Mimpi-Mimpi Yang Sama

Standard

Gerimis mengguyur, rintik-rintik kecil saja saat aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, sejak sore tadi aku menghabiskan waktu di pinggir pantai, duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu, mengobrol dengan beberapa kerabat kerja yang baru saja kenal saat bertemu di Sorong. Kami banyak berdiskusi mengenai dunia konservasi, yang pada kenyataannya begitu sempit. Mas Wawan sempat mengenal dua sahabat baikku, Barkah dan Rido yang kebetulan tahun lalu mengikuti kegiatan monitoring di Teluk Cendrawasih, sehingga kami lebih benyak berdiskusi mengenai mereka berdua, lebih tepatnya bergosip tapi “tidak jahat”.

Aku jadi lebih banyak mengenal juga sisi lain pekerjaan di dunia nirlaba, atau organisasi non pemerintah. Banyak hal yang belum diketahui mengenai naik turunnya bekerja di organisasi konservasi semacam ini. Yang paling aku tahu adalah sistem penjaringan tenaga kerja, yang cenderung mengandalkan network internal, atau jaringan-jaringan alumni dari almamater mereka sendiri, sehingga banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan di bidang semacam ini. Bagiku sendiri, itu memang hal yang sudah lumrah diketahui, terutama untuk Universitas kecil seperti almamaterku sekarang. Di angkatanku, baru aku dan Denis yang akhirnya berhasil memulai karir di dunia organisasi konservasi. Sisanya, meski keinginan untuk melanjutkan linear dengan latar belakang pendidikan, tapi sulit untuk mulai masuk dan menjadi bagian dari lingkaran.

Itu yang banyak kami diskusikan, aku dan Mas Wawan, di pinggir pantai Arborek, sambil menunggu langit menggelap karena matahari terbenam, dan listrik mulai menyala pukul 6 sore. Realitanya, ada ribuan mahasiswa kelautan di seluruh Indonesia, namun bukaan untuk pekerjaan hanya tersedia satu atau dua di organisasi. Meskipun, katakan saja kompetensi lulusan cenderung sama, sistem network internal inilah yang membuat banyak orang kemudian kesulitan untuk mendapatkan akses informasi pekerjaan tersebut. Aku dan Denis, termasuk yang beruntung, akhirnya kami bisa menjadi bagian dalam lingkaran tersebut.

Continue reading

Advertisements

Aku Tidak Ingin Tertidur

Standard

17 Desember 2016

Sudah 4 hari.

Benarkah? Sudah secepat itu waktu berlalu sejak 13 desember lalu. Lagi-lagi aku terbangun dengan perasaan kesepian yang terus menusuk-nusuk. Perasaan aneh yang tidak pernah bisa di deskripsikan. Baru saja aku berhasil di wisuda, mengenakan toga, seperti banyak cerita-cerita novel yang kubaca saat masih SMA dahulu. Sejatinya, tidak ada perasaan yang terlalu spesial dalam momen itu. Tidak, aku berbohong.

Continue reading

Ajari Aku Menjadi Dewasa

Standard

Kemarin aku baru saja tiba dirumah, usai 5 jam perjalanan dari Purwokerto-Jakarta bersama dengan tas carrier merah besar berisi baju-baju. Disambut oleh ayah yang mengenakan mantel hijau tipis dari plastik seharaga 5 ribuan, sabar menunggu di ujung stasiun yang sepi karena hujan kian menderas. Setelah menyambung perjalanan dari stasiun Jatinegara akhirnya sampai juga di stasiun serpong.

Saat aku tiba berjalan menghindari cipratan hujan yang kian menderas, ayah masih sempat mengelap jok motor dengan kanebo, berusaha membuatnya kering saat aku duduk. Benar-benar momen yang aneh. Continue reading