Hai, Teman. Cepat Sukses Ya, Cepat Menjemput Jalan Hidup Masing-Masing

Standard

Barusan semalam, mendengar kabar bahwa salah satu kawan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa kuliah Master di salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Beasiswa prestisius yang diinginkan oleh banyak orang. Aku sudah lama tidak melihat wajah kawanku itu lagi. Jamal namanya. Setelah terakhir wisuda desember 2016 kemarin, hanya selang seminggu aku akhirnya resmi pergi dari Purwokerto. Jamal sempat hadir dan mengucapkan selamat, saat itu penelitiannya masih berjalan, dia memang agak sedikit terlambat lulus.

Semester 4 dulu dia sempat cuti karena mengikuti ekspedisi ke salah satu wilayah kepulauan di Indonesia, sehingga kuliahnya sempat tertunda selama satu tahun. Itu masih alasan wajar kalau Jamal jadi terlambat lulus. Tapi meski begitu, IPK nya adalah IPK terbesar dibanding anak-anak satu jurusan, bahkan mungkin satu angkatan di Fakultas. Aku mengenal sosok Jamal sebagai sosok yang sangat telaten dan rajin sewaktu kuliah, sedikit perfeksionis juga kalau dalam masalah akademik. Saat sering berdiskusi soal kuliah, Jamal sering menjadi pelurus dalam setiap ke-sotoy-anku selama kuliah, karena setiap diskusi aku lebih sering asal sebut, jarang membaca jadi sok tahu.

Wajar, sewaktu kuliah aku memang jarang serius, karena hampir semua mata kuliah tidak ada yang aku suka. Dosennya juga, jadi aku sedikit kurang hormat saat kuliah, hehe.

Tapi Jamal merupakan salah satu sosok yang membuatku banyak belajar tentang kerendahan hati, dan juga membuatku jadi lebih mampu menghargai orang, siapapun itu. Mendengar cerita perjuangan Jamal untuk bisa kuliah, adalah salah satu teguran bagi kesombonganku bahwa setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, dan kita tidak berhak untuk memberikan penilaian apapun.

Saat bertemu, untuk mungkin terakhir kalinya makan malam bersama malam itu di warung nasi goreng dekat kosan, aku lebih banyak bertanya tentang rencana setelah lulus kuliah. Tak ada lagi yang bisa didiskusikan, karena kami sudah tinggal menghadapi wisuda saja, biasanya saat bertemu dengan Jamal pasti membicarakan soal tugas kuliah. Kalau mengingat soal itu, kadang aku suka kembali terjebak dalam masa lalu yang aku takut untuk mengingatnya lagi.

Jamal lebih banyak berkata tidak tahu dan tidak memiliki rencana apa-apa, “Ya, lihat saja Fid rezeki nya gimana.” Meski aku tahu sebenarnya dia sudah menyiapkan rencana-rencana kedepan, hanya mungkin dia tidak ingin menceritakan padaku pada saat itu. Saat-saat setelah lulus kuliah memang masa yang paling rentan dalam hidupku, karena aku seolah kehilangan pijakan keyakinan akan menjadi apa setelah nanti.

Pasti, pasti seperti itu. Tiba-tiba saja rasa percaya diri seperti menguap, dan idealisme saat kuliah menjadi hanya abu yang bisa dijual murah. Itu realita yang terjadi.

Saat itupun, aku tidak punya spasi kosong untuk khawatir akan jadi apa teman-temanku kelak. Tapi sejatinya memang, setelah lulus kita jadi tidak peduli lagi akan jalan hidup yang dipilih oleh masing-masing individu. Saat kuliah dulu, aku begitu khawatir akan teman-temanku yang sangat pasif dan jarang mengikuti kegiatan ekstra di kampus, bahkan untuk ikut organisasi saja jarang. Aku sering berpikir ingin jadi apa sebenarnya mereka, apa tujuan hidup mereka? apakah mereka memiliki kesempatan untuk tetap bekerja secara linear dengan jurusan yang mereka ambil?

Karena aku saat itu, adalah tipe orang yang berusaha mati-matian untuk bisa bersaing dan mendapat tempat setelah lulus nanti, dengan mengikuti segala jenis kegiatan yang bisa aku ikuti. Aku terlalu egois.

Jamal pun, aku merasa begitu. Aku dulu sempat khawatir dengan dirinya, karena dia adalah salah satu orang yang aku harapkan sukses di angkatanku nanti. Kecerdasan dan ketekunan Jamal, adalah  yang membuatku yakin bahwa dia bisa memperjuangkan nasibnya sendiri. Setelah beberapa lama, akhirnya aku mendapatkan kabar yang membahagiakan, bukan hanya dari Jamal tetapi dari kawan-kawan lain setelah kuliah dahulu.

Aku jadi mengerti bahwa jalan hidup setiap orang itu memang berbeda-beda, saat aku mendengar Jusac diterima kerja di sebuah perusahaan retail, atau Ridho dan Shendi yang diterima di perusahaan e-commerce terbesar. Aku jadi bisa lebih menghargai pilihan dan jalan hidup setiap orang. Mungkin karena kebaik-kebaikan hati mereka semasa kuliah yang membuatku menjadi mengerti bahwa setiap orang memiliki jati diri dan nilai yang sama dari setiap kita, dan tidak benar untuk memandang seseorang dengan level-level tertentu.

Pada akhirnya itulah pilihan dalam hidup yang harus dipilih. Ketika mendengar kabar Jamal pun, aku sangat bahagia atas prestasi yang lagi-lagi dia torehkan, dan aku bangga bahwa akhirnya dia bisa menjadi orang yang mengubah nasib keluarganya, bahkan kelak adik-adiknya.

Saat kita bisa bahagia, melihat kebahagiaan orang lain, kupikir itu adalah definisi bahagia yang paling sebenarnya, paling hakiki. Meski jauh sekarang, aku tetap menantikan kabar bahagia yang bergulir dari kawan-kawanku di luar sana.

12362663_10200978123812062_5929784386335468208_o

Kalau ingat ini, lucu bagaimana susahnya menyatukan 40 kepala hanya untuk sekedar berfoto bersama

“Hai, teman, cepat sukses ya, cepat menjemput jalan hidup masing-masing”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s