Modern itu Tidak Selalu Keren

Standard

Lebaran di Waisai memang benar-benar berbeda. Saat takbiran malam lalu aku merasakan sesuatu yang benar-benar berbeda. Kekosongan yang benar-benar kosong. Aku bukannya tidak ingin bertakbir, tapi suara takbir yang menggema dari masjid agung mengingatkanku akan lebaran di tahun-tahun lalu. Ini benar-benar pertama kalinya mengalami lebaran jauh dari rumah, biasanya setiap malam aku biasa mencium bau bunga-bunga yang dirangkai Umi di ruang tengah.

Bau sprei baru, atau pengharum ruangan yang aromanya berganti dan menyemprot setiap 30 menit sekali. Ayah biasa diluar, mencuci mobil. Kemudian saat kakak belum menikah dia biasa membantu Umi mengepel, dan aku biasa membantu mengganti taplak-taplak meja. Biasanya dari rumah terdengar suara takbir dari masjid Al-Fattah, anak-anak kampung Serpong biasa ada disana, bahkan dulu aku terbiasa mengisi takbir melalui toa masjid. Tahun-tahun kemudian berubah, ada saatnya kami selalu pergi keluar di malam takbiran, pergi ke Tangerang, adalah kegiatan rutin yang selalu kami lakukan, berbelanja di sabar subur, kata Umi pasar swalayan itu masih ada.

Banyak barang yang biasa dibeli, radio, tv dan barang elektronik apapun yang ada dirumah dahulu berasal dari sana, tapi semuanya sudah berganti dengan yang lebih baru. Kami tidak perlu repot-repot lagi jauh macet ke Tangerang kota, dekat rumah ada 5 mall baru yang besar-besar dan barangnya lebih canggih, lebih modern. Perlahan-lahan, kami mulai kehilangan kegiatan rutin menjelang ramadan, makan laksa bersama diluar, takbiran keliling, banyak hal yang berubah.

Saat aku kembali mengingat-ingat itu, itulah yang menjadi penyebab kekosongan pikiranku. Sebab, aku masih belum memahami bahwa yang aku alami saat ini adalah benar-benar nyata. Memang aku yang memilih untuk menghabiskan waktu lebaran disini. Tapi tidak menyangka bisa segini sepi. Hal-hal memang akan berubah pada waktunya. Dengan itu aku jadi paham bagaimana untuk menghargai setiap waktu yang ada.

Malam lalu, sebelum tiba di Waisai, aku menghabiskan malam di Arborek. Temaram, hanya ditemani api yang menyala dari botol kratingdaeng yang berisi minyak tanah dan sumbu. Mama Valen baru saja memasak untukku makan malam. Sejak sore, aku belum mengisi nasi kedalam perut. Menu malam yang sederhana, hanya ikan goreng dengan sambal dan nasi. Itu saja, Abang Ronald menemani aku makan setelah makanan tersebut siap di meja.

“Rafid, mari..” kata Abang menunggu di ambang pintu. Istrinya membantu memasak makanan gelap-gelap begini.

“Kau pegang baik-baik ya.” Kata Istri Abang Ronald, Mama Valen pada Ibet saat aku memberikan ponselku untuk membantu penerangan. Dia mengiris ikan dan mencuci beras di belakang.

Suasana yang hening di sebuah dapur sederhana itu. Lantainya di plester semen, dindingnya sebagian dari gubug, sisa lainnya tembok. Tanpa plafon, kerangka atapnya dari kayu, sebagian tertutup genting. Saat hujan suara dentum air sangat terasa. Aku duduk di sebuah kursi kayu panjang, Abang duduk di samping.

Hening.

Aku sempatkan bertanya satu dua hal, mengenai kehidupan di Arborek. Kemudian perbincangan mengalir menjadi tentang kisah-kisah keluarga, silsilah keluarga dan seterusnya.

“Lady dan Eto tuh, masih ponakan abang kah?”

“Mereka itu lucu sekali!” sambungku, saat mengingat mereka berdebat soal ukuran sepatu.

Suara tikus kemudian berisik berlarian diatas loteng saat kami makan. Tikus berukuran hampir sebesar kucing, mereka menjatuhkan potongan genteng di atas, menimbulkan gemuruh-gemuruh yang sangat mengganggu.

“Makhluk itu ganggu sekali.” Ucap Abang dengan suara tenangnya. Nadanya tidak berubah. “Dulu sebenarnya disini gak ada tikus, hanya dulu tahun 2006 kah, ada kapal Filipina yang tertangkap, semua awak kapalnya diamankan, kapal nya ditambatkan di dekat pulau. Gak lama, tikus-tikus itu menyebrang dan jadi berkembang biak di Pulau ini.”

Aku menyesap teh yang hampir dingin.

“Kemudian mereka malah tambah banyak. Sebenarnya aku dulu punya program, sudah bilang kepala kampung, untuk bikin program pemusnahan tikus. Tidak sulit toh, disini cuma ada 60 rumah, bayangkan kalau setiap rumah bisa membunuh tikus di rumahnya dengan racun. Satu hari 3 tikus, kemudian diikuti rumah lain setelahnya. Lama-kelamaan pasti habis.”

Abang Ronald sering melontarkan ide-ide bagi kemajuan kampung. Bukan hanya karena dia seorang ketua pemuda di Kampung Arborek, tapi dia memang orang yang penuh dengan intuisi, “Aku ingin orang-orang di Kampung lebih peduli dengan kampungnya sendiri.” katanya.

Kemudian cerita berlanjut tentang kabupaten Raja Ampat. 1600 pulau, aku masih belum membayangkan bagaimana pemerintah kabupaten mengkoordinasikan keadaan pulau-pulau disini. Raja Ampat mengalami pemekaran dari Sorong beberapa tahun sebelumnya, sehingga terpisah menjadi sebuah Kabupaten sendiri.

Selama disini aku lebih banyak melihat ketimpangan. Masyarakat di Sorong misalnya, memiliki level ekonomi yang cukup baik, bahkan tak jarang aku melihat mereka pakai hape model terbaru yang harganya sama dengan motor. Di Waisai, yang notabene ibukota juga memiliki kendaraan pribadi masing-masing.

Meski begitu, saat berkunjung ke pulau-pulau kecil, sekolah saja hanya satu dengan 3 kelas, dengan guru yang sedikit juga mungkin hanya 2 atau 3 orang yang mengajar 5-6 mata pelajaran. Pembangunan memang sangat timpang. Saat aku tanya bagaimana dengan kesehatan dan program-program pemerintah,

“Rumah sakit hanya ada satu disini, itu di Waisai.”

“Loh, kalau semisal yang sakit di Wayag, yang jaraknya ratusan kilometer? Berobat kesana juga?”

“Iya..”

“Kalau mati dijalan bagaimana?”

“Ya sudah, mati saja toh..?” Abang Ronald tertawa kecil.

Aku menyesap satu teh lagi. Aku lebih banyak bertanya, karena kupikir, tidak ada yang bisa diceritakan mengenai kehidupan di Kota. Orang-orang pulau memiliki kehidupan yang lebih menarik dan aku jauh lebih tertarik untuk mendengarkan cerita abang dibanding harus menjelaskan bagaimana caranya naik KRL, berdesak-desakan. Benarkah? Aku jadi sadar bahwa yang aku alami selama ini bukanlah apa-apa.

“Kalau kapal motor itu, tahun berapa masuk di Raja Ampat?”

“Kapan ya, sudah lama.. Mungkin awal tahun 2000..”

Hening. Tikus kembali bergerusuk-gerusuk di atas, ada 3 ekor. Kadang kalau melihat ukuran tubuh mereka, aku jadi merinding sendiri, menyadari betapa besarnya mereka dibanding tikus-tikus yang sering aku lihat keluyuran di gudang rumah.

“Dulu orang masih pakai dayung, dari sini ke Waisai, bahkan ke Wayag atau ke Sorong.”

“Dari Wayag? Ke Sorong?” Aku bengong sejenak. Jarak Wayag ke Sorong hampir 200km, itu ibarat bersepeda dari Jakarta ke Jawa Tengah kalau di darat.

“Dulu kita masih pakai perahu biasa, untuk mancing, atau berkunjung ke rumah keluarga. Tambah layar. Orang-orang jaman dulu itu hebat sekali, mereka hapal arah angin, kapan arus naik kapan arus turun. Jadi mereka atur strategi untuk bisa ke Pulau. Misal, kalau mereka mau ke Yenbuba, mereka harus tunggu arus turun, karena arus dari arah barat ke timur, toh..”

“Lalu mereka nanti berjalan miring, karena angin bertiup berlawanan, jadi mereka atur supaya layar bisa bantu mereka membelah arah angin selagi arus bawa. Kalau arah sebaliknya, mereka berjalan miring untuk potong arus. Kalau tidak ada angin, mereka dayung.”

“Dayung? Badan mereka seperti apa dayung dari sini ke Sorong?”

“Orang-orang jaman dulu itu beda, mereka dulu makan sagu, ikan, patatas, jadi badan mereka keras toh. Lain dengan anak-anak sekarang, makan mie, nasi, ya makanan-makanan begitu yang bikin badan jadi lembek. Saya dulu sempat kebagian dayung waktu kecil, mau main ke Pulau Kri, ke Waisai juga pernah.”

Aku mencoba membayangkan bagaimana rasa perjuangan mendayung hanya demi pergi ke pulau sebelah. Butuh waktu 3 hari untuk ke Sorong.

“Tapi kapal seperti itu hilang, mungkin tahun 2005, karena orang-orang sudah ganti motor. Banyak yang pakai mesin tempel, harga juga murah. Jadi yang begitu sudah tidak ada.”

Padahal kalau budaya itu masih ada, pasti sangat keren. Aku juga ingin mencoba. Anak-anak Raja Ampat sekarang juga pasti sudah jarang mendayung hanya untuk menyebrang. Siapa yang mau melakukan itu? Kalau anak muda Papua sekarang lebih senang dengan gadget dan kehidupan kota, aku malah ingin merasakan kehidupan pulau yang benar-benar penuh dengan keringat. Lebih banyak kegiatan otot, mendorong kapal, mendayung, menebas pohon kelapa, memanjat. Kecuali digigit agas, itu yang paling tidak aku harapkan.

Sadar atau tidak, menjadi modern banyak menghilangkan nilai-nilai orisinil yang kita punya. Sebuah tradisi yang sebenarnya menjadi sebuah jati diri, jadi sudah sangat jarang ditemukan. Tradisi di kampung memang sudah banyak berubah semenjak kata modern muncul, menawarkan segala hal praktis yang bisa dilakukan tanpa harus capek-capek berjuang. Efisien, mungkin. Seperti kapal motor yang sekarang banyak dimiliki orang-orang di Pulau. Padahal kapal kayu dengan sayap kiri kanan yang biasa aku lihat untuk memancing sore hari juga tidak kalah keren, aku sering melihat anak-anak perempuan yang mendayung melewati pantai di Meoskor bulan lalu.

Kami membereskan piring, api dari botol sudah mati karena kehabisan minyak. Suara tikus di atap sudah tidak terdengar, berganti suara hujan rintik-rintik. Arborek benar-benar sepi di malam hari. Bahkan dengan cahaya yang juga menghilang.

“Besok pagi kita berangkat ke Waisai ya..”

Modern itu tidak selamanya keren, malah menurutku kehidupan yang beralas laut dan beratap langit di Papua, jauh melampaui definisi keren itu sendiri. Aku pergi keluar melawan gerimis, memutuskan untuk menghabiskan malam di jetty Arborek, masih belum berhasil menemukan kalabia* di malam hari, jadi kuputuskan untuk mencarinya sekali lagi.

 

*special foto credit to Menas Mambrasar
*spesies hiu berjalan endemik yang ada di papua

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s