Tanah Merah dan Ilalang Masa Lalu

Standard

“Awas jangan naik keatas tembok!”

“Nanti kamu jatuh!”

“Hey, anak bandel!”

“Aduh!”

“Aaaaahhhh….!!!”

“Bibi Halim! Alif jatuh!”

Aku tidak bisa ingat apapun, saat terbangun kepalaku sudah diperban. Umi bilang, sejak beberapa jam lalu aku terus menjerit karena kesakitan kena jarum jahit. Usai dibawa ke puskesmas sore tadi.

“Kan sudah dibilang, jangan naik-naik tembok kalau sudah maghrib!” Geram umi, aku tahu Umi khawatir sejak tadi. Aku hanya diam, mengulum bibir. Melihat guci tua berlukis burung cendrawasih yang usianya hampir seusia denganku, 9 tahun. Lelah, yang kuingat terakhir kali Aldo berteriak-teriak dengan Sami, melempariku dengan kerikil-kerikil kecil, mengingatkanku untuk turun dari pagar tinggi yang membelah desa dengan kompleks perumahan yang baru dibangun.

Jalanan batu kasar itu membuatku mendapat jahitan di kepala. Umi bilang darah yang keluar cukup banyak, akupun, mencium bau anyir darah itu, bahkan rasa nyut-nyutan nya masih sangat terasa di bagian ubun-ubun dan keningku.

Sudah tidak menyenangkan lagi. Aku biasanya mementang layangan sampai sore hari tiba di doser. Lapangan besar yang dikelilingi barisan padi-padi. Parit kecil yang penuh dengan ular dan lintah, bahkan hutan-hutan kecil yang ada siluman monyet. Aku sih tidak percaya, biasanya orang-orang desa menggunakan itu untuk menakut-nakuti anak-anak supaya tidak bermain di doser sampai sore hari tiba.

Aku memandang ke atas, melihat kipas reyot berwarna cokelat di menggantung payah di langit-langit. Kadang aku takut kalau kipas itu jatuh menimpaku saat aku tidur. Putarannya menghalangi cahaya lampu, menciptakan bayangan balik-balik yang berputar dalam satu kedipanku. Aku lelah, badanku masih agak lengket, karena aku belum mandi sejak pagi tadi. Umi sedang di mushala, melaksanakan shalat maghrib. Sayup-sayup, aku tertidur.

 

“Hari ini kita ke doser yuk, ssstt.. jangan sampai ketahuan umi!”

“Loh, memangnya kenapa?”

“Nanti ketahuan kalau kita kotor-kotoran.”

“Bawa kardus jangan lupa!” Tambahku lagi, bisik-bisik. Hari itu sepupuku Zaky menginap dirumah, bersama dengan Kak Aisa. Sangat menyenangkan, karena setiap 2 minggu sekali, mereka selalu menghabiskan waktu dirumah. Meski jarak rumah kami tidak terlalu jauh, hanya 30 menit menggunakan mobil.

Udara pagi segar, masih sangat berkabut.

“Ayo kita menerobos mesin waktu! Aaaaaahhhhhhhh…..!!!”

“Ayo cepat, nanti mesin waktunya keburu meghilang!”

“Ciaatttt…ciaaattttt”

Kami bertiga menembus kabut putih yang tebal, melewati jalanan tanah merah menurun yang dipagari pohon-pohon bambu tinggi. Tangan Zaky penuh dengan kardus mie bekas, tanganku penuh dengan botol-botol plastik bekas. Kami tiba di pinggir tebing kecil yang menghubungkan desa dengan doser. Pemandangan sawah-sawah hijau masih belum terlihat karena tertutup kabut. Hanya hamparan tanah merah.

Ada jalan setapak kecil yang harus dilewati, agak berkelok-kelok dan terjal. Semak ilalang tajam dan juga pohon-pohon berduri. Biasanya untuk turun kebawah harus melepas sandal, atau setidaknya menggunakan sandal mahal merk carvil yang jadi favorit anak-anak desa. Alternatif jalan lain, adalah menggunakan kardus untuk berseluncur ke bawah, ada sisi yang tidak terlalu terjal tapi cocok untuk berseluncur kebawah.

Sore hari biasanya sulit untuk berseluncur, anak-anak desa lain pasti kesini dan kami harus berebut untuk mendapat tempat. Atau kalau ada orang dewasa kami dilarang-larang nanti jatuh.

“Kamu berani gak Kak Aisa?” Tanyaku

Kak Aisa tampak takut, dia menggunakan celana training lebar. “Nanti kalau jatuh gimana?”

“Gak akan jatuh, asal pegangan ke kardusnya aja!”

“Bajuku nanti kotor.”

“Sedikit.”

“YAAAAAAYYYYYY!” Zaky sudah meluncur terlebih dahulu.

“Zaky curang!” Aku berteriak dan langsung menarik kardus dari atas tanah merah, kabut sudah mulai menghilang, sianar matahari sudah mulai terlihat. Suara burung-burung, tidak tahu burung apa, sudah mulai terdengar.

“YAAAAAAAYYYYY!” Aku melompat, memegang kardus, tanah sedikit berdebam. Butir-butir tanah merah ikut menyeretku, melewati barisan semak berduri. Angin dingin mulai menyeruak. “Wuhuuuuuu….!”

“Awas, awas!”

“Aarrgghhhh, hati-hati!”

“Aduh!” kulitku terseret duri, menimbulkan luka sepanjang 10 senti yang mengucurkan darah. “Aaahhhh!”

Aku kehilangan fokus dan berguling diatas tanah merah, kardusnya tertinggal di sisi atas, mataku berputar-putar.

“Aduh!”

Aku terbangun, terjatuh dari atas kasur. Semangkuk bubur dan teh sudah tersaji di samping meja kecil. Umi sudah berangkat kerja, ayah juga. Hari itu aku tidak sempat melihat Ayah yang pulang larut.

Sudah jam 8.

Sunyi menyergap. Suara shalawat ibu-ibu pengajian dari masjid terdengar. Aku tidak suka mendengarnya lirih. Karena itu mengingatkanku pada kematian kakek yang tepat saat shalawat itu megalun.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s