Lebih Dekat Seperti Keluarga Sendiri

Standard

Sudah 2 minggu tinggal di Papua. Seminggu penuh kemarin, lebih banyak kuhabiskan di kantor milik CI, bertemu dengan banyak orang, berkenalan sekaligus merencanakan perjalanan lapangan untuk melakukan survey di Raja Ampat. Sedikit banyak aku jadi belajar permasalahan dan juga hambatan-hambatan sekaligus peluang yang terjadi di Raja Ampat. Mengenai sistem yang berjalan, mengenai masyarakat, mengenai watak, bahkan hal-hal yang perlu dibenahi. Dahulu, sebelum memilih pekerjaan ini, aku selalu berpikir, Raja Ampat adalah salah satu lokasi yang berhasil dalam sisi pariwisata, sehingga mungkin aku tidak akan banyak belajar disini, karena semua sudah tertata dengan sempurna.

Tapi nyatanya, ada banyak lapisan yang tidak akan terlihat jika kita tidak menyelami dalamnya sendiri. Bahkan dari image Raja Ampat yang begitu kuat, aku sudah melihat perjuangan yang tidak sebentar, dan setelah dinyatakan berhasil, perjuangan yang dibutuhkan justru jadi semakin berat. Dan orang-orang dari tim CI yang kulihat, adalah sosok yang pekerja keras. Semua dari mereka, memiliki kepribadian yang berbeda, bahkan sebagian sangat jauh berbeda. Tapi bisa kulihat mereka sangat terikat dan mampu membuat jalan untuk bisa bekerja bersama-sama.

Setelah satu minggu tinggal di Waisai, akhirnya aku, Abang Ronald dan Mas Abdy berangkat menuju Fam. Sebuah kawasan yang baru saja diresmikan menjadi wilayah perlindungan laut dan masuk dalam jaringan kawasan lindung laut wilayah Raja Ampat. Semuanya terjadi berkat kerja keras dan kerjasama yang dilakukan oleh Tim CI dan beberapa pihak yang juga ikut terlibat. Aku menghadiri upacara peresmian itu beberapa bulan lalu bersama Sarah, Shawn, Mas Edy dan John. Ikut menyaksikan pula perayaan “Injil Masuk Kampung” dan bertemu banyak teman baru.

Hari itu sudah memasuki puasa ke-5, sore hari Mas Abdy dan Abang Ronald tiba di Kantor CI Waisai, membawa boat ESTE milik CI dan persediaan makanan serta peralatan lapangan. Pukul 4 lepas shalat ashar akhirnya kami meninggalkan Waisai dari sungai besar yang terletak di sebelah pasar Waisai. Disana, Abang Ronald dan ketiga anaknya ikut berlayar. Ada Valen, Ibet dan Rosel yang masing-masing berusia 9, 5 dan 8 tahun. Saat kami naik, kapal karet yang berukuran kecil itu penuh dengan 6 jeringen berisi bahan bakar dan kardus-kardus berisi persediaan makanan.

Kapal melaju meninggalkan Waisai, melewati barisan pulau-pulau hijau di Raja Ampat yang berukuran kecil, memagari laut. Awan tiba-tiba saja bergerumul, menghalangi panas sejak seharian tadi. Angin berhembus kencang seiring kecepatan ESTE yang bertambah. Setelah hampir 1 jam, kami tiba di Arborek. Kami harus singgah dan berlabuh sebentar, karena lewat dari jam 5, ESTE tidak boleh beroperasi di laut, itulah peraturan CI. Selain karena kondisi laut yang bisa saja tidak terduga, hal itu juga untuk keselamatan penumpang dan kapal. Langit mulai menggelap saat kami tiba, hampir maghrib.

wp-1497508989227.

Kampung Arborek, Raja Ampat

Langit yang semula biru, berubah menjadi ungu dengan goresan-goresan oranye dan awan-awan yang berkumpul terpisah, menutupi terik matahari sore. Kampung Arborek adalah salah satu kampung wisata di Raja Ampat. Tidak besar, hanya sebuah pulau dengan 600 manusia. Saat kami tiba, sebuah jetty kecil dengan dua sisi rumah di kiri kanan menyambut dan sebuah gerbang bertuliskan selamat datang. Orang-orang, kerabat dekat Abang Ronald menyambut. Termasuk adik dan juga tetangga-tetangganya. Abang Ronald asli Arborek dan tinggal disana bersama istri dan 4 anaknya yang masih kecil-kecil, ditambah dengan Ika yang berumur 2 tahun.

wp-1497508989425.

Senja di Kampung Arborek

“Rafid, sudah buka?” Tanya Abang Ronald saat langit sudah gelap. Pukul 18:20. Tidak ada suara adzan terdengar di kampung kecil itu, karena semuaanya beragama kristen. Lampu mati, karena PLN baru saja membetulkan sistem listrik disana. Listrik baru akan menyala saat pukul 6 sore dan mati pukul 6 pagi.

“Hanya menyala 12 jam saja.” Kata Abang Ronald saat kami duduk di teras dan berbincang soal kota kecil Arborek.

“Masyarakat sini bekerja utama dulunya sebagai nelayan. Saat saya masih kecil, masih bantu orang tua cari ikan. Tapi semakin kesini, sudah semakin banyak orang yang pindah ke Waisai atau ke Sorong, mencari pekerjaan lain. Nelayan sudah semakin jarang.”

Kampung Arborek sudah menjadi kawasan kampung wisata, banyak dari masyarakat yang sudah memiliki homestay sendiri. Biasanya turis-turis datang pada bulan September sampai dengan Maret.

“Seharusnya saat ini sudah masuk musim selatan kan, hanya saja karena cuaca sekarang sudah sulit ditebak, jadi kita tidak tahu kapan musim selatan masuk. Makanya sekarang sedikit turis, karena mereka tahu seharusnya saat ini sudah masuk musim selatan.”

Listrik kemudian menyala. Banyak anak-anak berlarian menuju pantai. Anak-anak Abang Ronald sendiri; Ibet, Valen dan Rosel biasa bermain dirumah.

“Nonton film bisa kah?” Tanya Valen, “Kami biasa menonton di Abang Abdy punya laptop.” Tanya mereka padaku saat itu. Akhirnya aku memutarkan mereka film kartun dalam Bahasa inggris. Sayangnya aku tidak punya persiapan apapun, aku tidak punya film kartun sederhana. Karena saat menonton, banyak anak-anak desa Arborek yang ikut berkumpul di rumah sederhana dengan 2 kamar itu. Dengan pikiran-pikiran sederhana, mereka tertawa karena ada beberapa adegan yang lucu. Sepanjang jalan aku harus menjelaskan alur cerita karena semuanya berbahasa inggris, dan mereka sibuk bertanya saat ada beberapa hal yang tidak dimengerti.

Selanjutnya mungkin aku harus lebih banyak menyiapkan kartun-kartun sederhana yang bisa membuat mereka lebih banyak belajar. Saat pukul 9 malam, sudah banyak anak-anak bubar karena mengantuk, Valen dan Rosel sendiri sudah tertidur lebih dulu.

“Kasih mati sudah.” Kata Ibet padaku, karena anak-anak lain juga sudah harus pulang. Rumah kemudian menjadi sepi. Ibet bergabung dengan kami makan bersama di dapur, Istri Abang Ronald sudah memasakkan kangkung dan ikan dengan sambal. Menu yang sederhana, ditambah dengan nasi. Dahulu di Lamakera, Mama Jamilah biasa membuatkan ikan bakar dengan sambal. Tak jarang cumi dan telur. Sederhana, ditambah nasi tapi tetap nikmat. Karena masih dimasak dengan kompor minyak, bahkan di Rumah Mama Jamilah kadang masih menggunakan kayu bakar. Rasa masakan juga jadi sedikit berbeda, lebih gurih, ditambah makan bersama sambil mengobrol ringan.

“Kalau sahur biasa bangun jam berapa?” Tanya Abang Ronald.

“Biasa jam 3 atau jam 4. Abang nanti tidak usah ikut bangun, biar saya siapkan sendiri.”

“Ya kamu tidak usah siap-siap, tinggal makan saja sudah.”

Akhirnya pukul 3 pagi, Abang Ronald ikut menemani aku dan Mas Abdi ikut makan sahur. Saat pagi menjelang, aku dan Mas Abdy membantu mengisi tabung selam untuk di pulau menggunakan alat milik adik Abang Ronald, Abang Marcel. Hingga pukul 9 pagi, kami mengangkut barang-barang menuju boat ESTE saat abang Ronald kembali usai mengantar persediaan ke pulau sebelah.

wp-1497508986133.

Pulau Meoskor, Kepulauan Fam

“E kau datang tidak sapa kami dulu kah, kami tidak mau masak buat kau makan siang E”

“Datang kah, sapa dulu, ‘Ei nona-nona, apa kabar?’ main duduk-duduk saja.”

“Dengar kau, Ronald?”

Suara teriakan mama-mama yang biasa membantu masak di Pulau Meoskor, disambut tawa Abang Ronald.

“Sa bawa persediaan makanan sendiri.” Balas Abang Ronald.

“E, Abdy, sa tidak mau masak buat kamu E.” Mas Abdy tertawa, kami semua sibuk memindahkan barang-barang ke atas jetty Pulau Meoskor. Kerongkonganku terasa sangat kering, panas menyengat saat itu dan kami membawa barang-barang berat.

Dua orang wanita datang menyambut kami. Satu masih muda, berambut pendek model shaggy dan seorang anak kecil di sampingnya kaka Elin, dan satu lagi berusia lebih tua, biasa dipanggil Mama Anggi, menyambut sambil tertawa-tawa, usai selesai mengupas singkong untuk persediaan makan.

Sore hari kami melakukan survey berkeliling kepulauan Fam di Raja Ampat. Ada sekitar 5 pulau yang berada di kepulauan tersebut. Hujan baru saja mengguyur beberapa jam lalu, dan angina masih kencang. Pukul 4 sore, matahari sore tertutup dengan gumpalan awan hitam, tapi kami masih bisa melakukan survey sore itu. Dari hasil survey kami berhasil menemukan 5 ekor, hanya 1 yang berhasil kami dapatkan ID nya, 4 lain melarikan diri saat menyadari keberadaan boat.

wp-1497508935124.

“Manta berenang satu-satu, mereka tidak punya teman kah.” Gurau abang Ronald saat kesal menemukan manta kemudian dia langsung menghilang. Sering mereka ditemukan berenang sendirian, kemudian langsung menghilang.

Kami melakukan survey sampai jam 6 sore, dan beberapa menit menuju maghrib tiba. Kaka Elin dan Mama Anggi sudah menyiapkan makanan untuk kami berbuka. Tak lama, orang-orang dari Pulau Sebelah, selesai melaksanakan kegiatan di Kampung Saukabu dan bergabung dengan kami. Hanya Warda yang muslim, tapi semua bergabung untuk makan bersama.

“Biasa puasa dua orang saja, yang buka banyak”

“Biarlah mama, yang penting kami bisa makan enak”

“Ya memang, yang tidak puasa malah makan lebih banyak”

“Ih, agas banyak sekali ni!”

“Ko sebut ni pulau, pulau apa kah, pulau agas?”

wp-1497508987902.

Semuanya jadi sibuk menepuk-nepuk tangan dan kaki yang diserang agas. Dengan penerangan seadanya kami makan bersama. Biar begitu, ada banyak tawa yang terlepas dan aku tidak pernah merasa lebih diterima dari sebuah keluarga di Papua.

Tak jarang, Mama Anggi dan Kaka Elin bangun untuk menemani aku dan Mas Abdy makan sahur, membantu menyiapkan makanan pukul 3 pagi. Cuaca musim selatan biasa bertiup kencang saat subuh hari dan kami sering makan ditemani dengan angin dan badai.

Aku menyaksikan toleransi yang sangat terjaga di Papua, dan merasa bahwa ke-bhineka-an yang ada di Indonesia itu sudah ada sejak dahulu kala. Mama Anggi dan Kaka Elin seringkali membuatkan kami makanan spesial untuk berbuka. Anak Om Daud, Atis yang berusia 10 tahun seringkali memancing di pinggir jetty dan mendapatkan sotong kemudian disimpan hingga waktu berbuka tiba. Kadang aku merasa, bahwa ilmu dan pengalaman yang kupunya disini seolah sama sekali tidak bermanfaat. Karena ilmu kehidupan yang sesungguhnya-lah yang dimiliki orang-orang papua.

Atis yang 10 tahun saja masih lebih lihai mengikat tali kapal di labuhan, atau lebih sigap saat diminta menyiapkan keperluan berlayar. Sementara aku kikuk saat dimintai tolong,

wp-1497508983979.

Atis dan Bapa, siap pergi memancing

“Eh, menas mas ni kasih lepas tali mama jadi hanyut!” Saat aku mencoba membantu dan tali malah terjatuh di laut membuat Mama Anggi yang baru kembali memancing jadi hanyut ke tengah laut bersama kapal. Aku tertawa dan merasa bodoh sekali.

“Hidup di Papua ni kerja tidak bisa lambat.” Ucap Mama Anggi. Bahkan wanita-wanita disini lebih tangguh dan tidak kalah tangguh dari para laki-laki.

Sore hari, selalu ada kegiatan yang dilakukan. Saat hari cerah, Abang Ronald biasa memangkas dahan dan pohon-pohon kering di samping pos patroli. Saat itu dibantu juga dengan Abang Menas, Om Daud dan Mas Abdy.

“Abang sedang apa kah?” Tanyaku pada Abang Ronald saat bergabung bersama mereka.

“Sedang buat program lapangan bola voli.”

Semua tertawa.

“Rafid tidak tahu kan, datang kesini hanya untuk riset tapi kami ajak untuk bikin lapangan” Abang Ronal menyeringai sambil menyeret dahan besar pohon kering.

Kemudian keesokan hari saat lelah survey, kami biasa sibuk bermain bola. Jujur saja aku memang tidak lihai bermain bola, tapi menjadi bagian dari tim patroli dan tim riset monitoring kampung Fam, tiba-tiba saja aku jadi tidak merasa malu. Sampai maghrib tiba, orang-orang biasa bergabung bersama untuk buka bersama menemani aku dan mas abdy, hanya sekedar duduk-duduk di jembatan menuju jetty pulau dan mengobrol ringan. Seringkali kalau Kakabu sudah mulai bercerita, “Dulu sa di Ambon ni”

Kemudian disusul, “Mulai dia, bubar-bubar..” Teriak Abang Nyong dan Abang Ronald dan mulai bergantian untuk membersihkan diri. Usai bermain bola mereka biasa bercebur ke laut untuk mendinginkan badan, dan matahari terbenam dengan suara tawa saling ledek yang menjadi latar musiknya. Benar-benar lingkungan yang lebih dekat dari keluarga sendiri.

wp-1497508982182.

Mas Abdy, Kakabu, Abang Menas

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s