Sepuluh Bendera

Standard

Sudah hampir 3 bulan berlalu, seharusnya aku sudah selesai menulis ini sejak lama. Tapi terkadang memori selalu mudah sekali kembali. Siang ini, saat aku membuka media sosial, aku kembali menemukan foto-foto lama saat kegiatan beberapa bulan lalu di Filipina. Dan kupikir, aku akan menuliskannya, dan memastikan bahwa memori itu tersimpan rapi disini. Aku selalu suka membuka kembali memori-memori lama, ada rasa manis yang tertinggal di dalam sana.

Bulan maret lalu, aku berhasil menginjakkan kaki pertama kali di Filipina. Bukan kesempatan yang sering, untuk pergi ke luar negeri, meskipun hanya negara tetangga dengan budaya yang hampir serupa, pemandangannya juga tidak jauh berbeda. Tapi ketika aku kembali mengingat pengalamanku di Thailand 2 tahun lalu, orang-orang yang kutemui, bukanlah orang-orang biasa yang mudah untuk dilupakkan. Akhirnya, melalui pengalaman yang hanya berdurasi 10 hari itu, aku menemukan banyak sahabat yang kuanggap seperti keluarga sendiri. Menjelang Ramadan ini, aku bahkan masih bisa berkomunikasi dengan Ali, meski tidak  terlalu sering. Dia akan menikah sebentar lagi.

Filipina juga tidak jauh berbeda. Wajahnya, notabene seperti melihat orang-orang Indonesia berwajah Jawa, Manado, Medan, hanya ketika mereka berbicara saja mereka berbeda. Ridwan bilang, bahasa Tagalog mirip bahasa banjar dicampur dengan jawa. Ada beberapa kosakata juga yang memang mirip, seperti “Lalaki”, “sakit”, “salamat” yang secara arti harfiah hampir serupa.

Awal itu di Bandara, aku dan beberapa peserta lain dari Vietnam, Kamboja dan Filipina bertemu pertama kalinya disana. Raph, salah satu penanggung jawab Negara sibuk mengatur penerbangan kami dan memesan boarding pass. Padahal saat itu belum satu hari, tapi seperti berhari-hari. Hal itu karena aku dan peserta dari Viet dan Kamboja memutuskan untuk berkeliling Manila saat pagi hari kami tiba di sana. Yang pada akhirnya membuat kami kelimpungan. Cuaca panas di Manila dan sulitnya transport yang nyaman untuk pergi membawa-bawa koper. Sudah kubilang itu bukan ide yang bagus. Tapi akhirnya kami berhasil sampai di Airport Manila tepat waktu meski dengan banjir keringat.

Rasa-rasanya aku hanya ingin sampai di Lodge, dan merebahkan badan. Perjalanan Manila menuju Busuanga, Coron ditempuh selama 2 jam perjalanan pesawat. Hujan mengguyur sejak awal kami tadi berangkat setelah hari panas yang menyengat. Cuaca memang aneh akhir-akhir ini. Kami dijemput di Bandara oleh satu mobil besar, dengan memakan waktu 30 menit, kami tiba di Lodge. Sepi, tidak ada siapapun.

Saat sampai, kami akhirnya bertemu dengan peserta lain, yang heboh bercerita bahwa 15 dari mereka serentak hampir tertinggal pesawat. Setidaknya momen itu, sedikit membuat kami berhasil mengenal satu sama lain.

Untukku, pertemuan seperti ini bukanlah orang yang mudah. Bagi seseorang yang memiliki dua kepribadian intovert dan extrovert, bertemu banyak orang pertama kali, adalah tantangan tersulit saat kepribadian introvert ku mendominasi. Sulit sekali untuk membuka pembicaraan. Banyak dari mereka yang akhirnya membuka pembicaraan terlebih dahulu, salah satunya adalah Keith, teman yang kukenal lebih dahulu di media sosial.

Pembicaraan malam pertama di meja makan pun, lebih banyak mereka yang berbicara. Salah seorang teman saat itu, Shak dari Malaysia yang lebih banyak bercerita tentang dirinya. Kemudian dengan Raph dari Filipina, dan Chrishen dari Malaysia. Mereka semua berbahasa inggris sangat baik, terutama Raph, mungkin itu yang juga membuatku sedikit menahan diri untuk berbicara.

Tita Ana membuka sesi malam itu, sehingga kami mendapatkan kesempatan untuk bisa mengenal satu sama lain, meski dalam 7 hari kedepan, kami pasti bisa mengenal 30 orang dalam forum kecil itu.

wp-1495944969772.

Satu hal yang membuatku sangat kagum adalah, meski berjudul pelatihan kepemimpinan untuk bidang kelautan, hanya aku dan Jean yang berasal dari latar belakang laut. Sisanya, kebanyakan berasal dari ilmu sosial, politik, ekonomi, bisnis, biologi darat. Tapi pada program itu sudah di set, agar semua orang dapat memahami konsep secara umum dan memiliki pemahaman yang sama.

Aku, Raph dan Huy dari Vietnam menjadi teman sekamar. Kami bertiga mendapat flight yang sama dari Manila. Awal perbincangan memang terasa agak canggung, tapi Huy lebih banyak bertanya. Terutama mengenai budaya, tapi ketika ditelisik sedikit, aku merasa ada banyak perbedaan budaya di ASEAN, secara umum memang sama, seperti jenis makanan, bahan baku yang digunakan, cuaca, tapi dari segi cara hidup, bisa sebagian besar berbeda. Misal saja dari segi pesta yang mereka lakukan, orang Filipina sangat senang minum bir dan mabuk, Raph mengakui nya sendiri. Atau Vietnam yang cenderung lebih bebas dalam pergaulan.

Mungkin itu hanya dalam dunia muslim konservatif, atau mungkin itu adalah diluar dari ideologi yang kuanut sekarang. Di Indonesia juga, kupikir ada banyak yang seperti itu, mereka menyebut diri mereka liberal dan tidak lagi berpegang pada nilai-nilai. Aku mewajari Filipina dan Vietnam, karena saat tahun lalu aku di Thailand, kebanyakan kawan-kawan disana biasa terjaga hingga pukul 3 pagi, tak jarang kutemui Salty pulang dalam keadaan mabuk.

Kami biasa bersiap saat pukul 7 pagi, karena sarapan sudah siap, dan jam 8 acara rutin sudah dimulai. Tita Ana sangat benci keterlambatan. Sialnya, aku sekamar dengan 3 orang snoozer. Meski alarm di set pukul 5 pagi, semuanya tetap bangun pada jam yang sama, pukul 7. Aku sendiri biasa kembali tidur setelah shubuh, tidak baik, aku tau.

Sampai akhirnya, tak jarang kami bertiga berebut kamar mandi, terlebih Huy yang sangat lama jika sudah mengokupasi kamar mandi.

“Hey huy, are you dead?” Tanya Raph saat dia sudah berada di dalam hampir satu jam. Kami berdua kesal, kadang, tapi lucu juga jika setiap pagi kami berlarian mengambil giliran kamar mandi. Kadang aku bisa bangun lebih dulu, tapi selalu saja ada hari sial.

Kegiatan rutin lebih banyak dihabiskan untuk workshop, berdiskusi dan mendapat kesempatan untuk mengenal satu sama lain. Selain seluruh pembicara yang berasal dari 10 negara, ada hal lain yang membuatku betah berada di camp. Semua orang memiliki pandangan dan visi yang sangat tajam, terutama mereka yang memang bergelut di bidang-bidang sosial. Tak jarang, ketika berbicara tentang laut, mereka mempertanyakan kesejahteraan dan konflik sosial yang sering terjadi di ASEAN. Mendapat kategori sebagai negara berkembang, tentu isu sosial dan pembangunan adalah tantangan yang kami punya.

wp-1495945175272.

Hari-hari berlalu begitu cepat, kami biasa selesai hingga pukul 11 malam, karena sibuk bercengkrama di garden lodge. Tapi hal itu justru yang membuat kami merasa lebih dekat. Di hari ketiga adalah puncak dimana kami bisa merasakan sebagai sebuah keluarga besar ASEAN. Mungkin sudah jadi tradisi ketika acara ASEAN selalu ada penampilan dari masing-masing negara. Yang menyenangkan ketika hampir semua negara gagal serius dalam tampil, tapi kami tetap bisa mendukung satu sama lain. Saat kelompok dari Myaanmar lupa gerakan, atau kelompok Singapore yang sumbang saat menyanyi, kami tidak mentertawai mereka, tetapi kami tertawa bersama.

wp-1495944951766.

Bahkan saat suasana mulai sepi, kami semua ikut maju dan memeriahkan penampilan negara lain. Kami tidak mentertawai, tapi kami mendukung satu sama lain. Disitulah ikatan persahabatan yang plural sangat mulai terasa. Aku bahkan mulai merasa bangga menjadi bagian dari 10 negara ini.

Pagi hari itu, beberapa dari kami akhirnya memutuskan untuk mendaki Gunung Tapyas di pagi hari. Meski setelah seharian hingga larut asyik bercengkrama, kami tetap bersemangat untuk mendaki. Tak semua setuju untuk ikut. Aku yakin, akulah yang paling kesulitan untuk bangun.

Shubuh hari, Hung membangunkan kami semua, aku hampir terlambat saat itu. Dari 15 orang yang berencana pergi, akhirnya hanya 8 yang berhasil bangun dan ikut mendaki. Suasana di Coron saat itu sedang dingin karena memasuki musim hujan. Angin bertiup cukup kencang, tapi sejuk.

wp-1495952063606.

Satu persatu peserta gugur juga, Prim dan Nora memutuskan untuk tidak mencapai puncak karena kelelahan. Hingga tersisa beberapa orang dari kami yang mendaki sampai atas. Saat sampai, pemandangan yang sangat kentara bagiku adalah, bukit-bukit emas yang mirip seperti saat di Komodo dahulu. Laut membentang di Coron, persis seperti samudera yang dahulu aku lihat di timur Indonesia saat sore hari tiba. Angin bertiup kencang, kami semua sibuk mengabadikan momen, dan juga berkontemplasi, kadang mengobrol satu sama lain dan tertawa lagi.

wp-1495945158829.

Setelah hampir 2 jam, kami memutuskan untuk turun dan kembali sebelum acara rutin kembali dimulai. Padahal hari itu juga, kami harus pergi trip untuk mengunjungi beberapa lokasi di Coron, yaitu Danau Kayangan dan Danau Barakuda. Perjalanan boat saat itu cukup menyenangkan, kami juga menghabiskan waktu untuk melihat keindahan bawah laut Coron yang katanya terindah di dunia. Padahal, kupikir Indonesia masih jauh lebih Indah, hehe. Terlebih Raja Ampat, tempat kerjaku sekarang. Hampir di setiap wilayah, memiliki keindahan laut yang tidak bisa terbanding.

wp-1495952030102.

Hari itu adalah hari terakhir kami menghabiskan waktu bersama. Ada perasaan yang memang aneh, saat memasuki hari terakhir. Banyak dari kami yang merasa bahwa hari-hari berlalu begitu cepat, meski kami menggunakan hampir keseluruhan waktu yang diberikan. Project pitching di hari terakhir, hingga begadang di garden bersama. Kelelahan, pusing dan seterusnya. Tapi pada saat hari terakhir, kami sudah merindukan saat-saat itu lagi.

wp-1495944982210.

Malam usai hari yang melelahkan, kami akhirnya menutup hari dengan penghargaan yang diberikan oleh SEA Camp. Tidak ada penghargaan yang serius. Tentu saja tidak serius karena masing-masing dari kami mendapatkan penghargaan tersebut. Ada beberapa penghargaan yang memang sangat mudah untuk diingat. Nor, mendapat penghargaan “Is it too late to say sorry?” atau Dean yang mendapat penghargaan “Shit happens” atau Thida dengan “Too hard to let go” karena sulit melepaskan genggaman dari Tita Kim saat melakukan snorkeling di Siete Pecados.

Musik mengalun malam itu, semua berdansa dengan heboh nya. Seakan mereka takut akan kehilangan momen itu. Bagiku sendiri, pertemuan semacam ini, adalah pertemuan yang sangat jarang dan aku yakin masing-masing dari kami takut apakah kami akan berjumpa lagi suatu saat atau memang ini menjadi yang terakhir kalinya. Perasaan yang kurang lebih sama saat di Thailand dahulu. Saat mengucap selamat tinggal dengan Ali di Airport, aku tidak tahu apa bisa berjumpa dengan dia dan yang lain satu saat nanti.

Malam berlalu, tanpa satupun dari kami yang rela tidur karena takut kehabisan waktu. Tapi tetap saja waktu terjadi bagai kedipan. Malam itu kami semua berjalan keliling Coron, dan mencari makan karena kelaparan, sampai menggoda Prim yang ketakutan melihat hantu. Benar-benar malam yang aneh. Fajar hampir menyingsing. 15 dari kami mendapat pesawat kloter pertama sehingga harus pergi lebih awal menuju bandara Busuanga. Meski penerbangan selanjutnya berbeda-beda. Masing-masing negara hampir mendapatkan jadwal penerbangan yang sama malam itu.

Saat-saat menunggu di Bandara menjadi saat yang paling canggung. Tapi 15 dari kami berhasil tetap bersama dan berencana untuk melihat-lihat Manila untuk yang terakhir kalinya saat itu. Perjalanan yang sangat tidak terkendali, karena kami terpisah di Intramuros, dan kebingungan karena tak satupun dari kami yang mempunyai nomor lokal. Kami berakhir saling tunggu hingga beberapa jam, dan berhasil juga bertemu satu sama lain.

“We are such an average, messy tourist.” Ucap Rin, saat kami akhirnya bertemu.

Meski begitu, tetap menjadi saat-saat paling menyenangkan untuk sekedar duduk tertawa bersama dan minum soda.

“We have to go back to Airport, Raph will leaving and we have to say goodbye for the last time.” Ucap Dean. Kami akhirnya kembali ke Airport saat sore tiba. Raph menunggu di Airport karena harus menyelesaikan beberapa urusan. Saat tiba, akhirnya kami berhasil bertemu, 10 menit sebelum pesawat Raph tinggal landas. Aku, Raph daan Huy berfoto bersama untuk yang terakhir kalinya.

wp-1495944997634.

Saat itu pula, Huy mengatakan soal perbedaan yang ada diantara kami. “Do you realize something? People in this photo are embracing three different religions.” Kami bertiga memeluk Islam, Katolik dan Buddha. “We are so different, bu we can appreciate it and I love our differences.”

wp-1495945198281.

Raph sudah berlalu, disusul dengan yang lainnya. Saat-saat terakhir kami mengucap selamat tinggal di Bandara. Little bee berpelukan dengn Chrishen, mereka berdua sudah seperti sahabat karib. Dean masih sibuk bersikap gila dengan Prim dan Nor, orang-orang favoritku dari Thailand. Saat menit-menit terakhir, kami berfoto bersama untuk yang terakhir kalinya. Bagaimanapun, perkumpulan lengkap seperti ini akan mustahil terjadi untuk sekali lagi. Hidup akan tetap memisahkan kami semua.

wp-1495945248271.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s