Bulan yang Berteman di Waisai

Standard

Dua hari lalu aku berhasil tiba di waisai. Saat itu belum memasuki bulan Ramadan, meski sejatinya aku selalu kebingungan dan was-was apakah hari itu sudah masuk puasa atau belum karena aku tidak benar-benar mengikuti pemberitaan tersebut di tv. Saat terbangun subuh hari, aku selalu kehausan dan mencari air di botol, dan yang aku takutkan tanpa sengaja aku lupa minum di bulan puasa.

Hari itu panas di Sorong, aku dan mbak Meidy, salah satu staff kantor tempatku bekerja mengantarku ke pelabuhan Ferry Sorong untuk memesan tiket disana. Perjalanan Sorong-Waisai ditempuh dengan Ferry selama 2 jam. Banyak kalangan yang menggunakan ferry ini. Ukurannya cukup besar, yang bisa menampung ratusan orang beserta motor dan barang–barangnya beratus-ratus kilogram.

Meski ferry tak berjalan cukup cepat, tapi untunglah di dalam terasa dingin karena tersedia AC. Lain hal saat aku dulu menggunakan ferry murah Rahmat Solor dari pelabuhan Larantuka menuju Lamakera. Boat nya panas, dan bau mesin nya benar-benar menyengat. Aku hampir mabuk saat pertama menyebrang menuju Lamakera, ditambah perjalanan yang tidak sebentar. Tapi aku biasa menunggu di luar, menyaksikan kapal melewati pulau-pulau berumput emas yang tertancap kokoh diatas lautan. Ditambah langit biru dan awan-awan putih yang membingkai di Lamakera. Meski panas, tapi angin bertiup cukup kencang sehingga sedikit mengurangi panas yang menerpa.

Aku jadi rindu Lamakera. Kak Ami bilang kemarin ada masalah lagi dengan desa itu. Kalau ingat, satu-satunya yang kurindukan adalah anak-anak kecilnya yang keluyuran di Masjid menjelang waktu maghrib, menenteng iqro dan al-quran. Salah satunya bahkan ada yang menyangka bahwa aku guru mengaji yang baru. Meski memang, Mbak Evi pernah menawarkan aku untuk mengajar mengaji saat ramadan. Saat itu satu bulan yang lalu menjelang ramadan. Sudah tepat satu tahun lalu, dan sekarang aku menjalani petualangan di bumi Indonesia yang lain.

Sepanjang perjalanan aku hanya tertidur sambil mendengarkan musik di ponselku. Kupikir, aku bisa keluar dan menyaksikan pulau-pulau di lautan Raja Ampat, seperti halnya yang kulakukan di kapal Rahmat Solor. Tapi ternyata tidak bisa, jadi aku cukup nikmati saja AC yang bertiup.

Setelah 2 jam, ferry berhenti dan berlabuh di pelabuhan Waisai, Ibu Kota Raja Ampat. Disinilah aku akan menghabiskan waktu selama beberapa hari, selagi Mas Abdy dan Abang Ronal membantu mempersiapkan keperluan untuk tinggal di lapang selama beberapa bulan kedepan.

Aktivitas sangat ramai, di sore yang panas itu di waisai. Banyak orang-orang sibuk bertegur sapa, tertawa karena sudah lama tidak berjumpa. Berpelukan. Mengatakan bahwa ramadan sebentar lagi. Banyak dari masyarakat Waisai beragama muslim, salah satu marga di Waisai, “Mayor” adalah penghuni asli orang Raja Ampat yang beragama muslim. Begitu yang dijelaskan Abang Nias, salah satu staff yang menjemput aku dan Mbak Meidy di pelabuhan Waisai.

Matahari sangat terik. Tapi cukup menyenangkan menyaksikan pemandangan yang begitu tidak biasa kusaksikan dirumah. Terutama banyak sanak saudara yang membawa kardus-kardus berisi makanan untuk persediaan ramadan melalui kapal. Meski sering kudengar sumpah serapah keras khas orang-orang timur, tapi ternyata mereka memang bercanda.

wp-1495860388297.

Pelabuhan Waisai

“He kau jangan diri situ ibu mo kasi turun!”

“Bodoh kali kau, angkat kah motor tu!”

Lalu mereka tertawa. Bagaimanapun, aku tetap bisa merasa hangat melihat itu, karena tawa orang-orang timur, sejatinya adalah senyum paling tulus yang pernah aku lihat.

Mobil yang dibawa Abang Nias membawa kami menuju kantor, setelah singgah sebentar Mbak Meidy mengajak saya berkeliling sedikit kota Waisai, termasuk melihat-lihat pasar rakyat yang hanya beberapa meter dari kantor.

wp-1495803136013.

Pasar Waisai

Setelah selesai, aku diantar menuju hotel untuk meletakkan barang-barang. Mbak Meidy sudah kembali ke kontrakannya di Waisai. Abang Nias mengajakku berkeliling sebentar menggunakan motor, menunjukkan tempat-tempat makan dimana aku bisa mencari makanan untuk sahur dan makan malam saat Ramadan nanti. Saat matahari semakin turun, kami singgah di Pantai Waisai Torang Cinta. Salah satu Pantai andalan Waisai yang biasa dikunjungi orang-orang saat sore hari tiba.

Perbincangan sore itu lebih banyak mengenai Raja Ampat, tentang pantai-pantai indah dengan terumbu karang. Atau kasus Caledonia yang menghancurkan terumbu karang Raja Ampat beberapa bulan lalu, kemudian banyak orang sibuk mengomentari perbuatan pemerintah Indonesia yang juga tidak pernah peduli tentang nasib-nasib orang Raja Ampat. Padahal permasalahan rumit itu, jelas berpengaruh pada sumber hidup mereka. Karang Raja Ampat yang menjadi sumber pendapatan masyarakat menjadi terputus.

“Pergi sudah, pantai tidak ada lampu, gelap nanti”

wp-1495856834606.

Pantai Waisai Torang Cinta

Kami akhirnya mencari tempat untuk makan malam dan berakhir di sebuah warung kecil di tepi jalan Waisai. Salah satu tempat makan termurah yang sering disinggahi Abang Nias saat kelaparan.

Siang itu, akhirnya aku berkesempatan untuk menggunakan motor dan berkendara sekeliling. Jalanan kota Waisai cukup sederhana, hanya saja terlalu banyak gang berbelok yang kadang membuat bingung. Aku mengunjungi Masjid Agung Waisai yang tidak jauh dari kantor. Masjid biru dengan jam besar yang berdiri di sebelah kanan. Saat sebelum berangkat ke Raja Ampat, aku cemas karena akan menghabiskan waktu puasa disini, akhirnya aku memutuskan untuk mencari informasi mengenai Waisai dan menemukan ikon masjid besar ini di mesin pencari.

wp-1495803150368.

Masjid Agung Waisai

Saat tahun lalu pindah menuju Kalike, sebuah desa kecil berkilometer dari Lamakera, tidak ada masjid sama sekali karena sebagian besar masyarakat beragama kristen. Selama dua minggu disana, aku merindukan suara adzan dari Masjid Lamakera. Akupun, khawatir akan merindukan adzan, bahkan disaat bulan Ramadan. Tapi untunglah semuanya baik-baik saja, aku menyukai masjid biru besar ini. Sisi temboknya yang terbuka, membuat sedikit terlihat seperti kedua masjid di Lamakera dan Mafaza. Aku bisa sedikit mengobati kerinduan melaksanakan rukuk dan sujud di kedua masjid itu.

wp-1495860553388.

Saat masuk, aku mendengar salah satu pemuda Waisai yang bertilawah dengan suara sangat merdu. Ruangan masjid yang kosong, menambah gaung-gaung yang riuh dengan suara burung pipit. Matahari juga bersinar terang tapi tidak panas karena baru saja hujan. Bau tanah basah juga masih tercium.

“Bapak permisi maaf sa kasih injak lantai lagi”

“Sudah tidak apa-apa, baru tiba kah?”

“Ya bapak, sa baru tiba kemarin dari jawa”

Pria tua berpeci putih itu mengangguk sambil kembali bergerak maju mengayunkan kain pel di atas ubin kering yang penuh dengan jejak-jejak kaki. Usai wudhu aku bergegas menuju ruangan dalam yang riuh dengan suara burung-burung. Benar-benar begitu mirip dengan suasana ruang masjid Mafaza yang luas. Tapi ubin-ubin marmer dingin itu tetap tidak terkalahkan, selama lebih 4 tahun, hal itulah yang membantuku tetap tenang terduduk tenggelam dalam ayat-ayat. Sejuk.

Malam menjelang, langit tak berawan. Hitam, tapi penuh titik-titik bintang yang mengular. Saat cahaya sangat minim, hal inilah yang jarang sekali terlihat saat di kota. Dulu saat mati lampu di Lamakera, pemandangan ini biasa aku nikmati di lantai dua rumah rusak milik tetangga Ibu Jamilah. Sambil sesekali mencari sinyal, atau membaca buku menyaksikan lautan bintang, laut dan kapal-kapal yang berlabuh di kejauhan.

Aku sedikit terlambat karena Mbak Meidy mengajak untuk membeli bakso tenggiri yang terkenal enak di Waisai. Usai mandi sebentar, aku langsung mengendarai motor menuju masjid.

“Kitorang harus hati-hati e mengendarai motor di jalan sepi, kemarin ada orang kena tikam sampai mati” Begitu kata Om Marcel saat mengingatkanku jalan-jalan malam di Sorong. Cukup banyak orang yang mabuk dan melakukan tindakan kriminal. Tapi Waisai cenderung lebih aman. Banyak jalanan sepi dengan minim lampu, karena rumah masih belum terlalu banyak.

Saat aku tiba di masjid memasuki waktu Isya, orang-orang sudah keluar dari masjid. Aku tidak tahu jam berapa orang biasa melaksanakan tarawih disini, kadang ada pukul 8 tarawih sudah selesai. Apa sudah selesai?

“Abang su selesai sholat nya kah?”

“Sudah. Isya saja.”

“Tarawih belum?”

“Belum, ceramah dulu lama, kita cari angin dulu.”

Aku tertawa sambil kembali membawa motor menuju tempat parkir. Masjid ramai dan hampir penuh. Anak-anak kecil mulai terlihat bermain-main diluar sembari menunggu tarawih dimulai. Dengan suasana yang hampir penuh sesak, meski seluruh pintu terbuka, ruangan terasa begitu panas.

Saat imam memulai rakaat, sedikit-demi sedikit jammaah mulai tumbang dan pergi meninggalkan masjid. Suasana yang sebelumnya sempat sesak, menjadi sedikit lengang. Kipas berputar, tapi tidak sedikitpun memberi pengaruh. Banyak dari jammaah saat itu yang sudah banjir keringat. Tapi dari 4 shaf yang tersisa, semua bertahan sampai dengan rakaat 23 terakhir. Bahkan masih banyak pula anak-anak yang bersama ayahnya duduk sampai berdoa malam selesai.

Usai shalat, suasana masjid kembali sepi. Aku duduk di baris belakang, tepat berhadapan dengan mimbar dan jam penanda waktu shalat. Orang-orang membentuk lingkaran kecil dan mendengar tausiah dari Imam masjid. Sedikit hening dengan suara-suara yang tidak terdengar begitu jelas.

Langit ramadan yang tidak sendiri saat itu di Waisai. Ramai dengan bintang-bintang yang mengular. Meski jalanan tidak terlalu terang, jutsru ramai dengan lampu-lampu galaksi yang terlihat dari pulau Waisai. Tidak sendiri, ramai berteman. Ramadan di Waisai. Alhamdulillah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s