaringan alumni dari almamater mereka sendiri, sehingga banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan di bidang semacam ini. Bagiku sendiri, itu memang hal yang sudah lumrah diketahui, terutama untuk Universitas kecil seperti almamaterku sekarang. Di angkatanku, baru aku dan Denis yang akhirnya berhasil memulai karir di dunia organisasi konservasi. Sisanya, meski keinginan untuk melanjutkan linear dengan latar belakang pendidikan, tapi sulit untuk mulai masuk dan menjadi bagian dari lingkaran.

Itu yang banyak kami diskusikan, aku dan Mas Wawan, di pinggir pantai Arborek, sambil menunggu langit menggelap karena matahari terbenam, dan listrik mulai menyala pukul 6 sore. Realitanya, ada ribuan mahasiswa kelautan di seluruh Indonesia, namun bukaan untuk pekerjaan hanya tersedia satu atau dua di organisasi. Meskipun, katakan saja kompetensi lulusan cenderung sama, sistem network internal inilah yang membuat banyak orang kemudian kesulitan untuk mendapatkan akses informasi pekerjaan tersebut. Aku dan Denis, termasuk yang beruntung, akhirnya kami bisa menjadi bagian dalam lingkaran tersebut.

Continue reading

Advertisements

Anak-anak Sekolah Minggu

Standard

“Perhatian kepada adik-adik yang masih ada dirumah, harap segera berkumpul ke dekat pantai, karena acara sudah akan dimulai.” Ucap seorang laki-laki melalui pengeras suara, panitia perayaan Hari Anak Sedunia.

Sore itu, pukul 4, anak-anak berlarian mengenakan pakaian ibadah, membawa Injil Perjanjian Baru dan berbaris di lapangan voli yang biasa digunakan bermain saat sore hari. Termasuk Ibet yang baru saja keluar dari kamar dan mengganti pakaian dengan kemeja baru. Hari itu bertepatan dengan peringatan “Hari Anak Sedunia” oleh UNICEF, dan gereja di Arborek ikut merayakan bersama dengan anak-anak sekolah minggu.

Satu grup pemain suling tambur sudah ribut sejak sejam lalu dan berlatih, acara hari itu akan diisi dengan march keliling kampung, sambil menyanyikan lagu-lagu buatan gereja. Acara semakin ramai saat anak-anak mulai semua berkumpul. Para orang tua dianjurkan untuk ikut menemani dan menjaga di belakang.

“Shhhh.. Niko! Kau baris sudah!”

“E ko, jangan ribut saja dibelakang!” tegur orang tua yang anak-anaknya masih sangat senang bercanda di barisan belakang.

Menjelang sore, air laut di pinggir pantai Arborek mulai turun, angin bertiup sepoi menciptakan riak-riak gelombang kecil yang menggoyangkan kapal kayu biru yang biasa digunakan orang-orang untuk mengantar tamu dan juga untuk berbelanja ke pasar di Waisai. Suara ceramah seorang Pendeta gereja secara serius di dengarkan oleh anak-anak.

Continue reading

Modern itu Tidak Selalu Keren

Standard

Lebaran di Waisai memang benar-benar berbeda. Saat takbiran malam lalu aku merasakan sesuatu yang benar-benar berbeda. Kekosongan yang benar-benar kosong. Aku bukannya tidak ingin bertakbir, tapi suara takbir yang menggema dari masjid agung mengingatkanku akan lebaran di tahun-tahun lalu. Ini benar-benar pertama kalinya mengalami lebaran jauh dari rumah, biasanya setiap malam aku biasa mencium bau bunga-bunga yang dirangkai Umi di ruang tengah.

Bau sprei baru, atau pengharum ruangan yang aromanya berganti dan menyemprot setiap 30 menit sekali. Ayah biasa diluar, mencuci mobil. Kemudian saat kakak belum menikah dia biasa membantu Umi mengepel, dan aku biasa membantu mengganti taplak-taplak meja. Biasanya dari rumah terdengar suara takbir dari masjid Al-Fattah, anak-anak kampung Serpong biasa ada disana, bahkan dulu aku terbiasa mengisi takbir melalui toa masjid. Tahun-tahun kemudian berubah, ada saatnya kami selalu pergi keluar di malam takbiran, pergi ke Tangerang, adalah kegiatan rutin yang selalu kami lakukan, berbelanja di sabar subur, kata Umi pasar swalayan itu masih ada.

Banyak barang yang biasa dibeli, radio, tv dan barang elektronik apapun yang ada dirumah dahulu berasal dari sana, tapi semuanya sudah berganti dengan yang lebih baru. Kami tidak perlu repot-repot lagi jauh macet ke Tangerang kota, dekat rumah ada 5 mall baru yang besar-besar dan barangnya lebih canggih, lebih modern. Perlahan-lahan, kami mulai kehilangan kegiatan rutin menjelang ramadan, makan laksa bersama diluar, takbiran keliling, banyak hal yang berubah.

Continue reading

Tiga Lapis Pelangi

Standard

Sudah memasuki hari terakhir, bulan Ramadan. Lusa sudah Idul Fitri. Sudah lebih genap sebulan juga aku menjalani petualangan di lautan Raja Ampat. Sudah sangat banyak hal yang terjadi belakangan ini. Saat terakhir aku meng-update kegiatanku di sini, banyak orang kemudian bertanya apakah aku tidak pulang saat lebaran. Atau bertanya, mengapa aku memutuskan untuk tidak pulang akhirnya. Pertanyaan yang rumit, aku sampai tidak mengetahui bagaimana cara menjawabnya. Pun, sejujurnya aku tidak memiliki alasan pasti mengapa aku memutuskan untuk tinggal.

Hari Jum’at terakhir di bulan Ramadan. Aku sedikit menyesal karena tidak bisa memaksimalkan ibadah di hari jumat terakhir ini karena harus kembali ke Waisai untuk merayakan lebaran disana, kemudian menuju Arborek dan tinggal untuk beberapa hari bersama keluarga Abang Ronald. Saat perjalanan dengan boat kemarin, kami memutuskan untuk pergi saat sore hari. Laut mulai teduh, karena sejak pagi tadi angin kencang dan hujan terus menerus. Hujan baru saja reda pukul 2 siang, dan matahari baru memutuskan untuk muncul.

Usai memindahkan semua barang-barang menuju boat este, akhirnya kami meninggalkan Waisai menuju Sorong karena Abang harus mengembalikan semua barang-barang milik CI di akhir masa fiskal. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di hotel selama 2 hari, meski aku sempatkan untuk melaksanakan tarawih di Masjid Agung Al Akbar, Sorong. Masjid yang megah, bahkan menjelang hari terakhir, shaf penuh sampai dengan ubin paling terakhir di tempat laki-laki.

Continue reading

Perpisahan yang Menyenangkan

Standard

“So maybe tomorrow we will try to explore eagle rock until the afternoon, and we can see if the weather is good enough then we can head directly to Wayag.” Ucap Pak Mark di meja makan. Kami baru saja berlayar kembali, meninggalkan pelabuhan Sorong. Lusa lalu kami berpisah dengan Shawn dan John dari kapal Si Datu Bua. Setelah para donor kembali ke rumah mereka masing-masing melalui penerbangan siang ini.

Ada cerita yang lucu sekaligus membuatku canggung saat perpisahan kami dengan Shawn dan John. Hari sebelumnya, kami melakukan survey pari manta di sekitar pulau Andau, bagian timur dari Pulau Mioskor, menggunakan rubber boat milik Si Datu Bua. Tepatnya, hari itu adalah hari pertamaku mendapatkan training menngambil foto ID manta menggunakan GoPro yang baru saja diberikan Sarah untukku berlatih. Continue reading

Tarian Keakraban di Pulau Mioskor

Standard

Setelah semalaman kami berlayar di lautan Raja Ampat. Pagi menyambut dengan sedikit gerimis. Pagi itu kami dilayani dengan sangat baik oleh crew-crew  Si Datu Bua yang sangat ramah. Kemarin sore kami disambut dengan nyanyian daerah, dan berkenalan satu sama lain. Beberapa dari mereka ada yang berasal dari Jawa, meski kebanyakan berasal dari Bali.

Malam hari, Sarah dan Mas Edy datang dengan speedboat kecil dari kapal Puti Raja, bersama dengan Pak Mark. Pak Mark kembali ke kapal Puti Raja, karena harus bersama dengan para donor CI untuk proyek konservasi di Raja Ampat. Karena itu juga, Sarah dan Mas Edy bergabung dengan kami di kapal Si Datu Bua.

Nasi goreng, toast dan buah-buahan serta jus jeruk menjadi menu sarapan kami. Usai menghabiskan sarapan kami pagi itu, salah seorang dari Conservation International, mbak Meity tiba dengan speedboat “Yaswal” salah satu boat kebanggaan CI di Papua. Mbak Meity tiba dan menjelaskan mengenai mekanisme upacara adat yang akan dilaksanakan pada hari itu. Continue reading