Mimpi-Mimpi Yang Sama

Standard

Gerimis mengguyur, rintik-rintik kecil saja saat aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, sejak sore tadi aku menghabiskan waktu di pinggir pantai, duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu, mengobrol dengan beberapa kerabat kerja yang baru saja kenal saat bertemu di Sorong. Kami banyak berdiskusi mengenai dunia konservasi, yang pada kenyataannya begitu sempit. Mas Wawan sempat mengenal dua sahabat baikku, Barkah dan Rido yang kebetulan tahun lalu mengikuti kegiatan monitoring di Teluk Cendrawasih, sehingga kami lebih benyak berdiskusi mengenai mereka berdua, lebih tepatnya bergosip tapi “tidak jahat”.

Aku jadi lebih banyak mengenal juga sisi lain pekerjaan di dunia nirlaba, atau organisasi non pemerintah. Banyak hal yang belum diketahui mengenai naik turunnya bekerja di organisasi konservasi semacam ini. Yang paling aku tahu adalah sistem penjaringan tenaga kerja, yang cenderung mengandalkan network internal, atau jaringan-jaringan alumni dari almamater mereka sendiri, sehingga banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan di bidang semacam ini. Bagiku sendiri, itu memang hal yang sudah lumrah diketahui, terutama untuk Universitas kecil seperti almamaterku sekarang. Di angkatanku, baru aku dan Denis yang akhirnya berhasil memulai karir di dunia organisasi konservasi. Sisanya, meski keinginan untuk melanjutkan linear dengan latar belakang pendidikan, tapi sulit untuk mulai masuk dan menjadi bagian dari lingkaran.

Itu yang banyak kami diskusikan, aku dan Mas Wawan, di pinggir pantai Arborek, sambil menunggu langit menggelap karena matahari terbenam, dan listrik mulai menyala pukul 6 sore. Realitanya, ada ribuan mahasiswa kelautan di seluruh Indonesia, namun bukaan untuk pekerjaan hanya tersedia satu atau dua di organisasi. Meskipun, katakan saja kompetensi lulusan cenderung sama, sistem network internal inilah yang membuat banyak orang kemudian kesulitan untuk mendapatkan akses informasi pekerjaan tersebut. Aku dan Denis, termasuk yang beruntung, akhirnya kami bisa menjadi bagian dalam lingkaran tersebut.

Setelah hampir 2 bulan bekerja, sudah banyak dinamika yang terjadi disini. Sarah bilang, inisial kontrak yang diberikan padaku hanya berdurasi 2 bulan di Raja Ampat, tapi kemungkinan untuk mendapatkan perpanjangan kontrak terbuka lebar. Aku sendiri mulai begitu nyaman bekerja disini, karena setiap orang yang kutemui, adalah orang-orang yang penuh dedikasi, dan mereka sangat ramah bagi orang baru sepertiku. Saat memasuki dunia seperti ini, aku berjuang keras untuk bisa berinteraksi dengan baik. Ambivert sepertiku memiliki 2 sisi kepribadian, namun cenderung kepada sisi introvert. Sehingga berinteraksi dengan orang baru, membuatku berjuang lebih keras untuk bisa tersambung dengan orang-orang, dan perasaan ingin diterima itu yang membuatku merasa semakin tidak nyaman.

Untukku, hubungan personal sangatlah penting, karena aku cenderung membentuk koneksi personal yang membuat sebuah pertemanan cenderung bertahan lebih lama, dan aku kesulitan untuk menemukan topik-topik yang membuatku mampu memiliki koneksi dalam dengan seseorang. Setidaknya, itu membutuhkan waktu beberapa hari, sehingga obrolan kecil sekedar apa kabar tinggal dimana, lebih banyak tidak bekerja. Saat aku kedatangan teman-teman dari Couchsurfing, sebuah platform yang mempertemukanku dengan teman-teman dari seluruh dunia, pembentukan koneksi tersebut cenderung lebih mudah. Meski teman-teman tersebut hanya tinggal 1 atau 2 hari di kosanku, kami mendiskusikan banyak hal yang membuat kami bisa terikat dalam hubungan pertemanan yang tidak biasa.

Karena meski kami mengenal dalam waktu singkat, kami masih tetap terhubung dan aku masih bisa berkomunikasi dengan mereka yang ada di Spanyol, Turki, Jerman, dan lain-lain. Itu menyenangkan, ketika kita bisa menemukan satu poin dimana kita semua merasa sama sehingga koneksi personal tersebut lebih mudah dibentuk. Saat bersama Abang Ronald disini pun, awalnya aku merasa sulit untuk bisa terkoneksi karena pembicaraan kami cenderung kurang nyambung satu sama lain. Aku memiliki kehidupan kota yang sangat jauh berbeda, dan bekerja bersama dengan Abang di Raja Ampat, membuatku berjuang untuk bisa mengimbangi kebiasaan dan kekuatan orang-orang Papua. Awalnya aku lebih sering ditertawakan karena gagal atau lamban, termasuk saat memancing, ataupun berusaha menyupir boat sendiri. Tapi lama-kelamaan, Abang sudah mulai terbiasa dengan kecerobohan dan kesalahan-kesalahan yang kulakukan, aku tidak tahu apakah itu baik atau tidak.

Sehingga, aku jadi terbiasa menerima saat Abang bilang, “Haduh, orang kota” aku hanya bisa tertawa dan membalas, “Ya maaf, baru sebulan tinggal di Pulau, toh?”

Kami jadi lebih sering berdiskusi tentang hal-hal personal, terutama mengenai keluarga, dan aku menyadari bahwa kami berdua sama-sama memiliki intuisi untuk bisa meningkatkan kesejahteraan sosial bagi masyarakat kami sendiri.

Saat siang hari tadi, aku menunggu makanan siap di Dapur, saat Abang ada di luar. Di dapur, ada Mama Ines dan Mama Nandez yang membantu memasak, dan aku menyiapkan susu setelah seharian survey tanpa sarapan untuk mengganjal perut. Minggu kemarin ada Debby, keponakan Abang yang masih libur sekolah biasa membantu memasak saat pagi.

“Bapa Valen itu di CI sudah lebih dari 7 tahun, saat masih bujang sampai punya anak 4. Dulu, Kampung Arborek itu terkenal salah satu penjual sirip hiu terbesar di Raja Ampat. Memancing masih pakai sianida, bom, trawl, banyak yang bikin hancur karang. Tapi sekarang, setelah CI masuk, laut sudah bagus, toh?”

“Orang-orang yang dulu banyak bunuh hiu, sudah punya homestay masing-masing. Kalau dulu, Bapa Valen itu bantu yakinkan orang-orang untuk tidak bunuh hiu, dan terima program pariwisata, sekarang yang lain sudah jadi kaya raya punya homestay sendiri, hanya Bapa Valen aja yang masih kerja di CI, sibuk urus sana sini.”

Aku sedikit tersentil mendengar hal tersebut. Disadari atau tidak, pembicaraan tersebut menyimpan banyak makna yang bisa diterjemahkan, entah kekecewaan, ataupun perasaan bangga yang sedikit minor. Aku sendiri pernah menyinggung hal ini, ketika bertanya kenapa Abang lebih memilih bekerja di organisasi dan terjun dalam dunia konservasi. Dan aku menyadari bahwa ada motif yang lebih besar dari hanya sekedar uang. Intuisi yang dia miliki dalam pembangunan sosial masyarakat kampungnya, memang besar, aku hanya bisa memahaminya secara dangkal, karena interaksi kami selama beberapa minggu ini memang tidak begitu intens. Mungkin hanya perbincangan yang bisa dilakukan saat menunggu survey, atau saat memancing, karena hanya kami berdua. Sehingga aku bisa lebih banyak belajar mengenai watak seseorang melalui percakapan yang kami lakukan.

Orang-orang Pulau seperti Abang sangat jarang kutemui dalam perjalanan pekerjaan ini, dan aku bisa banyak belajar dari pembangunan karakter yang dia punya selama menjadi seseorang yang bekerja dalam organisasi nirlaba.

 

wp-1500022930556.

Saat menunggu Manta di Pulau

 

Gerimis masih mengguyur saat aku menuliskan ini. Di dalam rumah, anak-anak kecil sudah tertidur. Tidak seramai minggu lalu saat Eto dan Lady masih dirumah. Saat malam, anak-anak biasa menonton film sampai jam 10 dan sebagian sudah jatuh tertidur. Tak jarang aku memutarkan mereka film, kadang kesal juga kalau mereka selalu ribut saat menonton sehingga mereka kehilangan bagian-bagian penting dan value dalam film tersebut. Pikiran mereka masih sangat sederhana, saat aku mencoba menunjukkan film mengenai petualangan di laut, luar angkasa dan sejenisnya, mereka menyaring hal tersebut berbeda dari apa yang sebenarnya aku coba untuk tunjukkan.

Mungkin karena itulah hasratku untuk mengajar sangat besar di pulau-pulau kecil dan terluar seperti ini. Meski pembangunan pariwisata dan perbaikan ekonomi membaik, dan akses anak-anak terhadap teknologi sudah tinggi, tapi behavior orang-orang dalam memanfaatkan hal tersebut masih salah. Di sini, aku memiliki keinginan untuk bisa mengajar dan memberikan pemahaman lebih luas mengenai apa sebenarnya dunia di luar Raja Ampat.

Siang hari, saat aku dan anak-anak sedang berada di rumah, aku menyempatkan untuk menunjukkan beberapa foto kegiatanku selama kuliah, meski lebih banyak mengenai jalan-jalan. Aku suka melihat kegembiraan mereka saat aku tunjukkan foto-foto dari atas gunung, atau saat Nandez bilang “Ih, besarnya!” saat aku tunjukkan foto gedung-gedung di Jakarta. Aku juga sesekali memperlihatkan mereka peta Indonesia, dan menunjukkan seberapa jauh Raja Ampat dari tempatku tinggal. “Jauh sekali!” Aku menyadari bahwa masih banyak hal yang belum kuketahui mengenai Indonesia ini, begitupun mereka, aku hanya sedikit membagikan apa yang aku punya dan tahu, karena aku yakin anak-anak di Pulau juga memiliki mimpi-mimpi yang sama.

Beberapa hari lalu, Valen dan Ibet ikut kami melakukan survey di sekitar Waigeo Barat, beberapa kilometer dari Arborek. Menempuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di sana. Aku jadi punya kesempatan untuk mengenal dua anak itu, yang masing-masing jelas memiliki kepribadian berbeda. Aku melihat Valen sebagai salah satu anak yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu, saat kami menonton Valen lebih banyak menanyakan mengenai jalan cerita suatu film, siapa karakter itu, mengapa dia begitu, kenapa bisa terjadi seperti itu dan lain-lain. Itu yang membuatku senang saat Valen ikut menonton. Sebagai salah satu kakak tertua dengan 3 adik, Valen cenderung lebih penurut, dan selalu hormat dengan orang tua. Suaranya merendah saat berbicara dengan Bapak, ataupun saudara-saudaranya, cenderung melindungi dan menjadi penengah saat ada konflik dengan anak-anak.

 

wp-1500022933501.

Menunggu Bapak Memancing deng Valen dan Ibet

 

Sementara Ibet, adalah anak yang cenderung suka memberontak. Dia lebih banyak mengikuti keinginannya sendiri, dan yang dia inginkan, harus terpenuhi. Ibet lebih banyak mirip denganku yang terkadang sering egois saat meminta sesuatu kepada orang tua, dan melihatnya bagai melihat diriku sendiri sewaktu kecil. Tapi sistem pendidikan di Pulau, terutama di Papua sangat berbeda, bahkan cenderung keras. Malam ini, aku melihat Ibet menangis karena dilempar ke laut oleh pamannya sendiri, lantaran Ibet mengamuk meminta uang dan ia membuat kacau karena melempar-lempar barang. Seluruh keluarga sudah menasihatinya untuk diam, tapi pamannya memutuskan untuk meleparnya kelaut untuk meredam tangisnya, tapi dia malah terus meracau sambil merangkak menuju tepian pantai.

Ibet memang lebih sering kena marah, karena perbuatan yang dia lakukan sendiri, misalnya dia menangis menjerit karena kena pukul teman sebayanya, akibat mengganggu Danci, adik Daci sampai menangis, dia kemudian kena balas kakaknya dan terkena pukul memar di bagian kaki. Tidak jarang juga dia mengganggu Iko, bayi 8 bulan adik Ines sampai menangis, dan dia kena marah Bapak. Haha. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memperhatikan tingkah laku anak itu. Dia memang sangat berbeda dari kedua kakak laki-lakinya. Statusnya sebagai salah satu anak non-biologis abang tampaknya membuat dia secara kontras memiliki kepribadian yang sangat berbeda dari mereka berdua. Aku bisa mewajari hal tersebut terjadi, dalam sistem pendidikan disini, tapi sepertinya anak-anak dididik semacam itu, supaya mereka bisa hormat dengan orang yang lebih tua, dan itu berhasil membentuk kepribadian anak-anak yang patuh.

Beberapa paham untuk menunggu makan setelah orang tua selesai, membantu memasak di dapur, tidak duduk diatas saat orang tua duduk di bawah, membantu mengurus adik, atau selalu menurut ketika dimintai tolong. Hal-hal yang begitu sudah jarang ada di rumah tempat tinggalku. Minimnya distraksi atau gangguan dalam emosi mereka mungkin yang memengaruhi mereka untuk bisa patuh kepada orang tua. Sementara orang-orang di kota cenderung lebih banyak melawan. Sebenarnya, itu juga menurutku yang menjadi faktor mengapa mereka lebih mudah untuk bisa menerima pelajaran, dan hal itulah yang membuatku sangat ingin mengajar disini, meski entah itu kapan.

Kontrak 2 bulan ini akan segera berakhir, dan aku merasa, mungkin ini adalah hari-hari terakhir aku bisa di Raja Ampat. Ada tawaran pekerjaan baru di Ambon yang harus aku pertimbangkan. Posisinya akan membuatku sangat jauh dalam lingkaran yang baru karena hampir semuanya adalah orang yang kukenal dan berada di luar lingkaran pertemananku. Tapi yang aku suka, adalah pekerjaan tersebut membuatku terlibat dengan pekerjaan bersama nelayan.

Meski sejatinya aku masih berjuang untuk bisa bersosialiasi, aku mau mencoba untuk mengambilnya dan membuatku berjuang untuk melawan gen-gen itu. Gen menjadi seorang introvert yang sibuk dengan dirinya sendiri, aku merasa hubungan sosial adalah hal yang penting, dan aku ingin terbiasa membuat koneksi dengan banyak orang, entah dalam hal personal, maupun professional.

 

wp-1500022930920.

Subuh hari, memancing di sekitar Pulau sambil tunggu Manta

 

Entah kenapa, aku merasa akan meninggalkan Raja Ampat, meski semuanya belum pasti apakah hal itu benar. Tapi aku jadi merasa lebih nyaman sendirian, mengetik cerita ini misalnya, sambil ditemani hujan gerimis di teras rumah Abang, mendengar dengkuran anak-anak yang kelelahan usai menonton film di tetangga sebelah, atau makan sendiri, meski Abang akhirnya balik lagi dan tidak tega meninggalkanku makan di dapur sendiri. Haha.

“Lah kok balik lagi, katanya mau makan di laut?”

“Masa aku tinggalkan ko makan sendiri, sakitnya tuh disini, aduuuhh..!” celetuk Abang sambal menenteng piring berisi ikan.

Diving di Arborek

Ada banyak hal yang belum tuntas kukerjakan disini, latihan bermain Voli karena terlalu takut ditertawakan bapa tua, mengajar di SD Arborek, mengajari anak-anak menggambar dan mewarnai. Rasa-rasanya terlalu banyak.

Disadari atau tidak, tinggal di Pulau dalam waktu sesingkat ini banyak membuatku berubah. Utamanya adalah bisa bertahan dengan segala keterbatasan yang ada. Saat awal tiba sore dan hujan usai memancing bersama Bapa Lady dan Abang, aku harus mengambil air tampungan hujan untuk mandi di samping rumah, saat sudah kebelet ingin buang air, aku harus menimba air di ember dan menggiringnya sejauh 50 meter di toilet milik bersama. Pengalaman yang cukup unik, aku jadi menghargai keberadaan air.

Orang-orang disini, bisa mandi hanya dengan 1 ember 5 liter, dan saat musim hujan adalah saat-saat dimana mereka semua bisa mandi. Saat musim kemarau, sumur kering dan hujan jarang turun, tidak ada air yang bisa ditampung. Tidur juga, aku jadi terbiasa tidur di lantai. Kalau dirumah, aku bisa kena masuk angin akut, disini aku terbiasa tidur dengan anak-anak di ruang tengah beralas karpet kayu.

Malam lalu, saat aku, Valen, Genus dan Abang tidur di ruang tengah, kucing dan anjing sedang berkelahi di samping rumah. Karena suara raumannya yang berisik, dua anak itu terkejut dan berlari mengumpet di balik punggung Abang. Aku tertawa terpingkal-pingkal saat Genus berteriak sambil setengah mengigau, dan menunggu sampai suara perkelahian tersebut berlalu.

“Bapak sa ingin pipis lagi.” Ucap Valen saat terbangun

“Biar kalau keluar, kucing-kucing tu hajar dong berdua.” Aku masih tertawa dan tidak bisa berhenti selama 5 menit, dan kami semua jadi tidak bisa tidur lagi. Benar-benar momen malam terakhir tinggal yang lucu. Minggu depan, anak-anak sudah kembali sekolah, tidak akan banyak anak yang menginap meski aku masih tinggal disini. Mungkin aku bisa kembali dan membawa lebih banyak ilmu yang bisa dibagi bersama anak-anak Kampung.

Tapi aku berharap apapun kejadian di depan, aku tetap memiliki mimpi-mimpi itu, untuk bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi siapapun itu yang ada disekitarku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s