Aku Takut Jika Aku Tidak Kunjung Baik

Standard

“Saat hidup hanya berharap ridho-Nya. Saat itu diri merdeka dan hanya berfokus untuk bermuamalah kepada-Nya.”

Sore kemarin saat melihat pesan itu dari salah satu teman. Aku jadi terpikir mengenai hal-hal yang terus membuatku berpaling dari pada Allah.

“Bagaimana ya caranya supaya tetap ingat?”

“Mungkin dengan menjaga sunnah, insyaa Allah bisa tetap ingat.”

Iya, mungkin aku sudah semakin lupa mengamalkan sunnah, sehingga orientasi yang terbentuk dalam hati, semua menjadi lebih banyak dunia. Entah bagaimana ceritanya sekarang, aku jadi semakin sulit meraih sunnah-sunnah di depan mata. Mungkin karena sudah terlalu sering berpindah tempat, membuatku menjadi musafir berkepanjangan.

Saat awal kali menginjakkan kaki di Tanah Papua, aku sempat bercerita dengan Ustadz, bagaimana caranya supaya sholatku tidak berantakan. Aku sempat berdalih, melakukan sholat jama’ karena beberapa kali berpindah pulau dalam rentang waktu beberapa hari. Jaraknya hampir sama jauhnya dengan darat, meski waktu sholat masih ada, aku jadi lebih memilih melaksanakan jama’ karena sudah terlanjur kelelahan dan jatuh tertidur.

Continue reading

Advertisements

Sekeping Koin

Standard

Badan masih terasa sedikit sakit. Semalaman, kepalaku sakit dan pusing. Entah siapa yang bisa aku salahkan. Cuaca di Jakarta yang panas penuh polusi, atau hujan yang mengguyur kemarin. Atau malah diriku sendiri.

Umi tiba-tiba saja mendiamkanku, kadang Umi memang selalu marah tanpa alasan yang jelas. Setelah seminggu kemarin aku sibuk mondar-mandir Jakarta, bertemu banyak teman. “Kamu orang jauh didatangi, Ami kamu sendiri yang dekat susah banget!” begitu celetuk Umi saat aku sedang menyesap kopi sore hari menjelang maghrib. Bahkan, aku gagal bertemu dengan Ustad Andri, Ustad ku semasa kecil dulu yang baru kembali usai menunaikan Haji, untuk sekedar silaturahmi dan meminta do’a. Tampaknya itu yang berhasil membuat Umi marah besar dan mendiamkanku sejak maghrib hingga isya tadi.

Usai pulang dari masjid, aku langsung mengurung diri dalam selimut, mencoba membiarkan keringat bisa keluar. Sakit kepala yang luar biasa, dan seluruh badanku menggigil, padahal cuaca sedang panas.

Seharian kemarin Umi mengantarku ke Tanah Abang, berkeliling mencari tas dan beberapa pesanan untuk dibawa kembali ke Papua. Umi jauh lebih gesit dari aku saat menghindar sana-sini, melewati kerumunan ibu-ibu yang sibuk menawar harga. Aku malah hampir pingsan karena sesak napas, dan tidak kuat menahan udara panas yang menusuk-nusuk paru-paru. Payah.

Continue reading

Bagaimana Jika Aku Terlalu Menginginkanmu?

Standard

Kucari, tak kudapatkan dirimu

Setelah sekian lama, aku bertanya-tanya. Akan sepotong hati yang telah lama hilang itu. Kita pernah membaginya bersama, meski mungkin hanya dalam satuan menit. Kita lebih banyak membisu, tiada berkata sedikitpun. Karena kita tahu bahwa dalam kebisuan itu, adalah cara kita bisa memahami satu sama lain. Entah, atau mungkin aku yang tidak bisa memahami bagaimana caranya untuk bisa lebih mengenalmu dari itu.

Kemudian saat waktu dan jarak menjadi sesuatu yang membuatku kehilangan akan bayang-bayang itu, aku terus mencari dan bertanya-tanya ataukah benar itu memang dirimu. Aku mencoba menemukanmu dalam cerita-cerita lama yang pernah kutulis. Dalam sebuah lembar-lembar lama yang pernah aku kagumi sendiri, dan hampir tak kutemukan dirimu lagi disana.

Namamu tertulis, tapi masih ingatkah akan spasi yang sudah terlanjur membentang bagai dua samudera itu? Kau, ada dimana?

Kuhirup tak kudapatkan nafasmu

Kita begitu mungil dalam sebuah dunia yang besar. Bahkan ketika aku mencoba untuk menelusuri nafas rindu yang pernah terhirup. Aku masih tak bisa menemukan sosokmu di dalam sana. Kamu tersimpan dalam debu ingatan yang mematikan aroma. Sehingga aku kesulitan untuk bisa mengingat-ingat, bagaimana aroma rindu itu dalam ingatanku. Tolong aku, aku tak bisa mengingatnya sendirian.

Aku sudah terlanjur menyukaimu, dalam setiap sisi yang bahkan aku tidak menyadari ada pada dirimu. Semua deskripsi itu, bagai secara otomatis diterjemahkan dalam kode-kode di dalam perasaan di dalam pikiranku sendiri. Aku bagai telah menerima segala kurang yang mungkin ada padamu, sehingga aku selalu menemukan ada sisi yang selalu menawan. Aku selalu mencari-cari helaan napas yang kulewatkan, karena aku takut tidak kutemukan diriku di dalamnya.

Kemana kini dirimu berada?

Akhirnya, aku berhasil menemukanmu. Susah payah aku bisa menemukan jejak-jejak itu. Aku mencoba menelusuri, menelusuri, aku seperti memiliki waktu ekstra yang kubuat sendiri hanya untuk menemukanmu sendiri. Kemudian, aku mendapatkan skenario, petunjuk-petunjuk yang membawaku lebih dekat. Mereka bilang, kamu sudah berlari lebih jauh, dari jarak yang sudah kutempuh, sehingga aku baru menyadari bahwa aku sudah terlambat untuk bisa mengejarmu.

Bisakah kau berhenti berlari sejenak?

Bisakah kau mendengar suaraku disana, sekali lagi?

Hilangkah, atau hanya sementara?

Lalu kemudian, kamu memutuskan untuk tetap menghilang dari hidupku. Meski aku sudah berusaha untuk tetap menempatkanmu dalam spasi khusus yang paling istimewa. Kamu berada dalam loker bertuliskan kata yang selalu menjadi kata paling sakral dalam hidupku. Yang membuatku menganggapmu sebagai elemen yang paling penting dalam kehidupanku, nanti.

Lalu kemudian, kamu tetap memutuskan untuk tetap menghilang dari hidupku. Aku tak pernah paham apa alasanmu untuk tetap berlalu, berlari, menghilang. Meski aku sudah mengatakan untuk bisa tetap mengejarmu dalam pencarianku yang begitu panjang dan melelahkan. Pencarian yang aku selalu enggan untuk selalu bisa memulainya dari awal. Perasaan yang terlalu rentan untuk bisa kubagikan kepada orang lain. Itulah sebabnya aku tetap bergelantungan dalam perasaan sendirian, karena aku hanya menginginkanmu seorang diri yang bisa menemaniku dalam setiap cerita-cerita yang ingin kubuat.

Apalah artinya jika aku sudah menempatkanmu bagai roh, dalam tulisan yang selalu kubanggakan sendiri? Kamu sudah sakral, terpatri, dalam kamus besar hidupku. Aku selalu kembali membuatmu menjadi definisi yang paling benar, agar aku selalu bisa kembali menjadikanmu alasan, disetiap perjuangan dan perjalanan jauh yang kulakukan.

Tolong!

Kembalilah. Kamu tidak akan pernah paham bagaimana perasaan itu terus menghantuiku. Menghantui, dalam setiap kesepian meski bintang-bintang terlepas di langit bagai tumpahan pasir putih di lantai hitam yang pekat. Semuanya begitu jelas, sejelas perasaan rindu yang selalu kusembunyikan. Dari pesan-pesan yang selalu kucoba untuk sampaikan, untukmu.

Meski jauh, takkan pernah tergantikan

Itu tidak mungkin! 

Mereka bilang. Kamu dan aku, sejatinya tak akan bisa bersatu dalam sebuah cerita yang selalu aku inginkan. Perlahan-lahan, aku mulai menemui jalan yang mengantarkanku pada alasan-alasan mengapa kamu selalu menghindar setiap kali aku mencoba meraihmu.

Kamu, berbeda. Mereka bilang kita terlalu berbeda. Bagai minyak dan air yang tak akan pernah menjadi satu elemen.

Apa kamu menginginkannya? Kenapa begitu membingungkan? Kenapa begitu?

Apa ini jalan yang benar-benar tidak bisa dirubah? Kupikir, saat aku tumbuh dewasa, aku bisa menentukan jalan hidup yang kuinginkan. Dan aku menginginkan dirimu sebagai jalan yang aku pilih. Tapi mengapa kamu memilih orang lain untuk menjadi jalanmu?

Apakah aku terlalu buruk bagi dirimu? Atau aku yang sudah terlanjur menghamba pada perasaan yang rapuh ini? Apakah kamu memang benar-benar sudah terlanjur menyerah, sehingga kamu membentuk tembok-tembok besar itu dihadapanku? Sehingga meski kupikir, dalam sisa-sisa kelelahan yang kupunya, aku hanya tinggal sedikit melangkah dan meraihmu.

Tapi kemudian, kamu malah kembali menghilang.

Kuharap kau ada, disampingku saat ini

Sudah cukup.

Kupikir ini sudah saatnya aku menghapuskan memori tentang dirimu. Me-reset kembali definisi yang sudah aku buat sendiri. Mengapuskan semua pembenaran-pembenaran, meski sebenarnya itu semua keliru. Menahan perasaan ingin memiliki yang sudah terlanjur sampai di persimpangan jalan buntu. Semuanya sudah kembali tertutup oleh dinding-dinding yang kau buat. Kau yang memutuskan untuk menjauhkanku sejauh-jauhnya. Menjauhkanku sejauh-jauhnya dalam jarak yang aku sendiri tak pernah bisa membayangkan apakah suatu saat aku bisa kembali menelusuri itu.

Kupikir, aku sudah cukup.

Cukup lelah, terus-menerus mengubah jalan cerita yang hampir di akhir, menjadi sebuah awal yang baru. Meski kini, kau memutuskan untuk menjadikan ceritamu sendiri, lebih bahagia dari yang kamu inginkan.

Aku sudah menerimanya. Bahwa aku memang belum siap untuk menggenggamu sepenuhnya. Tidak sesiap dirinya yang kini kau pilih.

Kini aku harus berjuang menghapus satu-satu. Meski sejatinya, aku terlanjur menginginkan dirimu.

Dan aku tak bisa bertanya lebih jauh lagi.

 

di adopsi dari lagu Rio Febrian – Kuharap Kau Ada

Hai, Teman. Cepat Sukses Ya, Cepat Menjemput Jalan Hidup Masing-Masing

Standard

Barusan semalam, mendengar kabar bahwa salah satu kawan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa kuliah Master di salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Beasiswa prestisius yang diinginkan oleh banyak orang. Aku sudah lama tidak melihat wajah kawanku itu lagi. Jamal namanya. Setelah terakhir wisuda desember 2016 kemarin, hanya selang seminggu aku akhirnya resmi pergi dari Purwokerto. Jamal sempat hadir dan mengucapkan selamat, saat itu penelitiannya masih berjalan, dia memang agak sedikit terlambat lulus.

Semester 4 dulu dia sempat cuti karena mengikuti ekspedisi ke salah satu wilayah kepulauan di Indonesia, sehingga kuliahnya sempat tertunda selama satu tahun. Itu masih alasan wajar kalau Jamal jadi terlambat lulus. Tapi meski begitu, IPK nya adalah IPK terbesar dibanding anak-anak satu jurusan, bahkan mungkin satu angkatan di Fakultas. Aku mengenal sosok Jamal sebagai sosok yang sangat telaten dan rajin sewaktu kuliah, sedikit perfeksionis juga kalau dalam masalah akademik. Saat sering berdiskusi soal kuliah, Jamal sering menjadi pelurus dalam setiap ke-sotoy-anku selama kuliah, karena setiap diskusi aku lebih sering asal sebut, jarang membaca jadi sok tahu.

Wajar, sewaktu kuliah aku memang jarang serius, karena hampir semua mata kuliah tidak ada yang aku suka. Dosennya juga, jadi aku sedikit kurang hormat saat kuliah, hehe.

Continue reading

Tolong Pergi Sebentar Saja

Standard

Nyatanya, hal tersulit saat ini, adalah ketika aku kembali mengingatmu untuk yang kesekian kalinya. Meski sudah begitu lama kita tidak berbicara satu sama lain. Apakah kamu mengerti bagaimana perasaan rindu itu yang selalu saja datang menyerbu. Kupikir, dengan sering berada di luar dan menyibukkan diri, aku bisa lebih sedikit menikmati banyak waktu sendiri. Tapi senja selalu datang berbeda, meniupkan angin sore yang dinginnya, selalu saja berbeda.

Terkadang, di dermaga, saat aku menyaksikan garis yang membelah lautan dan langit semakin menghilang karena matahari sudah tenggelam, aku akan bisa kembali tenang. Tenang dengan diriku sendiri, memaafkan diriku sendiri atas hal-hal yang sudah lewat. Mengapa aku masih terus-menerus menyesalinya?

Kalau aku bisa meminta, aku hanya ingin kau dijauhkan dari pikiranku sedikit saja, sebentar. Tetapi setiap kali kuminta itu, lukis-lukis wajahmu selalu saja kembali ketika diriku lalai untuk memikirkan satu hal, sehingga ruang kosong itu, kembali terisi oleh bayang-bayangmu. Tak bisakah pergi, barang sebentar saja? Continue reading

Memilih Untuk Sendiri

Standard

Semalam saat duduk di pinggir kasur, masih terdengar suara tawa program tv favorit ayah. Aku masih termenung memikirkan apakah benar malam itu malam yang terakhir untuk berada di rumah, setidaknya. untuk pergi dalam waktu yang lama. Bukan yang pertama kali, pergi saat menjelang Ramadhan. Aku ingat saat tahun 2014 ketika Kakak ingin bertunangan dan aku malah lari untuk menyelesaikan beberapa urusan. Umi marah besar sampai membuatku lari bagai malin kundang yang tidak mengakui Ibunya.

Malam tadi Umi tampak murung, duduk menatap kosong, sesekali bertanya; “Semua barang sudah disiapkan? Ada yang ketinggalan gak?”

Aku hanya ber-hmm hmm, pelan, memastikan bahwa memang tidak ada yang tertinggal. Aku tidak tahu apa perasaan Umi malam itu, apalagi saat aku bilang, lebaran tahun ini aku tidak akan berada di rumah. Kecewa, pasti. Apalagi mendengar aku pergi jauh hanya demi gaji yang tidak seberapa.

Continue reading

Lelah yang Tersembunyi

Standard

Sudah beberapa hari serpong terus saja hujan. Dingin yang mengintip dari balik jendela, membuatku sulit untuk beranjak dari dalam selimut. Padahal orang rumah sudah semua pergi untuk bekerja dihari yang hujan.

Sejak semalam, aku masih sulit untuk bisa menerka-nerka, apakah benar besok pagi aku akan pergi menunjuk petualangan yang baru? semuanya masih terasa seperti mimpi. Padahal dulu aku yang sering menggerutu karena sudah bosan berada di rumah. Umi sedang sakit, sejak kemarin batuk-batuk. Aku jadi merasa menyesal, hari sebelumnya sempat marah dan berdebat dengan Umi karena hal yang sepele. Continue reading