The Longest Ride (2015): Quotes

Standard

“I fall in love with you the first time I saw you, you just the most beautiful girl I have ever met. Somehow, I don’t know somehow you chose me. Then how I loved you then, nothing’s compare how I loved you now. I love you with everything inside of me. I think you should go. I just want you to be happy. Even if that’s happy is no longer includes me.” – Ira Levinson

Memilih Untuk Sendiri

Standard

Semalam saat duduk di pinggir kasur, masih terdengar suara tawa program tv favorit ayah. Aku masih termenung memikirkan apakah benar malam itu malam yang terakhir untuk berada di rumah, setidaknya. untuk pergi dalam waktu yang lama. Bukan yang pertama kali, pergi saat menjelang Ramadhan. Aku ingat saat tahun 2014 ketika Kakak ingin bertunangan dan aku malah lari untuk menyelesaikan beberapa urusan. Umi marah besar sampai membuatku lari bagai malin kundang yang tidak mengakui Ibunya.

Malam tadi Umi tampak murung, duduk menatap kosong, sesekali bertanya; “Semua barang sudah disiapkan? Ada yang ketinggalan gak?”

Aku hanya ber-hmm hmm, pelan, memastikan bahwa memang tidak ada yang tertinggal. Aku tidak tahu apa perasaan Umi malam itu, apalagi saat aku bilang, lebaran tahun ini aku tidak akan berada di rumah. Kecewa, pasti. Apalagi mendengar aku pergi jauh hanya demi gaji yang tidak seberapa.

Continue reading

Tanah Merah dan Ilalang Masa Lalu

Standard

“Awas jangan naik keatas tembok!”

“Nanti kamu jatuh!”

“Hey, anak bandel!”

“Aduh!”

“Aaaaahhhh….!!!”

“Bibi Halim! Alif jatuh!”

Aku tidak bisa ingat apapun, saat terbangun kepalaku sudah diperban. Umi bilang, sejak beberapa jam lalu aku terus menjerit karena kesakitan kena jarum jahit. Usai dibawa ke puskesmas sore tadi.

“Kan sudah dibilang, jangan naik-naik tembok kalau sudah maghrib!” Geram umi, aku tahu Umi khawatir sejak tadi. Aku hanya diam, mengulum bibir. Melihat guci tua berlukis burung cendrawasih yang usianya hampir seusia denganku, 9 tahun. Lelah, yang kuingat terakhir kali Aldo berteriak-teriak dengan Sami, melempariku dengan kerikil-kerikil kecil, mengingatkanku untuk turun dari pagar tinggi yang membelah desa dengan kompleks perumahan yang baru dibangun.

Jalanan batu kasar itu membuatku mendapat jahitan di kepala. Umi bilang darah yang keluar cukup banyak, akupun, mencium bau anyir darah itu, bahkan rasa nyut-nyutan nya masih sangat terasa di bagian ubun-ubun dan keningku.

Continue reading

Tarian Cahaya di Lautan Wayag

Standard

Setelah lebih dari semalaman, akhirnya fajar menyambut di ufuk timur laut Raja Ampat. Kami berada di tengah-tengah gugusan pulau Karst di Kepulauan Wayag, Raja Ampat bagian utara. Semenjak berpindah kapal ke Puti Raja, aku jadi sering mual dan muntah-muntah. Entahlah, mungkin karena di kapal Puti Raja, gelombang laut yang sedang buruk jadi begitu terasa, sejak tidur semalam, aku merasa terguncang-guncang dan pusing saat bangun tidur.

Bahkan, sejak tadi pagi aku sangat tidak bernafsu makan. Pak Mark, Sarah dan Mas Edy mungkin tidak menyadari. Tapi lepas sarapan, aku langsung berlari ke kamar dan muntah-muntah karena pusing. Payah sekali. Continue reading

Perpisahan yang Menyenangkan

Standard

“So maybe tomorrow we will try to explore eagle rock until the afternoon, and we can see if the weather is good enough then we can head directly to Wayag.” Ucap Pak Mark di meja makan. Kami baru saja berlayar kembali, meninggalkan pelabuhan Sorong. Lusa lalu kami berpisah dengan Shawn dan John dari kapal Si Datu Bua. Setelah para donor kembali ke rumah mereka masing-masing melalui penerbangan siang ini.

Ada cerita yang lucu sekaligus membuatku canggung saat perpisahan kami dengan Shawn dan John. Hari sebelumnya, kami melakukan survey pari manta di sekitar pulau Andau, bagian timur dari Pulau Mioskor, menggunakan rubber boat milik Si Datu Bua. Tepatnya, hari itu adalah hari pertamaku mendapatkan training menngambil foto ID manta menggunakan GoPro yang baru saja diberikan Sarah untukku berlatih. Continue reading

Tarian Keakraban di Pulau Mioskor

Standard

Setelah semalaman kami berlayar di lautan Raja Ampat. Pagi menyambut dengan sedikit gerimis. Pagi itu kami dilayani dengan sangat baik oleh crew-crew  Si Datu Bua yang sangat ramah. Kemarin sore kami disambut dengan nyanyian daerah, dan berkenalan satu sama lain. Beberapa dari mereka ada yang berasal dari Jawa, meski kebanyakan berasal dari Bali.

Malam hari, Sarah dan Mas Edy datang dengan speedboat kecil dari kapal Puti Raja, bersama dengan Pak Mark. Pak Mark kembali ke kapal Puti Raja, karena harus bersama dengan para donor CI untuk proyek konservasi di Raja Ampat. Karena itu juga, Sarah dan Mas Edy bergabung dengan kami di kapal Si Datu Bua.

Nasi goreng, toast dan buah-buahan serta jus jeruk menjadi menu sarapan kami. Usai menghabiskan sarapan kami pagi itu, salah seorang dari Conservation International, mbak Meity tiba dengan speedboat¬†“Yaswal” salah satu boat kebanggaan CI di Papua. Mbak Meity tiba dan menjelaskan mengenai mekanisme upacara adat yang akan dilaksanakan pada hari itu. Continue reading

Petualangan Baru di Laut Raja Ampat

Standard

15 Februari 2017. Pagi hari kemarin Sarah sempat menelponku dan memberikan kabar bahwa tiket pesawatku baru saja dipesan. Dia sudah lebih dulu di Raja Ampat bersama dengan tim dari Conservation International. Sambil berbincang ringan, Sarah menjelaskan kegiatan yang akan aku lakukan selama di Raja Ampat nanti, dan memberikan gambaran singkat akan keadaan di lapangan.

Awalnya, dia menjelaskan bahwa kami akan berada di kapal liveaboard selama satu minggu, dan menghabiskan waktu di Arborek di 2 hari pertama dan bertemu dengan beberapa NGO yang ber-partner dengan Manta Trust untuk memberikan data populasi pari manta di Raja Ampat. Kemudian dia memberitahu bahwa aku akan satu pesawat dengan Shawn dan John, dua sinematografer konservasi yang sangat aku kagumi karena film dokumenter nya yang berjudul “Racing Extinction“, siapa yang tidak girang? Continue reading