Anak-anak Sekolah Minggu

Standard

“Perhatian kepada adik-adik yang masih ada dirumah, harap segera berkumpul ke dekat pantai, karena acara sudah akan dimulai.” Ucap seorang laki-laki melalui pengeras suara, panitia perayaan Hari Anak Sedunia.

Sore itu, pukul 4, anak-anak berlarian mengenakan pakaian ibadah, membawa Injil Perjanjian Baru dan berbaris di lapangan voli yang biasa digunakan bermain saat sore hari. Termasuk Ibet yang baru saja keluar dari kamar dan mengganti pakaian dengan kemeja baru. Hari itu bertepatan dengan peringatan “Hari Anak Sedunia” oleh UNICEF, dan gereja di Arborek ikut merayakan bersama dengan anak-anak sekolah minggu.

Satu grup pemain suling tambur sudah ribut sejak sejam lalu dan berlatih, acara hari itu akan diisi dengan march keliling kampung, sambil menyanyikan lagu-lagu buatan gereja. Acara semakin ramai saat anak-anak mulai semua berkumpul. Para orang tua dianjurkan untuk ikut menemani dan menjaga di belakang.

“Shhhh.. Niko! Kau baris sudah!”

“E ko, jangan ribut saja dibelakang!” tegur orang tua yang anak-anaknya masih sangat senang bercanda di barisan belakang.

Menjelang sore, air laut di pinggir pantai Arborek mulai turun, angin bertiup sepoi menciptakan riak-riak gelombang kecil yang menggoyangkan kapal kayu biru yang biasa digunakan orang-orang untuk mengantar tamu dan juga untuk berbelanja ke pasar di Waisai. Suara ceramah seorang Pendeta gereja secara serius di dengarkan oleh anak-anak.

Saat matahari sedikit turun, suara suling tambur mulai terdengar ke seluruh penjuru kampung. Di pulau berisi 60 rumah itu, anak-anak kemudian mulai bernyanyi lagu-lagu gereja, berisi cerita tentang masa kecil dan permainan. Jalanan kecil yang menghubungkan rumah ke rumah, diikuti barisan orang tua yang berjalan lambat-lambat yang juga ikut bernyanyi.

Banyak anak-anak berusia 2 tahun yang digendong diatas bahu, ikut tertawa meski sepertinya mereka tidak paham apa yang sedang dilakukan. Yang penting bernyanyi. Hampir lebih dari 15 menit, kampung selesai di putari, rumah-rumah kosong karena semua penduduknya mengikuti perayaan sekolah minggu. Anak-anak kemudian duduk di pinggiran pantai, membentuk grup dan memainkan permainan kelompok. Semuanya diikuti dengan nyanyian, khas anak-anak dan berisi pesan-pesan rohani.

Kegiatan gereja di Arborek memang sangat intensif, terutama pembibitan bagi anak-anak disini. Struktur organisasi di gereja juga cenderung rapi, dan semua orang terlibat dalam program-program yang dibentuk.

“Kalau di Kampung, lebih mudah untuk membentuk karakter orang-orang. Terutama anak-anak. Kita harus tanamkan rasa takut terhadap Tuhan toh, kalau agama sudah ada dalam diri mereka, akan lebih mudah untuk mencapai keamanan di kampung.” Kata Abang saat aku berjalan mengiringi barisan anak-anak sekolah minggu yang bernyanyi.

Mungkin bukan hanya dalam konsep gereja yang dimiliki Abang Ronald, bahwa setiap orang yang taat pada agama pasti memiliki budi pekerti yang lebih baik. Karena agama memegang kendali penuh dalam perbuatan seseorang, saat dia sudah takut kepada yang menciptakan, tidak ada yang mampu membuatnya berperilaku menyimpang.

Aku jadi paham bahwa konsep agama itu memang cenderung universal. Yang membuatnya berbeda adalah praktik yang dilakukan dan juga jenis-jenis amalan yang dikerjakan bagi setiap pemeluk agama. Tidak hanya di Arborek, kupikir kampung-kampung yang masih berpegang teguh pada kebaikan konsep Agama, agama islam misalnya, memiliki penduduk yang lebih bahagia dan tenggang rasa. Keterikatan dan rasa saling membantu akan terasa sangat kental.

Orang-orang tidak akan memiliki pikiran untuk mencuri dari tetangganya sendiri. Di Arborek, rumah-rumah tidak pernah dikunci, semua pintu dibiarkan terbuka, bahkan semua barang-barang berharga seperti televisi dan ponsel tidak pernah dalam pengawasan yang serius. Ditinggal begitu saja.

Saat-saat merayakan hari besar seperti sekarang, orang-orang akan lebih sibuk diluar, berinteraksi. Pemain suling tambur akan terus bermain sampai pagi tiba, katanya. Tapi memang benar, jam 12 mereka masih sanggup memainkan alat musik sampai aku tidak bisa tidur karena mereka terus berkeliling. Masih ada juga anak-anak yang tertawa mengiringi.

Jam-jam sebelumnya, mereka makan ikan bersama di gereja. Umumnya para pemuda akan membantu mencari ikan dengan memancing di laut di sekitar Pulau Tanjung Putus, mulai pukul 4 sampai 6 sore. Dan kapal-kapal akan penuh dengan ikan hasil tangkapan. Mama-mama akan membantu memasak di dapur dan menyiapkan nasi.

Umumnya orang-orang disini memancing Ikan tenggiri atau cakalang, tidak sulit untuk mendapatkannya. Cukup berbekal kail pancing, benang nilon dan tali warna-warni yang dibuat rumbai. Aku biasa diajak memancing untuk mencari lauk di sore hari dengan Abang dan Bapa Lady. Kemarin kami sempat mendapatkan 20 ekor dan dibagikan untuk keluarga di Arborek.

“Ikan bodoh, jadi dia sambar saja.” Kata Abang setiap kali menjelaskan kenapa tidak perlu umpan.

Saat memancing dengan Om Daud di Meoskor, Om Daud biasa membuat umpan dari pelepah pisang yang dia potong menyerupai ikan kecil. Dulu orang biasa berburu dengan itu dan bisa mendapat tuna.

“Ikan sekarang sudah pintar, jadi mereka jarang sambar. Ya dicoba saja, siapa tau dapat.” Om Daud tertawa.

Aku mengikuti kegiatan peringatan Hari Anak Sedunia bersama dengan anak-anak sekolah minggu. Dan aku menyadari bahwa toleransi terbentuk saat kita mulai memahami bahwa masing-masing dari manusia dilahirkan sama. Meski keyakinan yang dipeluk berbeda, semuanya sama-sama menanamkan kebaikan. Kebaikan untuk bisa menghormati yang lebih tua, kebaikan untuk membantu memasak saat ada kegiatan besar, kebaikan membantu mendorong kapal saat ingin pergi melaut. Bahkan, membantuku menyiapkan tempat sholat saat waktu maghrib sudah tiba. Abang biasa memberikan satu kamar untukku melaksanakan sholat dirumah.

Lalu kenapa masih risih tentang perbedaan?

 

DCIM103GOPROGOPR8382.

Gereja di Arborek

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s