Melihat Lebih Luas

Standard

Musim selatan sudah mulai bergulir di Papua, seluruh lautan sekarang lebih sering bergejolak, terutama pada sore hari. Disini, air laut mengalami 2 kali fase pasang dan surut. Pukul 9 pagi, air biasa mulai turun sampai dengan jam 3 sore, kemudian mulai kembali pasang sampai jam 9 malam begitu seterusnya. Saat akan melakukan survey, kami biasa memilih waktu-waktu yang bertepatan saat arus mulai kencang, atau beberapa jam setelah air mulai turun, kencang tapi tetap stabil sehingga kegiatan bawah air masih bisa dilakukan.

Hal ini Karena pari manta biasanya menyukai perairan berarus kencang, Karena mereka melakukan aktivitas makan dengan menyaring air. Plankton-plankton kecil yang terbawa arus biasa berkumpul dalam satu patch, dan manta akan berenang melawan arus untuk menjebak sekumpulan plankton tersebut masuk ke mulutnya. Sebelum kembali menuju Waisai kemarin, hampir beberapa hari kami terkena angin selatan, biasanya angin mulai pada sore hari, menjelang air turun, Karena terjadi perbedaan arah antara arus dan angin, keduanya mengalami gesekan dalam satu momentum, dan terciptalah gelombang yang semakin meninggi dan menguat sesuai dengan intensitas keduanya.

Gelombang yang tercipta bukanlah gelombang dengan puncak yang rendah, melainkan gelombang yang tingginya bisa mencapai 1,5 meter. Meski seringkali cuaca sangat cerah, dengan awan dan matahari yang terik, gelombang bisa saja ekuivalen dengan gelombang badai yang terjadi di lautan lepas. Saat musim selatan, Mama Anggi bilang tidak ada orang yang berani keluar rumah, mengingat jarak rumah masyarakat dengan laut saat di Pulau tidaklah jauh. Laut biasa berubah berwarna putih, tetutup awan tebal yang menyelimuti. Tidak bisa terlihat apapun, angin kencang hingga tidak ada pepohonan apapun yang tenang, pelepah-pelepah daun pisang pasti berputar-putar tertiup angin. Saat malam, cuaca akan sangat dingin apabila ditambah dengan hujan.

Saat itulah orang-orang biasa berhenti beraktivitas, nelayan tidak ada yang melaut sehingga stock ikan akan menurun. Saat pergi makan kemarin, ikan-ikan yang disediakan di beberapa tempat makan sudah cenderung tidak segar. Di Pulau, saat Abang Ronald selesai memancing, ikan dengan segera dimasak dan disantap saat malam hari, jadi rasanya masih segar dan gurih, beda dengan ikan-ikan yang biasa di jual di pasar-pasar di Jakarta.

Bahkan, saat aku ditanya apakah aku sering makan ikan atau tidak, mereka selalu bilang ikan yang dijual di Jakarta pasti sudah mati bekali-kali, artinya, ikan tersebut sudah berpindah tempat dari pendingin satu ke pendingin lain. Rasanya jelas sudah berbeda. Umi biasa memasak ikan dengan bumbu yang sudah dibuat, sehingga rasa segar atau tidak, itu tidak terlalu terasa. Lagipula, ikan yang biasa aku makan di rumah hanya ikan tenggiri saja dan ikan teri yang sudah dikeringkan.

wp-1497855888906.

Berlabuh sebentar ke Pulau Andau

Banyak hal-hal yang baru saja aku mengerti ketika hidup di laut. Bahwa kehidupan di laut berkali lipat lebih sulit dibanding hidup di darat. Terutama saat musim-musim seperti ini yang dinamakan musim mati karena orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah dibanding diluar. Saat kami harus menyebrang pulau, melewati selat-selat antara pulau, gelombang biasa lebih tenang. Tetapi ketika melewati lautan lepas tanpa penghalang, gelombang dan angin sangat besar. Dengan boat este yang kecil, badan biasa terbanting-banting di atas boat karena boat bisa saja melayang.

Abang Ronald biasa mengendarai boat este dari Waisai menuju Arborek, saat angin kencang dan gelombang tinggi, dia biasa menyiasati dengan berkendara boat melalui pinggir-pinggir pulau. Hal ini jelas menambah waktu tempuh, dan juga menghabiskan lebih banyak bahan bakar. Kalau di daratan, strategi semacam ini tentu tidak begitu diperlukan, apalagi saat mengendarai mobil, karena seburuk-buruknya cuaca di darat, orang-orang masih bisa nyaman berkendara dengan mobil tanpa takut tenggelam atau hanyut. Kalau di laut, jelas resiko yang dihadapi sangat besar.

“Abang saya ikut ke Sorong dengan abang ya, saya mau ada cek komputer disana.”

“Ya, bagus toh, supaya nanti sa ada teman, kalau hanyut bisa ada teman berenang”

“Nanti sa hanyut sendiri, abang selamat, abang punya fin lebih besar toh?”

Perbincangan dengan Abang Ronald memang tidak pernah serius. Dia lebih sering bercanda dan mem-bully ku dengan jenis-jenis yang lebih baru. Tetap begitu, dia salah satu kakak di lapangan yang paling bisa diandalkan. Saat sore di Meoskor aku pernah bertanya mengenai pilihan-pilihan mengapa dia mau bekerja di CI selama beberapa tahun. Dan jalan ceritanya memang tidak mudah, mulai dari menjadi pembawa tabung oksigen, jadi orang yang sering disuruh-suruh, sekarang setelah beberapa tahun Abang Ronald menjadi orang kunci bagi sukses nya kegiatan di lapangan.

Meski sekarang, pekerjaannya juga tidak lebih ringan bahkan lebih berat. Selama hampir setahun dia terus berkeliling Raja Ampat. Bulan ini seharusnya libur, tetapi harus terbebani karena kedatanganku untuk melaksanakan pekerjaan selama beberapa bulan di Raja Ampat. Meski masih dalam satu daerah provinsi, untuk mengunjungi tempat di Raja Ampat cukup jauh, tak jarang saat aku melihat Abang Ronald pulang kerumah, dia paling merindukan anak-anaknya, terutama Ika dan Valen.

“Dulu saya juga seperti kamu toh, bekerja jadi anak magang, disuruh-suruh, isi tabung. Ya sama saja.. hidup itu proses toh?”

Perjalanan yang panjang memang akan membentuk karakter seseorang. Yang aku heran, mengapa dia masih memilih jalan sebagai salah satu staff. Padahal, adiknya saja bisa lebih sukses untuk menjalani bisnis. Kupikir, dia bisa juga sukses menjalani bisnis serupa, karena di rumah tempat tinggalnya baru adiknya yang menjalankan bisnis diving bawah laut. Tapi aku dengar dia sedang membuat homestay baru sebagai salah satu pendapatan tambahan di Arborek.

Masih banyak hal yang belum kuketahui mengenai kehidupan ini. Kehidupan mengenai orang-orang yang menjalani hidup dengan cara-cara yang berbeda. Perjuangannya juga tidak mudah. Pergi jauh, sejatinya adalah untuk mengajarkanku untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa setiap manusia memiliki karakter unik yang bisa membuat kita kagum karena kita tidak memiliki karakter itu dalam diri kita sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s