Tarian Cahaya di Lautan Wayag

Standard

Setelah lebih dari semalaman, akhirnya fajar menyambut di ufuk timur laut Raja Ampat. Kami berada di tengah-tengah gugusan pulau Karst di Kepulauan Wayag, Raja Ampat bagian utara. Semenjak berpindah kapal ke Puti Raja, aku jadi sering mual dan muntah-muntah. Entahlah, mungkin karena di kapal Puti Raja, gelombang laut yang sedang buruk jadi begitu terasa, sejak tidur semalam, aku merasa terguncang-guncang dan pusing saat bangun tidur.

Bahkan, sejak tadi pagi aku sangat tidak bernafsu makan. Pak Mark, Sarah dan Mas Edy mungkin tidak menyadari. Tapi lepas sarapan, aku langsung berlari ke kamar dan muntah-muntah karena pusing. Payah sekali.

Hari sebelumnya kami berhasil mendapatkan data pari manta di Eagle rock. Itu sebenarnya sebutan untuk 3 buah batu yang berdiri di tengah laut, dan diatasnya ditinggali oleh sekelompok kecil burung elang laut. Oleh karena itu dinamakan Eagle rock. Begitu penjelasan singkat Pak Mark. Hari kemarin adalah kembali aku me-refresh kemampuanku menyelam. Sarah agak khawatir denganku, karena beberapa hari sebelumnya, aku gagal melakukan penyelaman akibat kekurangan berat sehingga aku hanya mengapun di air tanpa bisa masuk.

Dan aku berhasil melakukan penyelaman kemarin dengan tambahan pemberat 1 kilogram. Tidak terlalu buruk. Pak Mark juga membantuku memasang pemberat, dan mencarikan BCD (Buoyancy Control Device) dan masker untukku, karena masker milikki sering kali berembun dan sangat tidak nyaman. Awalnya, aku sangat takut akan tertinggal cukup banyak dalam proses penyelaman kemarin, tapi Pak Mark dengan sangat terbuka mengajariku banyak hal pada penyelaman hari itu.

Meski pada awalnya, aku survey berdua dengan Sarah, Pak Mark bersama dengan Mas Edy. Tapi pada survey kedua, kami melakukan survey bersama-sama. Pak Mark meminjamkan aku kamera GoPro miliknya dengan strobe. Beliau bilang, itu akan membuatku lebih mudah mengambil gambar. Selain itu, satu lampu LED di bagian lengkan kanan, membuatku mampu mengambil gambar lebih baik.

Sarah meletakkan GoPro watcher (5 GoPro yang digabungkan jadi satu)-nya di satu point, yaitu sebuah titik dimana manta biasa ditemukan sedang melakukan cleaning atau kebiasaan membersihkan diri dari parasit dengan bantuan ikan-ikan kecil. Kami berhasil menemukan 4 pari manta pada penyelaman itu, aku mendapatkan 2 ID, dan Sarah mendapat 4.

wp-1495861120767.

Di akhir penyelaman, speedboat Puti Raja kehabisan bahan bakar. Dan sialnya, tidak ada bahan bakar cadangan. Gelombang mulai meninggi hingga pukul 11 pagi kemarin. Membuat kami sempat terombang-ambing dan terbawa arus naik. Kapal Puti Raja berada cukup jauh dari jangkauan, dan tidak ada siapapun yang bisa dipanggil untuk bisa membantu kami membawa bahan bakar cadangan karena Pak Ken dan Kris, sedang berada bersama kami di boat.

Pak Mark akhirnya memutuskan untuk berenang menuju kapal Puti Raja. Aku sangat heran pada beliau, aku dengan 2 kali penyelaman saja sudah merasa sangat lelah. Dengan jarak yang cukup jauh, Pak Mark berenang menuju kapal, dan mengambil satu jerigen bahan bakar cadangan dan kembali ke speedboat. Tak kulihat sedikitpun gurat lelah di wajahnya. Dalam hati aku hanya bisa geleng-geleng, kagum!

Maybe today we can try to explore some points in Wayag. We saw two babies manta ray swam near the channel.” Ucap Pak Mark di meja sarapan.

Kami berdiskusi tentang rencana pagi itu. Pak Mark bilang, survey hari itu, akan dilakukan full, pagi hingga matahari terbenam nanti. Hanya Pak Mark yang akan melakukan diving. Aku, Sarah dan Mas Edy hanya akan melakukan survey melalui snorkeling. Karena Pak Mark harus membersihkan acoustic reciever di satu lokasi, kedalamannya lumayan, sehingga diperlukan diving.

Kami bertolak menuju speedboat Puti Raja, Pak Mark saat itu rela menyetir booat demi kami. Meski bergantian dengan Mas Edy beberapa kali. Aku sempat berbicara dengan Sarah, bahwa aku sangat menyukai aura yang ditebarkan oleh Pak Mark, bahkan saat pertama kali aku bertemu dengannya di kapal Si Datu Bua. Aku menyukai mata biru langit Pak Mark yang sangat cerah, dan senyumnya yang sangat sumringah. Membuatku merasa diterima saat berada di dekatnya. Meski masih sangat canggung, aku melihat kerendahan hati Pak Mark saat melakukan survey di Eagle rock kemarin.

img_20170222_124645_hdr-01

Seorang Vice President, di sebuah organisasi konservasi terbesar di Indonesia, begitu sangat terbuka mengajari aku yang sangat anak bawang ini. Aku jadi sangat merasa beruntung, bisa bertemu Pak Mark secara langsung.

Hujan mengguyur, pagi itu. Gerimis, kemudian menderas. Kami membiarkan Pak Mark bekerja di satu titik tempat reciever diletakkan. Sementara aku, Sarah dan mas Edy, memeriksa bagian lain di Wayag. Sarah meletakkan GoPro watcher nya di lokasi yang dibilang Pak Mark ketika beliau melihat bayi manta yang sedang berenang. Beberapa asumsi mengatakan bahwa itu bisa jadi merupakan tempat manta melakukan cleaning.

This place is perfect for baby mantas to forage, there is no big sharks. No big current, possibly huge amount of foods. The water is very murky because this place’s characteristic like a swamp, nutrient trapped within makes this place suitable for foods.” Begitu ucap Pak Mark, saat kami berada di atas speedboat.

Selain itu, perairan di Wayag juga sangat unik. Beberapa tempat terlihat sangat dangkal, dengan tipe perairan pasir dan terumbu karang. Tapi, ada beberapa wilayah yang berupa seperti slope, atau bagian seperti jurang. Tepinya bisa saja hanya 8 atau 10 meter, semakin ke tengah bisa mencapai 18 meter. Agak mengerikan.

Hujan masih mengguyur, aku mulai merasakan kedinginan karena angin berhembus cukup kencang. Dan speedboat ini tidak memiliki kanopi. Sarah memeriksa area lain, dekat dengan lokasinya meletakkan GoPro watcher hingga tersisa aku dan Mas Edy.

Aku dan Mas Edy memeriksa bagian tengah, Mas Edy berada di atas boat, sementara aku melakukan survey di beberapa bagian yang dangkal. Hujan berhenti, berganti dengan panas. Hingga lebih beberapa jam, akhirnya kami memutuskan untuk menjemput Pak Mark dan Sarah. Sarah berbinar, karena dia berhasil mendapatkan ID dari 3 manta bayi, Pak mark juga berhasil melakukkan tagging akustik. Mereka berdua tampak senang.

Hujan kembali mengguyur. Hingga pukul 4 sore. Tapi hanya berupa gerimis. Kami kembali mengitari seisi Wayag. Hingga pada beberapa titik, kami melihat telaga biru yang sangat tenang, dan sangat hening tanpa terlihat satu ikanpun. Pak Mark kembali bercerita beberapa pengalaman yang sangat menarik, seperti mengenai perjalanan risetnya menyelami laut sedalam 70 meter, terkena kibasan ekor hiu hingga membuatnya nyaris mati karena kehilangan regulator dan mask nya.

Aku hanya bisa terperangah.

Langit mulai berubah menjadi oranye. Hujan juga sudah berhenti. Membuat lukisan siluet moncong-moncong bukit wayag dan lukisan kapal yang sedang berdiam di dekat pintu masuk Wayag. Sangat indah.

“Mungkin kita bisa ajak Rafid naik ke atas bukit.” Pak Mark tersenyum, sambil menjalankan kemudi. Bahasa Indonesia Pak Mark sudah sangat lancar.

Aku tersenyum girang. Pak Mark akhirnya membawa kami ke salah satu pulau, tempat mendaki bukit.

img_20170222_175313_hdr-02

Pendakian yang cukup sulit, karena bukitnya terjal dan batu-batunya sangat tajam. Pak Mark bisa menyelesaikannya dengan hitungan menit. Sementara aku dan Mas Edy sangat kepayahan mendaki. Aku berdecak, saat melihat punuk-punuk pulau dari atas, ditambah dengan cahaya langit sore berwarna oranye.

Ini adalah halaman bekerjaku!

Tak hentinya aku bersyukur, atas segala karunia yang Allah berikan padaku hari ini, pada kesempatan ini juga.

img_20170222_174111_hdr-01

Malam hampir tiba. Kami berempat kembali ke speedboat. Sambil berbincang ringan, Pak Mark kembali menceritakan pengalaman serunya mencari spesies-spesies ikan di kepulauan Raja Ampat. Termasuk beberapa yang membuatnya sangat mencintai masyarakat di Papua.

“It took 6 years for My PhD, tapi karena saya cinta Indonesia, saya tidak punya alasan untuk lulus cepat.” Pak Mark tersenyum, dengan senyumnya yang selalu kusuka dari beliau.

“Oh, Wait!” Katanya.

Splash!

Sebuah siluet bayi manta yang melompat. Kami semua berdecak kagum, Sarah sangat girang. Lompatan yang sangat indah dengan percikan-percikan air yang terbias oleh cahay senja.

“I am here!” Ucap Pak Mark, kami semua tertawa.

Benar-benar hal tak terduga, untuk menutup hari kami yang baik. Setelah kering, kehujanan dan kering hingga kehujanan lagi. Kami naik ke kapal Puti Raja untuk kembali mengannalisis data foto yang kami dapat hari itu. Melelahkan, tapi cukup menyenangkan. Sangat menyenangkan!

img_20170222_182152_hdr

Malam berganti. Sangat gelap malam itu, tanpa penerangan kecuali hanya penerangan dari kapal-kapal yang bermalam di sekitar pulau. Makan malam hampir siap, kemudian Pak Mark beringsut.

“Come, I want to show you guys something. What do you guys call fireflies?” Ucap Pak Mark, jarinya menunjuk keatas, mencoba mengingat-ingat.

“Kunang-kunang.” Ucapku.

“Oh, yeah. Come!” Pak Mark bersemangat, “Just a few minutes before the dinner!”

Kami semua bergerak ke bagian belakang kapal. Pak Mark membawa senter kecilnya untuk penerangan bantu. Kami berpindah ke speedboat. Pak Mark bilang, kami bisa melihat kunan-kunang malam ini.

Pak Mark mulai menyetir, sesaat hanya keheningan dan kegelapan yang berada diantara kami berempat. Langit sangat gelap, bulan tertutup awan bekas hujan sore tadi. Bintang terlihat, tapi sangat redup.

“See!” Pak Mark menyeru pelan, dengan sangat antusias.

Barisan kunang-kunang, diatas bukit wayag, bersinar dalam sepersekian detik, bagai simfoni cahaya, sangat teratur. Cahaya berpendar dari kanan, merambat bagai cahaya lampu natal yang berkelip, diatas bukit yang gelap pekat. Sangat indah.

“Its like a christmas tree, right?” Ucap Pak Mark tersenyum dan memegang kemudia speedboat. Mesin dimatikan. Keheningan menyergap. Penampilan kunang-kunang kembali berpendar, menampakkan barisan cahaya yang menyerupai kerlip-kerlip bintang.

Sarah berdecak, begitu pun aku.

“Do you guys know, that fireflies’ lights are very species-specific, they have various light intensity and each species, has different pattern of light.” Ucapnya, kami semua kembali berdecak.

Kami kembali menatap bukit-bukit yang penuh dengan cahaya kunang-kunang. Kerlip, kemudian kembali gelap pekat. Pak Mark memainkan senter nya, dan barisan cahaya di air kemudian mulai terlihat. Itu adalah ubur-ubur yang menyerap, dan memantulkan cahaya dari senter. Bagai tarian cahaya di lautan. Sarah, Aku dan Mas Edy mengucapkan terima kasih pada Pak Mark. Perjalanan singkat yang sangat mengagumkan.

Aku merasa ikatan mulai terbentuk, bahkan dihari-hari yang sangat singkat. Karena kerendahan hati Pak Mark, kami merasa seperti keluarga. Bahkan aku, tidak pernah merasa sangat diterima.

Pagi bergulir, kami memiliki flight yang berbeda keesokan harinya. Pak Mark dan Sarah akan ke Bali. Sementara aku dan Mas Edy harus kembali ke Jakarta untuk sementara waktu.

Sambil berdiskusi di bandara, Pak Mark memberikan beberapa masukkan dan dukungan, bagi aku yang akan memulai bekerja di Raja Ampat. Mungkin akan sulit, untuk bisa bertemu Pak Mark lagi. Dan dalam 5 hari terakhir, aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan beliau, dan bisa merasakan kerendahan hati, dari seorang guru yang begitu ikhlas mengajari murid-muridnya. Aku, Sarah dan Mas Edy. Terutama aku, beliau sangat sabar dan mencontohkan hal yang sangat baik, dalam kepedulian dan rasa kebersamaan.

img_20170223_141622

Saat pemberitahuan bahwa aku dan Mas Edy harus segera boarding ke dalam pesawat, kami berpisah di lounge setelah makan siang. Aku memeluk Pak Mark dan mengucapkan terima kasih atas ilmunya yang diberikan selama 5 hari belakangan, dan beliau merasa sangat senang juga bisa mengajariku meski waktunya sangat singkat. Aku juga memeluk Sarah, dan berpisah beberapa saat kemudian.

Tarian cahaya di laut Wayag. Aku pasti akan selalu merindukan saat-saat Pak Mark mengajak kami berkeliling malam melihat tarian kunang-kunang. Dan mungkin, suatu saat akan bertemu dengan beliau lagi di kesempatan yang lebih baik.

Aku bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Ini adalah rezeki Allah yang sangat tidak bisa terbayar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s