Mimpi-Mimpi Yang Sama

Standard

Gerimis mengguyur, rintik-rintik kecil saja saat aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, sejak sore tadi aku menghabiskan waktu di pinggir pantai, duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu, mengobrol dengan beberapa kerabat kerja yang baru saja kenal saat bertemu di Sorong. Kami banyak berdiskusi mengenai dunia konservasi, yang pada kenyataannya begitu sempit. Mas Wawan sempat mengenal dua sahabat baikku, Barkah dan Rido yang kebetulan tahun lalu mengikuti kegiatan monitoring di Teluk Cendrawasih, sehingga kami lebih benyak berdiskusi mengenai mereka berdua, lebih tepatnya bergosip tapi “tidak jahat”.

Aku jadi lebih banyak mengenal juga sisi lain pekerjaan di dunia nirlaba, atau organisasi non pemerintah. Banyak hal yang belum diketahui mengenai naik turunnya bekerja di organisasi konservasi semacam ini. Yang paling aku tahu adalah sistem penjaringan tenaga kerja, yang cenderung mengandalkan network internal, atau jaringan-jaringan alumni dari almamater mereka sendiri, sehingga banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan di bidang semacam ini. Bagiku sendiri, itu memang hal yang sudah lumrah diketahui, terutama untuk Universitas kecil seperti almamaterku sekarang. Di angkatanku, baru aku dan Denis yang akhirnya berhasil memulai karir di dunia organisasi konservasi. Sisanya, meski keinginan untuk melanjutkan linear dengan latar belakang pendidikan, tapi sulit untuk mulai masuk dan menjadi bagian dari lingkaran.

Itu yang banyak kami diskusikan, aku dan Mas Wawan, di pinggir pantai Arborek, sambil menunggu langit menggelap karena matahari terbenam, dan listrik mulai menyala pukul 6 sore. Realitanya, ada ribuan mahasiswa kelautan di seluruh Indonesia, namun bukaan untuk pekerjaan hanya tersedia satu atau dua di organisasi. Meskipun, katakan saja kompetensi lulusan cenderung sama, sistem network internal inilah yang membuat banyak orang kemudian kesulitan untuk mendapatkan akses informasi pekerjaan tersebut. Aku dan Denis, termasuk yang beruntung, akhirnya kami bisa menjadi bagian dalam lingkaran tersebut.

Continue reading

Cerpen: Sepuluh

Standard

Pssttt….!!! “Kau dengar itu?” Neymar berkata pelan, menahan napas dan menatap kedua wajah temannya yang penuh dengan peluh. Hening. Tiba-tiba saja seisi hutan menjadi hening setelah bocah 7 tahun itu ber-ssttt pelan.

Kedua bocah lainnya tampak bingung, menggeleng. Mereka cuma memperhatikan bocah didepannya itu dengan tatapan penuh dengan tanda tanya. Bocah paling berani itu melangkahkan kakinya yang tanpa alas itu, perlahan menyusur lumpur-lumpur bau yang tertanam pucuk-pucuk bakau. Suara “blub” terdengar seiring dengan langkah kakinya yang kecil. Gelembung keluar dari bekas pijakannya, tampaknya itu kepiting bakau yang sedang bersembunyi. Continue reading