Bulan yang Berteman di Waisai

Standard

Dua hari lalu aku berhasil tiba di waisai. Saat itu belum memasuki bulan Ramadan, meski sejatinya aku selalu kebingungan dan was-was apakah hari itu sudah masuk puasa atau belum karena aku tidak benar-benar mengikuti pemberitaan tersebut di tv. Saat terbangun subuh hari, aku selalu kehausan dan mencari air di botol, dan yang aku takutkan tanpa sengaja aku lupa minum di bulan puasa.

Hari itu panas di Sorong, aku dan mbak Meidy, salah satu staff kantor tempatku bekerja mengantarku ke pelabuhan Ferry Sorong untuk memesan tiket disana. Perjalanan Sorong-Waisai ditempuh dengan Ferry selama 2 jam. Banyak kalangan yang menggunakan ferry¬†ini. Ukurannya¬†cukup besar, yang bisa menampung ratusan orang beserta motor dan barang–barangnya beratus-ratus kilogram.

Continue reading

Advertisements

Membersihkan Kenangan

Standard

Hujan turun lagi.

Awalnya hanya rintik, kemudian menderas membasahi jalan kecil di kaki gunung slamet. Seketika jalanan sepi karena pengendara motor memutuskan untuk berteduh beberapa waktu.

Tanah basah. Dedaunan juga.

Menyibakkan aroma yang selalu kusuka saat hujan turun. Untunglah jemuranku siang ini bisa kering, meski baru saja kujemur beberapa jam lepas adzan dhuhur tadi. Continue reading