Kita yang Belum Bertemu

Standard

Awan berkerumul dalam satu titik. Saat matahari hampir tiba, mereka sudah siap menyambut di sisi-sisi bukit. Langit saat itu masih berwarna jingga dengan sedikit oranye, debur ombak masih mendorong-dorong pasir menuju tepi. Dua kelomang sudah terbangun mencari rumah yang baru, karena rumah lama mereka sudah terasa sangat sempit. Elang laut kembali, menuju laut untuk mencari rezeki yang baru. Terbang menuju ujung laut yang bundar, menyisakan siluet dengan guratan sayap yang sangat tajam dan berani.

Kemudian hilang.

Suara ombak masih menggerus, berdebur nyaman, dengan angin laut yang meniupkan dahan-dahan kelapa. Pasir sudah tak lagi sama, ada bekas injakan telapak kaki kiri, beberapa sentimeter di depan, kaki kanan, begitu seterusnya sampai satu kilometer jauhnya.

“Mungkin, kalau aku hanyutkan pagi ini, dia akan lebih cepat tiba.”

Ombak kembali menyapu, kali ini bekas telapak kaki itu juga hilang. Pasirnya tidak putih, tapi berwarna sedikit merah muda. Butirnya sangat halus, bahkan lebih halus dari garam dapur merk terbaik sekalipun. Matahari akhirnya tiba.

Sebuah botol, berisi kertas kecoklatan yang digulung dengan pita merah. Ditutup dengan tutup dari gabus. Laki-laki itu meletakkan botol diatas air yang masih mendorong-dorong menuju tepi. Buih-buih berkerumul diatas pasir, kemudian menghilang bagai terserap ke dalamnya. Suara deru masih terdengar. Tidak ada suara lain, selain suara ombak dan angin.

Botol itu terombang-ambing, semakin menjauh diatas ombak yang menggulung tipis-tipis. Matahari mulai naik, menyinari sisi kaca dan terbiaskan, membuat botol bening itu menerawang garis laut yang tidak lurus. Bergulung, terus bergulung. Kemudian menjauh hingga tidak terlihat lagi.

Laki-laki itu masih tetap tenang di pinggir pantai, menanti kosong. Matanya menerawang ke ujung lautan yang mungkin tidak berujung. Menunggu, membuat cahaya matahari mewarnai kulitnya menjadi sedikit keemasan. Dia menyipit, mencoba tetap menyaksikan, kemana botol itu pergi. Kemana lautan membawanya.

“Sudah kau hanyutkan lagi?” Tanya seorang pria tua yang berjalan tergopoh-gopoh menarik satu dahan kelapa yang kering.

Laki-laki itu berbalik dan menatap, kemudian mengangguk. “Aku yakin, kali ini pasti sampai.”

“Kemana?”

Dia bergeming. Suara deru ombak masih mengalun. “Entahlah…”

Pria tua itu menatap sabar, “..kemana saja, aku yakin dia akan menerimanya.”

Continue reading

Advertisements

Tanah Merah dan Ilalang Masa Lalu

Standard

“Awas jangan naik keatas tembok!”

“Nanti kamu jatuh!”

“Hey, anak bandel!”

“Aduh!”

“Aaaaahhhh….!!!”

“Bibi Halim! Alif jatuh!”

Aku tidak bisa ingat apapun, saat terbangun kepalaku sudah diperban. Umi bilang, sejak beberapa jam lalu aku terus menjerit karena kesakitan kena jarum jahit. Usai dibawa ke puskesmas sore tadi.

“Kan sudah dibilang, jangan naik-naik tembok kalau sudah maghrib!” Geram umi, aku tahu Umi khawatir sejak tadi. Aku hanya diam, mengulum bibir. Melihat guci tua berlukis burung cendrawasih yang usianya hampir seusia denganku, 9 tahun. Lelah, yang kuingat terakhir kali Aldo berteriak-teriak dengan Sami, melempariku dengan kerikil-kerikil kecil, mengingatkanku untuk turun dari pagar tinggi yang membelah desa dengan kompleks perumahan yang baru dibangun.

Jalanan batu kasar itu membuatku mendapat jahitan di kepala. Umi bilang darah yang keluar cukup banyak, akupun, mencium bau anyir darah itu, bahkan rasa nyut-nyutan nya masih sangat terasa di bagian ubun-ubun dan keningku.

Continue reading

Berdamai dengan Hujan

Standard

“Itu terlalu naif menurutku..” Ucapnya bergurau, kemudian dia kembali menatap lurus ke depan, kearah hamparan padi-padi yang membentang hijau. Sungai besar menanti di ujungnya. Tebing-tebing batu membingkai cakrawala. Diatas, jalur kereta api tua yang menghubungkan Purwokerto – Cilacap masih setia menjadi penghubung perjalanan.

Aku menghela napas, “Setidaknya, kita harus bisa merencanakan segala hal sejak awal, bukan?” Sejenak mencoba membiarkan angin sejuk sore hari, membuat kami berdua terduduk diatas batu, ditepi barisan padi.

Kerudung merah muda panjang itu melambai tertiup angin. “Aku bersyukur..” Ucapnya perlahan, dia menunduk sunyi. Aku memerhatikan. Continue reading

Disini lebih lama lagi

Standard

Anak rambut tergerai. Tertiup angin. Bayangan dedaunan tampak di wajah putih itu. Angin berhembus dingin, ditengah cuaca yang cukup terik. Rumput hijau yang selalu dipotong itu merupakan alas yang terbaik untuk bisa duduk dibawah pohon oak tinggi di tengah hari seperti ini. Gadis kecil itu bersandar di batang pohon oak yang dingin. Memejamkan mata, membiarkan angin memeluknya, menerbangkan anak-anak rambutnya. Dia meletakkan kedua tangannya di rumput. Sejuk. Bagai bisa merasakan oksigen dipompa melalui tangannya.

“Cling!”

Suara notifikasi berdering keras. Continue reading

Ayunan di Musim Hujan

Standard

Ruangan yang hening. Gorden tipis berwarna merah muda berkali-kali tertiup oleh angin yang berhembus melalui jendela yang terbuka. Jendela model lama, dengan bingkai kayu cokelat yang tidak di poles cat. Berbentuk persegi panjang dengan jumlah 6 persegi berukuran kecil di dalamnya. Sesekali berderit, karena engselnya sudah terlanjur tua.

Hening. Tidak ada suara siapapun. Sebuah mesin jahit tua yang sudah dimakan usia, berhias sarang laba-laba dan debu. Bingkai foto keluarga, yang tampak bahagia. Sepertinya, sudah hampir 20 tahun lamanya foto itu terpasang. Sepasang suami istri, yang laki-laki berperawakan jawa, dengan gurat wajah tegas dan janggut yang membingkai wajah dari telinga hingga dagu. Continue reading

Di lorong Rumah Sakit

Standard

Clup. Clup.

Suara tetes air infus menetes. Terdengar jernih di telinga mengalahkan desah napas lelah yang hampir tidak terdengar. Ruangan redup, lampu tak mampu mengalahkan gulita yang kuat. Angin dingin menelusup, menggelitik melalui celah-celah kecil ventilasi. Menjalar menuju tubuhku yang tak terbalut jaket. Aku terduduk, menopang dagu dengan kedua siku. Menunggu dengan tenang disamping sosok yang tak sadarkan diri dihadapanku. Selang tertanam di perutnya. Kabel infus besar menggantung, jarum tertusuk di tangan kanannya yang sudah tak berdaging. Continue reading

Cerpen: Sepuluh

Standard

Pssttt….!!! “Kau dengar itu?” Neymar berkata pelan, menahan napas dan menatap kedua wajah temannya yang penuh dengan peluh. Hening. Tiba-tiba saja seisi hutan menjadi hening setelah bocah 7 tahun itu ber-ssttt pelan.

Kedua bocah lainnya tampak bingung, menggeleng. Mereka cuma memperhatikan bocah didepannya itu dengan tatapan penuh dengan tanda tanya. Bocah paling berani itu melangkahkan kakinya yang tanpa alas itu, perlahan menyusur lumpur-lumpur bau yang tertanam pucuk-pucuk bakau. Suara “blub” terdengar seiring dengan langkah kakinya yang kecil. Gelembung keluar dari bekas pijakannya, tampaknya itu kepiting bakau yang sedang bersembunyi. Continue reading