Tiga Lapis Pelangi

Standard

Sudah memasuki hari terakhir, bulan Ramadan. Lusa sudah Idul Fitri. Sudah lebih genap sebulan juga aku menjalani petualangan di lautan Raja Ampat. Sudah sangat banyak hal yang terjadi belakangan ini. Saat terakhir aku meng-update kegiatanku di sini, banyak orang kemudian bertanya apakah aku tidak pulang saat lebaran. Atau bertanya, mengapa aku memutuskan untuk tidak pulang akhirnya. Pertanyaan yang rumit, aku sampai tidak mengetahui bagaimana cara menjawabnya. Pun, sejujurnya aku tidak memiliki alasan pasti mengapa aku memutuskan untuk tinggal.

Hari Jum’at terakhir di bulan Ramadan. Aku sedikit menyesal karena tidak bisa memaksimalkan ibadah di hari jumat terakhir ini karena harus kembali ke Waisai untuk merayakan lebaran disana, kemudian menuju Arborek dan tinggal untuk beberapa hari bersama keluarga Abang Ronald. Saat perjalanan dengan boat kemarin, kami memutuskan untuk pergi saat sore hari. Laut mulai teduh, karena sejak pagi tadi angin kencang dan hujan terus menerus. Hujan baru saja reda pukul 2 siang, dan matahari baru memutuskan untuk muncul.

Usai memindahkan semua barang-barang menuju boat este, akhirnya kami meninggalkan Waisai menuju Sorong karena Abang harus mengembalikan semua barang-barang milik CI di akhir masa fiskal. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di hotel selama 2 hari, meski aku sempatkan untuk melaksanakan tarawih di Masjid Agung Al Akbar, Sorong. Masjid yang megah, bahkan menjelang hari terakhir, shaf penuh sampai dengan ubin paling terakhir di tempat laki-laki.

Bacaan Imam malam itu, membuatku sedikit gemetar, karena speaker menggelegar keseluruh isi masjid. Suara yang merdu, dan membuatku luluh, sama seperti saat-saat melaksanakan shalat di mafaza. Imam mengatakan bahwa saat itu adalah malam jumat terakhir, dan mendoakan bahwa semoga kami semua bisa bertemu dengan Ramadan di tahun yang akan datang.

Bagiku, Ramadan tahun ini adalah Ramadan yang cukup berat karena harus kuhabiskan sebagian waktu di lapangan, apalagi cuaca saat hujan badai. Saat shubuh di Meoskor, hampir sulit untuk memasak ketika cuaca sedang buruk, dan kadang makanan sudah habis lepas makan malam. Jadi aku hanya sahur dengan segelas air putih saja. Siang hingga petang kemudian kegiatan survey yang tak jarang saat matahari terik, tapi saat aku menyadari, aku bisa bertahan sampai waktu maghrib tiba. Ketakutanku saat awal dahulu memang tidak menjadi kenyataan, dan sekarang memasuki hari terakhir, aku berhasil menjalani puasa sebulan penuh.

Dari Sorong, kemudian kami memutuskan untuk pergi ke Waisai, satu hari lebih cepat dari biasanya karena akan ada pertandingan persahabatan di Kampung Yenbuba, pulau yang terletak di sebelah Pulau Kri. Abang Ronald mendapatkan jadwal tanding sehingga sore kami harus berada disana. Saat berangkat cuaca sangat mendung, dan gerimis rintik-rintik mulai terasa saat kami turun dari mobil usai diantar Om Mae menuju dermaga Sorong.

“Rafid kalau semisal angin kencang ditengah jalan nanti, kita singgah di Arborek saja dulu ya, besok pagi baru kita ke Waisai.”

Dan benar, ditengah perjalanan angin bertiup cukup kencang. Ditengah-tengah perjalanan, awan hitam menggelayut diatas kami dan menurunkan hujan rintik-rintik, perlahan, kemudian semakin menderas. Abang menawari aku mantel, tapi tubuhku sudah terlanjur basah kuyup.

“Tidak usah abang.” Kataku, kemudian boat kembali melaju dengan kencang melawan angin. Boat penuh dengan barang-barang karena lusa akan ada upacara adat di kampung, Abang Ronald bilang syukuran karena Abang Marcel memiliki boat baru. Ditengah angin dan hujan yang menderas, ada sisi terang di bagian laut lain, dan samar-samar muncul pelangi yang sangat besar di kejauhan. Awalnya hanya satu, kemudian saat boat terus melaju, 2 pelangi lain terlihat, berpasangan. Aku melihatnya sambil mengernyit karena hujan turun melalui wajah dan dengan angin yang bertiup, titik-titik hujan itu bagai jarum yang menusuk-nusuk. 3 lapis pelangi. Baru pertama aku melihat yang seperti ini. Selang beberapa menit, kemudian hujan mulai reda, dan kami tiba di Pulau Arborek untuk menurunkan barang-barang.

Kakak Abang Ronald ikut singgah di Kampung Yenbuba, bersama dengan Eto, Lady, Ika dan Rosel. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Eto dan Lady. Mereka bocah kecil berusia 6 tahun yang membantu kami membawakan barang-barang dan merupakan keponakan Abang Ronald. Dua anak ini keheranan melihat sebuah jaket yang bisa dilipat menjadi tas milik Abang Ronald.

“Dia ni bisa jadi tas lho” Ucap Rosel, membuat kedua anak kecil itu heran

“Iya kah?”

“Coba!”

Rosel mencoba untuk melipat, tapi dia tidak bisa. “Kau buat kacau saja!” tegur Lady, “Kasi mas sudah!”

Aku duduk disamping mereka bertiga dan memerhatikan. Kemudian aku menunjukkan mereka bagaimana cara melipat jaket tersebut menjadi tas. Eto terlihat sangat antusias dan kegirangan, sambil berkata, “Wow!” beberapa kali.

Kemudian Lady mengambil sebuah sepatu milik abang yang baru saja dibeli, “E itu ukuran berapa kah?”

“42!”

“Kau bohong saja, itu dibaca 24 lha!”

“E, kau baca tu dari angka pertama dulu, lihat itu angka 4 setelah angka 2, jadi dibaca 42!”

“Betul aku lha, 24, setelah itu kan 25, 26,..” Eto menghitung menggunakan jari. Keduanya berdebat selama beberapa saat dan aku hanya tertawa melihat mereka, karena Lady menyerah memberitahu Eto yang tetap keras kepala. Mereka berdua masih kelas 1 SD

Boat kemudian melaju selama beberapa menit dan tiba di Kampung Yenbuba. Sebuah kampung kecil di sebuah pulau dengan pasir yang sangat putih. Saat air surut, pasir-pasir putih yang terendam air akan menjadi jembatan penghubung Pulau Yenbuba menuju pulau Kri disebelahnya. Air sangat biru dan lautan sangat tenang. Bisa aku lihat sekumpulan koral yang sangat sehat dan kerumunan lamun hijau beberapa meter dari pantai. Pulau yang sangat bersih.

IMG_20170623_181719

Kampung Yenbuba, Raja Ampat

Kami langsung menuju ke lapangan tempat orang-orang bermain. Usai menyaksikan pertandingan voli putri antara anak-anak SMK kampung Yenbuba melawan Arborek. Menjelang 17 Agustus, kampung-kampung di Kecamatan Mansuar biasa mempersiapkan tim mereka untuk bertanding. Ada dua cabang olahraga yang dilombakan; yaitu voli dan bola kaki. Orang-orang Papua Raja Ampat memiliki bakat yang sangat natural dalam olahraga, meski hanya berbekal sepatu atau bahkan bertelanjang kaki, mereka biasa bermain bahkan saat matahari terik sekalipun.

IMG_20170623_155351

Pertandingan Voli Putri

Pertandingan sore itu berlangsung sangat ramai dengan skor 2-1 dan kemenangan bagi tim kampung Yenbuba. Gadis-gadis Arborek yang ikut menonton tak jarang berteriak saat bola hampir masuk ke gawang tim Yenbuba.

“E jangan kau kasi tunggu!”

“Hajar, hajar sudah!”

“Aaaaaaaa…. Andalan memang! Nomor 18 andalan! Ko main bagus sekali!”

Saat pemain 18 keluar lapangan dan digantikan oleh pemain nomor 14. Atau berteriak karena banyak dari pemain yang mengalami cidera.

“Linus! Linus! Ko ambil bola itu!”

Kemudian gadis-gadis berteriak saat salah satu pemain terjatuh dan hampir mencetak gol. Dengan bahasa daerah, tak jarang mereka malah bergosip tentang pemain-pemainnya. Aku yang duduk di tanah di depan mereka hanya bisa tertawa melihat tingkah laku mereka. Valen, Ibet dan Rosel tak kalah semangat menyaksikan pertandingan karena bapak mereka bertanding.

IMG_20170623_161345

Pertandingan Bola Laki-Laki

Matahari kemudian terbenam pukul 6 sore, lapangan yang terbingkai dengan hutan lebat mulai gelap. Satu persatu orang-orang pergi meninggalkan lapangan dan berkumpul di sebuah rumah untuk makan bersama. Beberapa sudah kembali ke pulau masing-masing menggunakan boat, orang kampung Arborek diantar oleh boat milik Abang Marcel.

Angin mulai bertiup beberapa saat kemudian, hujan turun rintik dan menderas. Mama-mama di kampung kemudian turun ke air, mandi dan membantu membersihkan boat sambil sesekali bermain dan menyiramkan air ke daratan hingga membuat semua orang kebasahan. Pemandangan yang hampir belum pernah kulihat. Anak-anak juga ikut bermain dan menceburkan diri ke air, meski angin dan hujan mulai menderas, mereka masih saja asik tertawa.

IMG_20170623_181447

Orang-orang bersiap pulang, langit mulai gelap

Sudah waktunya berbuka, Kakak Abang Ronald memanggilku sambil berteriak karena aku berlindung dibawah atap sebuah rumah sendirian. “Rafid, so masuk waktu buka, masuk dulu!” katanya sambil melambaikan tangan. Aku memang sejak tadi mencari-cari orang karena tidak ada siapapun disana, untuk meminta air putih untuk berbuka.

Saat masuk ke sebuah gubuk yang ternyata milik Paman Abang Ronald, seteko berisi teh panas sudah disiapkan bersama dengan pisang goreng. Listrik mati malam itu, dengan ditemani Kakak Abang Ronald dan Megi, keponakan Abang kami menikmati teh panas sambil menunggu hujan sedikit reda. Sesaat itu, kami bercerita tentang beberapa hal, terutama tentang Yenbuba dan cerita keluarga Abang disana, yang notabene satu kampung mereka memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.

IMG_20170623_180935

Abang Ronald (kiri) dan Kampung Yenbuba Sore Hari

Aku ingat kata Om Daud saat di Meoskor, saat orang Papua ingin menikah mereka tidak boleh menikah dengan orang yang berasal dari kampung yang sama, hal itu karena sebenarnya mereka terikat dalam satu garis keturunan. Terutama di Kampung Pam, karena peradaban di Kampung Pam berasal dari satu keluarga. Tapi kemudian, banyak orang yang menikah dengan orang-orang yang berbeda pulau dan district dan akhirnya pindah menetap ke Yenbuba maupun Arborek.

Saat hujan sudah mulai sedikit reda, kami menuju boat este. Langit sudah gelap dan tidak terlihat apapun, dengan boat kecil itu kami pulang dengan 9 orang lain, anak-anak kecil Arborek yang tidak kebagian tempat di boat milik abang Marcel. Sedikit gerimis, tapi kemudian, langit berubah menjadi tak berawan dan berhias bintang yang bertabur bagai glitter yang tumpah, sangat banyak. Kampung Arborek mati lampu sejak sore, sehingga tak ada satupun cahaya, membuat pemandangan bintang itu jadi terlihat jelas. Aku yakin sepanjang perjalanan tadi, jika matahari masih terlihat aku bisa melihat matahari 3 lapis seperti sore kemarin dalam perjalanan menuju Sorong.

Tapi saat perjalanan bersama mama-mama dan anak-anak kampung Arborek juga sangat menyenangkan. Boat milik Abang Marcel dan este berjalan beriringan, kami menggunakan cahaya bantu dari lampu senter ponsel untuk memberi sinyal agar bisa melihat satu sama lain. Tapi mereka sering membuat lelucon dengan menyenter wajah mereka dengan senter atau tangan-tangan mereka, membuat kami yang di boat semua tertawa.

Saat boat abang Marcel tertinggal, boat kemudian melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi.

“Ih, dia laju sekali!” kata seorang anak di sampingku yang aku tidak bisa melihat wajahnya karena gulita

“Dia mau pamer saja!” Kata mama abang Ronald. Boat este kemudian tidak mau kalah, abang menambah kecepatan sampai-sampai kami yang duduk di bagian belakang hampir terjungkal.

“Eee….. pelan-pelan kah!” sebagian orang kemudian kebasahan karena terkena cipratan baling-baling mesin.

Pada akhirnya, aku memang tidak memiliki alasan yang kuat mengapa aku memutuskan untuk tinggal disini selama idul fitri, tapi aku bersyukur karena Ramadan di Raja Ampat jauh lebih berwarna. Kerendahan hati mama-mama selalu membuat aku menjadi mendapatkan keluarga baru disini, perbedaan agama malah menjadi sebuah ikatan yang membuat kami jadi bisa menghormati satu sama lain. Dan sepanjang perjalanan ini, aku bisa belajar banyak hal, dan petulangan di depan, pasti akan jauh lebih berbeda dan menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s