Memilih Untuk Sendiri

Standard

Semalam saat duduk di pinggir kasur, masih terdengar suara tawa program tv favorit ayah. Aku masih termenung memikirkan apakah benar malam itu malam yang terakhir untuk berada di rumah, setidaknya. untuk pergi dalam waktu yang lama. Bukan yang pertama kali, pergi saat menjelang Ramadhan. Aku ingat saat tahun 2014 ketika Kakak ingin bertunangan dan aku malah lari untuk menyelesaikan beberapa urusan. Umi marah besar sampai membuatku lari bagai malin kundang yang tidak mengakui Ibunya.

Malam tadi Umi tampak murung, duduk menatap kosong, sesekali bertanya; “Semua barang sudah disiapkan? Ada yang ketinggalan gak?”

Aku hanya ber-hmm hmm, pelan, memastikan bahwa memang tidak ada yang tertinggal. Aku tidak tahu apa perasaan Umi malam itu, apalagi saat aku bilang, lebaran tahun ini aku tidak akan berada di rumah. Kecewa, pasti. Apalagi mendengar aku pergi jauh hanya demi gaji yang tidak seberapa.

Dahulu aku yang memilih ini sendiri, tapi saat-saat seperti ini, aku seperti berada dalam dua sisi yang membagi kepastian. Apakah aku harus benar-benar menerimanya, tetap pada pendirianku, atau pada hal yang bahkan tidak pernah bisa aku yakini.

Malam, saat aku berbelanja kebutuhan dan perlengkapan untuk di Papua, aku terus saja memikirkan, tujuan-tujuan yang sempat hilang, akibat terlalu lama menunggu. Benarkah hal ini yang aku inginkan? Kenapa banyak kelabu dalam pikiran yang membuatku untuk menyerah disaat belum memulai perjalanan ini.

Tepat 4 tahun lalu, aku pernah berpikir untuk bisa bekerja jauh, di Nusa Tenggara Timur mungkin. Atau di Papua. Tidak pernah terpikir kalau ini benar-benar menjadi kenyataan. Allah memang sangat baik untuk tidak pernah menghapus harapn itu, dari catatan-catatan mimpi yang selalu aku sebutkan dahulu. Bahkan saat aku semakin membangkang dan tidak pernah patuh.

Bagaimanapun, aku yang memilih untuk sendiri. Kupikir, dengan lebih sering sendirian, aku jadi bisa lebih dewasa dan menemukan masa depan yang ingin aku jalani nanti. Karena pergi jauh, dan kehilangan rumah, adalah untuk menemukan rumah yang baru. Aku selalu memikirkan untuk terbangun dan melihat bukit-bukit berwarna emas di Nusa Tenggara Timur. Duduk disisi pasir-pasir pink komodo, dan aku pikir itu bisa membuatku jauh lebih bisa dekat dengan Allah. Karena aku akan selalu ingat bahwa Dia yang ciptakan semua itu.

Tapi akhirnya aku tidak tinggal di Nusa Tenggara Timur, meski sempat merasakan selama beberapa bulan. Allah berikan rezeki yang lain, untuk menumbuhkan harapan-harapanku, bahwa Dia tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur.

Aku yang memilih untuk sendiri dan menjadi orang asing di tempat yang aku sendiri tidak tahu dimana. Aku yang memilih, karena aku tak mengerti bagaimana Ayah bisa menahan perasaan murung yang selalu bisa aku lihat setiap hari, saat dia duduk di sudut ruangan dengan kacamata tuanya. Aku harus banyak belajar.

Jujur memang aku takut. Mereka, tidak akan mengerti bagaimana rasanya. Tapi, melihat kawan-kawan seperti Kemal yang berani berkeliling Amerika Latin di bulan Ramadan, membuatku jadi semangat, buktinya dia berhasil menemukan jati dirinya, dan aku masih berjanji untuk mengunjungi sahabat-sahabatku diluar sana. Kalau aku masih belum mengerti bagaimana caranya menahan perasaan tersiksa saat sendiri dan kesepian, Allah mungkin tak akan izinkan aku dalam waktu dekat ini.

DATujtLUMAALWzk (1)

“Bawa qur’annya gak itu?” Tanya Umi saat dalam perjalanan menuju bandara.

Aku harap, aku tidak pernah lupa untuk tetap berpegang padanya dalam perjalanan panjang yang aku tidak tahu kapan akhirnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s