Tolong Pergi Sebentar Saja

Standard

Nyatanya, hal tersulit saat ini, adalah ketika aku kembali mengingatmu untuk yang kesekian kalinya. Meski sudah begitu lama kita tidak berbicara satu sama lain. Apakah kamu mengerti bagaimana perasaan rindu itu yang selalu saja datang menyerbu. Kupikir, dengan sering berada di luar dan menyibukkan diri, aku bisa lebih sedikit menikmati banyak waktu sendiri. Tapi senja selalu datang berbeda, meniupkan angin sore yang dinginnya, selalu saja berbeda.

Terkadang, di dermaga, saat aku menyaksikan garis yang membelah lautan dan langit semakin menghilang karena matahari sudah tenggelam, aku akan bisa kembali tenang. Tenang dengan diriku sendiri, memaafkan diriku sendiri atas hal-hal yang sudah lewat. Mengapa aku masih terus-menerus menyesalinya?

Kalau aku bisa meminta, aku hanya ingin kau dijauhkan dari pikiranku sedikit saja, sebentar. Tetapi setiap kali kuminta itu, lukis-lukis wajahmu selalu saja kembali ketika diriku lalai untuk memikirkan satu hal, sehingga ruang kosong itu, kembali terisi oleh bayang-bayangmu. Tak bisakah pergi, barang sebentar saja?

Memendam perasaan itu sangat menyakitkan, terlebih saat aku selalu dibayang-bayangi rasa takut akan kehilangan. Mungkin kamu akan bahagia sepenuhnya, bahkan dengan aku yang masih sendiri dan masih berharap mendapatkanmu suatu saat nanti. Seperti lagu Labyrinth – “Jealous”, mungkin kamu akan bahagia tanpa ada kehadiranku sama sekali. Itu menyakitkan, sedikit. Sedikit itu, tapi selalu menggerogoti diriku saat aku tiada berteman dengan siapapun, meski angin selalu ada disana untuk membantu meredakan memar yang membengkak.

Senja, selalu jadi penghibur, setidaknya itulah saat-saat dimana aku bisa optimis bahwa akhir selalu bisa berujung bahagia. Hujan badai di Papua akhir-akhir ini, juga selalu bisa berakhir dengan senja yang menguning dari barat Pulau Napsi, dengan sedikit riak-riak gelombang yang beriringan dengan arus dan angin. Indah.

Sebelumnya aku tidak pernah mengharapkan siapapun untuk melihatnya, aku begitu egois ingin menikmatinya sendiri. Tapi sekarang, kupikir akan lebih menyenangkan ketika bisa melihatnya bersamamu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s