Kita yang Belum Bertemu

Awan berkerumul dalam satu titik. Saat matahari hampir tiba, mereka sudah siap menyambut di sisi-sisi bukit. Langit saat itu masih berwarna jingga dengan sedikit oranye, debur ombak masih mendorong-dorong pasir menuju tepi. Dua kelomang sudah terbangun mencari rumah yang baru, karena rumah lama mereka sudah terasa sangat sempit. Elang laut kembali, menuju laut untuk mencari … Continue reading Kita yang Belum Bertemu

Advertisements

Aku Tidak Ingin Tertidur

17 Desember 2016 Sudah 4 hari. Benarkah? Sudah secepat itu waktu berlalu sejak 13 desember lalu. Lagi-lagi aku terbangun dengan perasaan kesepian yang terus menusuk-nusuk. Perasaan aneh yang tidak pernah bisa di deskripsikan. Baru saja aku berhasil di wisuda, mengenakan toga, seperti banyak cerita-cerita novel yang kubaca saat masih SMA dahulu. Sejatinya, tidak ada perasaan … Continue reading Aku Tidak Ingin Tertidur

Di lorong Rumah Sakit

Clup. Clup. Suara tetes air infus menetes. Terdengar jernih di telinga mengalahkan desah napas lelah yang hampir tidak terdengar. Ruangan redup, lampu tak mampu mengalahkan gulita yang kuat. Angin dingin menelusup, menggelitik melalui celah-celah kecil ventilasi. Menjalar menuju tubuhku yang tak terbalut jaket. Aku terduduk, menopang dagu dengan kedua siku. Menunggu dengan tenang disamping sosok … Continue reading Di lorong Rumah Sakit

Cerpen: Sepuluh

Pssttt....!!! "Kau dengar itu?" Neymar berkata pelan, menahan napas dan menatap kedua wajah temannya yang penuh dengan peluh. Hening. Tiba-tiba saja seisi hutan menjadi hening setelah bocah 7 tahun itu ber-ssttt pelan. Kedua bocah lainnya tampak bingung, menggeleng. Mereka cuma memperhatikan bocah didepannya itu dengan tatapan penuh dengan tanda tanya. Bocah paling berani itu melangkahkan … Continue reading Cerpen: Sepuluh

Umi dan Farhan: Di Persimpangan Jalan

Kami berdua berpisah di persimpangan jalan, Anastasia memutuskan untuk menaiki taksi menuju dorm, dia akan mengunjungi Emily dan sepertinya, dia akan memarahi Emily karena chat nya sore tadi. Entahlah. "Senang berbicara denganmu." Ucapnya sebelum pergi, dia tersenyum dengan bibir tipis merahnya. Wajahnya masih merona meski tak terkena cahaya jingga. Yah, meski masih tersisa sedikit matahari … Continue reading Umi dan Farhan: Di Persimpangan Jalan

Umi dan Farhan: Terbang

"Aku akan memikirkannya," Anastasia berkata kemudian, dia tampak menimbang-nimbang. Kami berdua terdiam sejenak. Langit semakin menguning, barisan burung walet terlihat di balik jendela Cafe. Banyak dari orang-orang kantoran yang sudah pulang di hari kerja, berbondong-bondong menenteng tas mereka, mengejar waktu untuk bertemu dengan keluarga. "Farhan," suara Anastasia melesat bagai embun, sejuk dan lembut ditelinga. Di … Continue reading Umi dan Farhan: Terbang

Umi dan Farhan: Anastasia

"Maaf sekali tadi aku terlambat, aku benar-benar lupa kalau kita ada meeting hari ini.." Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal, berharap Anastasia tidak marah. Tapi, dia memang tidak marah, saat aku menatapnya, dengan ringan dia tersenyum, matanya menutup, rambut lurusnya terurai lemah ke bahunya. "Tidak apa-apa." Ucapnya, "beruntung yang lain tadi sibuk membaca beberapa buku … Continue reading Umi dan Farhan: Anastasia