Senja di Pulau Agas

Standard

Lautan di Meoskor masih tenang pukul 9 pagi. Kemarin-kemarin, pukul segini, air masih sangat tinggi dan hujan turun deras, sampai-sampai jetty kecil di Pulau penuh dengan air. Hari ini matahari cerah, meskipun tertutup banyak awan, semua orang sudah pergi ke Sorong sejak kemarin. Hanya tersisa aku, Abang Ronald, Abang Menas, Om Daud, Mama Anggi dan Atis. Tidak disangka suasana di Pulau bisa segini sepi. Biasa sudah terdengar tawa atau teriakan-teriakan dibawah, saat orang-orang sarapan. Atau suara tepuk-tepuk badan sendiri karena gatal digigit agas.

Badanku sendiri sudah hancur digigiti agas di Pulau, Abang Menas bilang, Pulau ini adalah kerajaan agas. Serangga kecil, seukuran semut gula yang terbang dan hinggap di badan, menggigit tanpa ampun. Nyamuk masih sedikit mending, karena gigitannya masih terasa, sementara agas, tahu-tahu mereka sudah menyerbu, dan menggigit, esok hari badan gatal setengah mati dan bentol-bentol besar. Kaki dan tanganku sudah merah-merah bentol terserang agas, dan setiap malam, gatal itu selalu menyerang.

Meski lusa lalu sudah ke Waisai untuk membeli obat salep penghilang gatal, gatalnya tetap tidak mau hilang. Pagi sampai malam, harus selalu dioles losion anti nyamuk, kalau tidak agas pasti menyerang lagi. Cuaca memang sangat tidak menentu, membuat keberadaan agas dan nyamuk juga jadi tidak bisa diprediksi. Mama Anggi bilang, saat air laut mulai naik agas mulai meng-invasi pos tempat tinggal, karena mereka hidup di akar-akar pohon mangrove.

Hanya ada aku bertiga dengan Om Daud dan Abang Menas pagi ini. Mereka sibuk memancing di Jetty, sementara aku memang lebih suka menyendiri dan duduk di meja kayu dari pohon kelapa yang menghadap tepat ke Pulau sebelah, Desa Saupapir. Abang Ronald, Mama dan Atis pergi ke kebun milik Om Daud untuk memetik beberapa pisang sejak pagi jam 7 tadi dan belum kembali. Hari ini, kami berencana untuk pergi dari Meoskor menuju Waisai, aku perlu pergi ke dokter untuk mengurus gatal-gatal karena agas, dan keperluan untuk logistik karena minggu depan aku akan pergi ke Arborek dan tinggal bersama Abang Ronald serta keluarganya.

wp-1497513334055.

Suasana dari Pulau Meoskor, Pagi Hari

“Kau lebih baik cepat pergi dari tempat ini sudah, badanmu bisa tambah habis digigit agas itu. Kulitmu belum terbiasa, toh?” Kata Abang Ronald saat pagi tadi kami mendiskusikan rencana mengenai perjalanan lapang.

Selama lebih 2 minggu kemarin sangat banyak kejadian di Meoskor, gatal-gatal digigit agas hanyalah kejadian rutin yang tidak perlu terlalu panjang lebar diceritakan. Tapi setiap pagi aku terbangun dan turun menuju bawah, Abang Menas biasa berteriak, “Pagi komandan!” sambil hormat dan tertawa. Komandan, sebutan baru. Ini semua karena Kakabu yang asal menyebut sore itu.

Kapal illegal penangkap hiu berhasil diamankan oleh tim patroli Kampun Fam, mereka tertangkap sedang menjemur sirip hiu di dekat kampung, semua barang bukti sudah mereka buang kelaut, termasuk badan-badan hiu tanpa sirip yang sudah mereka bunuh. Siang setelah kami selesai survey, Mas Abdy, Om Daud dan Kakabu pergi menggunakan kapal yaswal, kemudian kembali saat sore pukul 4. “Rafid, Rafid!” Mas Abdy dan Abang Menas berteriak dari jetty. Aku langsung turun lepas shalat ashar, kukira mereka melihat manta di dekat jetty, seperti februari lalu, tapi saat aku turun ternyata jetty ramai dengan 3 kapal yang berlabuh.

Satu kapal rawai, milik pencuri hiu, satu kapal “Romun” milik tim patroli kampung dan satu lagi yaswal. 3 orang laki-laki kemudian turun dan dipaksa duduk di jetty dengan rasa takut. Kakabu menceritakan bahwa mereka ditangkap dan digiring ke Kampung Pam, masyarakat sudah geram dan mau menggantung mulut mereka dengan kail rawai, seperti yang mereka lakukan pada hiu,

“Biar rasa mereka jadi hiu!” Kata Kakabu, mengutip teriakan orang-orang kampung. Satu dari mereka berusia paling muda menangis dan mereka bertiga menjadi bulan-bulanan tim patroli. Menangkap hiu memang dilarang di Raja Ampat, karena spesies ini sudah dilindungi oleh peraturan provinsi. Ketiga pencuri itu berasal dari Sulawesi. Aku menyaksikan sangat canggung dan memperhatikan mereka diinterogasi oleh tim patroli, termasuk Abang Menas, Kakabu dan Mas Abdy.

wp-1497508982443.

Kampung Pam, Raja Ampat

“Kalau begini, memang paling enak interogasi penjahat macam mereka.” Bisik mas Abdy padaku.

“Fid, Mas Abdy dibilang ketua mariner sama Kakabu.” Ucap Abang Menas. Kakabu sendiri berpura-pura menjadi polisi air dan sibuk membentak-bentak mereka bertiga agar jera. Parahnya, ketiga orang itu percaya kalau Kakabu anggota polisi air. Kami semua ber-akting diatas jetty dan seolah-olah tegas, padahal sehari-hari aku sering sekali melihat mereka bercanda dan mem-bully satu sama lain.

“Kalian lihat itu, orang yang berdiri di samping saya? Dia ini komandan mariner daerah perbatasan, sedang jaga di pos ini. Dia ini memang diam sekali, tapi kalau dia mau dia bisa suruh kalian berenang dan dia tembak kalian di laut!” Kata Kakabu menunjuk padaku. Aku menahan napas. HMMM!! Jadi canggung sendiri, aku berjalan pelan ke sudut, melihat abang menas yang menyembunyikan wajah dan tertawa-tawa meledak yang ditahan.

“Apalah Kakabu ni, aku dibilang komandan mariner.”

Abang Menas tertawa sambil berbisik-bisik dan tetap menyembunyikan wajahnya dibalik dinding jetty karena takut ketahuan. Ketiga orang itu akhirnya dibawa ke desa untuk diadili dan membayar denda. Sejak saat itulah orang-orang jadi sering memanggilku komandan mariner. Bahkan saat tim Komunikasi, Kaka Bertha dan Kaka Merry datang usai menyelesaikan kegiatan di Kampung Pam dan Saupapir mereka datang dan hormat sambal tertawa-tawa.

Kami menjalani survey seperti hari-hari biasa setelah Abang Ronald kembali dari Sorong dan memperbaiki boat ESTE, sebelumnya kami biasa survey menggunakan boat fibre milik Om Daud, kadang diantar Om, atau kadang Abang Menas dan Atis yang mengantar. Karena gelombang tinggi kami berkali-kali hampir terpelanting karena kapal terbang dan terbanting ke air. Saat kembali ke Waisai kemarin menggunakan boat ESTE, gelombang juga sangat tinggi, Abang Ronald membawa boat dengan sangat cepat, mengingat boat penuh dengan barang-barang, aku jadi duduk di samping kanan dan berpegangan pada tali.

Pulang-pulang, pinggangku sakit karena menahan hantaman selama 2 jam. Tapi sepanjang perjalanan, aku merasakan pertama kalinya buka puasa ditengah laut dengan gelombang tinggi disebuah boat kecil, karena kami baru kembali ke Meoskor pukul 7 malam. Perjalanan yang menyenangkan, aku jadi sadar bahwa laut merupakan ciptaan Allah yang paling mengagumkan. Sepanjang perjalanan kembali kami melihat banyak hal, ada ikan marlin yang melompat-lompat berburu. Sekawanan lumba-lumba. Elang laut yang berburu ikan, dan juga sekumpulan ikan cakalang yang membuat Mama Anggi ingin sekali memberhentikan boat dan memancing. “Onal cakalang!” 

Kami melakukan diving di beberapa spot, Abang Ronald bilang spot itu adalah wilayah cleaning manta, tapi dia tidak tahu pasti apakah betul. Saat penyelaman pertama, kami melihat 2 manta berenang di bawah, Abang langsung girang dan berteriak di dalam air. Kami lupa membawa kamera untuk mengambil gambar, aku menunggu dibawah dan dia kembali keatas untuk mengambil kamera milikku juga.

wp-1497508983033.

Tak lama, kami melihat satu manta berputar-putar disekitar terumbu. Usai meletakkan kamera jebakan diatas karang, kami berdiam dibawah sambil memerhatikan perilaku manta, manta itu cukup unik karena meskipun dia sudah menyadari keberadaan kami, dia malah berenang mendekat, berputar-putar disekitar kami. Dia melihat, mengintip, berenang mendekat, menjauh. Bahkan saat kami selesai dan melakukan safety stop di kedalaman 5 meter, manta itu masih mengikuti di belakang kami. Benar-benar ikan yang mengagumkan.

wp-1497513282562.

“Benar kan, itu tempat cleaning, apa ku bilang. Pasti disini, bukan di tanjung-tanjung sana apa yang dibilang Pak Mark itu!”

“Tempat ini namanya sekarang ‘Onal Point’!” Kata Abang Ronald dengan sangat percaya diri.

Pada minggu itu juga, aku berhasil membawa boat untuk yang pertama kali. Meski orang-orang banyak memanggil diriku komandan, tetap saja aku bilang. “Komandan magang, yang selalu diomeli Abang Ronald” karena penyelaman kemarin aku sangat kikuk dan seperti penyelam pemula. Meski begitu, Abang Ronald memang sosok kakak laki-laki yang tidak pernah aku punya. Selama lebih dari 2 minggu ini, aku banyak belajar. Bahkan perbincangan siang itu juga jadi saat dimana aku bisa banyak mengenal perjuangannya di lautan Raja Ampat. Dia kerap mengajari aku memancing, meski hanya disuruh tarik-tarik benang, atau disuruh mengikat tali boat saat berlabuh di jetty Meoskor. Sedikit-sedikit kehidupan orang Papua pesisir.

Aku kagum dengan masyarakat disini yang bisa bertahan, dan mereka bertahan dengan memanfaatkan apa yang ada disekitar. Atis yang masih kecil saja sangat lihai menggunakan kail mata 4 untuk menangkap sontong di pagi hari. Bahkan tadi pagi dia mengendarai boat ESTE, lebih baik dari yang aku lakukan. Saat memotong kelapa, hanya aku yang kikuk bagaimana caranya membuat sendok dari kulit kelapa karena mengayun golok saja masih salah-salah.

Saat sore kemarin, kami sempat main bola sebelum aku berbuka. Pukul 5 sore, ada Om Yo, Abang Menas, Kakabu, Abang Ronald, Mas Abdy, Om Daud dan Abang Nyong. Ditengah permainan Kakabu sering mendapat bully karena terjatuh dan celana nya selalu melorot. Om Daud, meski sudah berusia lebih 50 tahun, tenaganya lebih banyak daripada aku yang berusia 22 tahun ini. Kami bermain sampai hujan menderas, pukul setengah 6 kami selesai dan menceburkan diri ke laut. Hujan deras, dan agas tidak menyerang. Meski paru-paru terbakar dan lelah usai melakukan 3 dive tanpa sahur. Aku berhasil menjalani puasa tanpa bolong di Pulau Meoskor.

Siang hari kami pergi meninggalkan Pulau Meoskor, Mama Anggi dan Om Daud mengantar sampai Jetty, “Rafid kamu mau pergi gak senyum-senyum. Gak usah balik lagi fid!” Kata Om Daud dengan gaya suara seraknya dan berteriak keras.

wp-1497508988707.

Jetty Pulau Meoskor

Mama Anggi tertawa, “Titip agas di pulau sudah, nanti saya main kesini semoga sudah pergi”

“Agas kehilangan tempat bersandar Fid” kata Mama Anggi

Boat meninggalkan Meoskor, langit terang. Menuju cerita yang berbeda di Pulau lain di Raja Ampat. Aku yakin akan kembali ke Pulau Agas, karena yang paling kurindukan adalah makan berbuka ditemani oleh teman-teman, dan juga senja yang berlalu indah di barat.

wp-1497513282738.

Senja di barat Meoskor

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s