Perpisahan yang Menyenangkan

Standard

“So maybe tomorrow we will try to explore eagle rock until the afternoon, and we can see if the weather is good enough then we can head directly to Wayag.” Ucap Pak Mark di meja makan. Kami baru saja berlayar kembali, meninggalkan pelabuhan Sorong. Lusa lalu kami berpisah dengan Shawn dan John dari kapal Si Datu Bua. Setelah para donor kembali ke rumah mereka masing-masing melalui penerbangan siang ini.

Ada cerita yang lucu sekaligus membuatku canggung saat perpisahan kami dengan Shawn dan John. Hari sebelumnya, kami melakukan survey pari manta di sekitar pulau Andau, bagian timur dari Pulau Mioskor, menggunakan rubber boat milik Si Datu Bua. Tepatnya, hari itu adalah hari pertamaku mendapatkan training menngambil foto ID manta menggunakan GoPro yang baru saja diberikan Sarah untukku berlatih.

Kami memutuskan untuk pergi di pagi hari, karena arus surut akan mencapai fase slack , atau fase dimana air laut mengalami fase diam diantara arus surut dan arus pasang. Beberapa hari sebelumnya para ranger patroli laut memberitahu kami bahwa Manta biasa terlihat pagi hari, tepatnya pukul 8-10, saat arus mulai sedikit tenang. Pukul 7 kami bersiap di atas rubber boat, dan berkeliling melakukan survey atas (Surface Survey), pada satu jam pertama, kami tidak berhasil melihat apapun.

Kemudian, sepasang sirip hitam mulai terlihat diatas permukaan air yang tenang. Itu Manta! aku berteriak dalam hati. Sarah, Shawn dan Mas Edy sudah bersiap dengan perlengkapan mereka. Aku yang masih kikuk dengan segala ketiba-tibaan akhirnya mengikuti gerak-gerik mereka. Sarah sempat memberitahuku beberapa tahap untuk bisa melakukan survey itu, dan aku optimis bisa melakukannya dengan baik pada training ku pagi itu.

Shawn masuk ke dalam air lebih dulu, dengan kamera besarnya yang sangat professional. Dia adalah salah satu fotografer National Geographic, jadi wajar kamera adalah jantung baginya. Sarah kemudian mengikuti dari belakang. Mas Edy masih berada di boat bersama denganku, sepertinya dia memutuskan untuk menjadi mata dari atas boat dan memberitahu Sarah dan Shawn mengenai posisi manta dari atas.

Selang beberapa menit, aku ikut menceburkan diri ke dalam air. Shawn tampak gusar saat aku masuk ke dalam air, karena satu dan lain hal, kami kehilangan manta beberapa menit kemudian. Mereka menyelam ke perairan yang lebih dalam dan menghilang. Aku menyangka bahwa akulah yang membuat manta tersebut lari karena cipratan yang kubuat saat menjatuhkan diri ke air.

Kami kembali keatas rubber boat. Shawn nampak tidak senang dengan hal barusan. Beberapa saat kemudian, kami kembali menemukan beberapa ekor manta sedang bermain di permukaan dengan menunjukkan ujung-ujung sirip mereka. Shawn tampak sangat antusias, dan langsung menceburkan diri ke air. Arus cukup kencang saat itu, sehingga dalam hitungan detik Shawn langsung terseret menuju belakang boat. Sarah menyusul kemudian. Mas Edy tetap berada di atas boat dan menjadi pengamat posisi. Aku masih bimbang, apakah aku harus menceburkan diri atau tidak.

Aku masih belum berhasil mendapatkan foto ID, karena manta menyelam cukup dalam, aku kesulitan untuk bisa masuk ke kedalaman 8 meter dengan peralatan snorkeling-ku. Akhirnya aku memasang masker dan finku. Air tampak tenang dari atas, dengan biru yang menembus sampai dasar. Pasir putih yang ditumbuhi sedikit terumbu karang. Tapi siapa sangka bahwa arusnya lumayan kencang, sampai membuatku terseret. Dengan sedikit suara cipratan air, aku berada di dalam air dan arus langsung menyeretku beberapa meter ke belakang boat.

Aku melakukan freedive dan mencoba mengambil ID pertamaku. Seekor pari hitam besar, berukuran 3 meter berada tepat di depanku. Tampaknya dia sedang hamil karena perutnya terlihat gembung dan berenang sangat lamban. Dengan satu kipasan, aku berenang tepat dibawah pari besar itu, dan mengambil posisi horizontal dan mengarahkan kameraku pada perutnya. Dalam jarak 3 meter, aku berhasil mendapatkan ID pertamaku.

16825928_10202628029898683_456345995513930627_o

Shawn dan Sarah berada beberapa meter di dekatku, mereka memberikan isyarat, sesuatu yang tidak bisa kumengerti di dalam air. Aku hampir kehabisan napas, aku mendengar suara baling-baling boat. Shawn tampak gusar dan memusatkan perhatian padaku, sambil melambai-lambaikan tangan. Sarah pun demikian. Dia berusaha melakukan sesuatu, dan kepalanya keluar dari air.

Saat aku sadar, aku hampir saja tertabrak boat. Arus yang lumayan kencang itu hampir membuatku tertabrak boat! Aku baru saja menyadari bahwa Shawn dan Sarah mencoba mengingatkan. Pari manta mulai tampak banyak berkumpul, tapi Shawn memutuskan untuk menghentikan survey pada saat itu. Kami semua naik keatas rubber boat. Shawn dan Sarah tampak berdebat, dengan bahasa inggris yang satu dua katanya dapat kumengerti karena mereka bertengkar dengan suara pelan.

“It was because of the boat, not him! He doesn’t have full control in the water, the boat should be more careful!” Ucap Sarah dengan nada agak tinggi dan samar. Aku hanya diam, mencoba memperbaiki kesalahan yang lagi-lagi harus kulakukan. Mereka berdua masih tampak berdebat, tanpa aku harus mengerti siapakah yang salah. Apa memang benar aku yang salah?

Manta kembali terlihat. Perdebatan kecil mereka akhirnya beralih menjadi semangat untuk kembali mendapatkan foto-ID. Lagi-lagi aku ragu apakah harus turun atau tidak. Satu, dua, delapan manta terlihat. Ada banyak manta yang terlihat pada pukul 10 pagi, beberapa menit sebelum slack terjadi. Mas Edy memutuskan untuk turun dan sudah berada di dalam air.

Aku pun menceburkan diri ke air bersama dengan kameraku dan mengambil beberapa ID. Shawn mendekatiku di dalam air dengan kamera besarnya, mencoba beberapa kali mengambil gambarku dengan pari manta. Sikapnya tampak berubah setelah perdebatan dengan Sarah diatas boat tadi.

16991735_1369840536370518_426908902924363760_o

Aku berhasil mengumpulkan beberapa gambar ID dengan baik. selang beberapa jam, saat fase slack sudah mulai terjadi. Kami memutuskan untuk kembali ke pulau Mioskor karena harus bersiap-siap untuk pulang pada hari itu. Shawn dan John memiliki penerbangan besok siang, sehingga hari ini mereka harus segera kembali ke Sorong.

Beberapa jam sebelum kami berpisah. Mereka berdua tampak sibuk membenahi peralatan kamera mereka ke dalam koper. Aku dan Mas Edy sempat mengobrol ringan dengan John, yang saat itu sedang sangat gelisah karena meninggalkan istri dan anaknya yang masih kecil di Amerika, dan istrinya sedang sakit. John sempat menangis saat berbicara di telepon dengan anaknya yang baru saja berusia 2 tahun yang juga menangis di telepon karena ketakutan.

Sejak beberapa hari kemarin kami tidak bisa mendapatkan sinyal, sehingga John terlihat sangat cemas. Akhirnya dia berhasil menghubungi keluarganya dan dia sangat khawatir saat itu. Aku dan Mas Edy akhirnya berbicara ringan mencoba membuat John sedikit lebih riang usai berbicara melalui telepon.

Sarah kemudian memanggilku, untuk berpamitan dengan mereka berdua, Shawn dan John. Mas Edy memeluk John dan memberikan beberapa dukungan baginya, dan juga mendukung agar suatu saat dia bisa membawa anak dan Istrinya ke Indonesia dan melihat Raja Ampat. Kemudian aku juga berpamitan, John memeluku ringan. Aku mengucapkan terima kasih karena sudah menjadi guru yang baik, aku banyak belajar dari kerendahan hati John, yang tidak memandangku sebagai seseorang anak kecil yang baru belajar.

“You did great, man! Shawn showed me the video of you taking the manta. You possessed natural talent to do that thing!” Ucap John sambil tersenyum.

Aku berpamitan dengan Shawn, awalnya aku hanya menjabat tangannya karena masih merasa sangat canggung.

“Sorry, to disappoint you for several times.” Ucapku bergetar. Shawn menggeleng.

“You did great man, it took only some moments for you to learn. I am so proud of you. Welcome to the team!” Shawn tersenyum dan memelukku erat, sampai aku kesulitan bernapas dan tertawa. Kami kemudian berfoto bersama menggunakan kamera John.

Aku jadi mengerti beberapa hal, untuk bisa mengenal berbagai macam karakter orang lain, dalam lingkungan pekerjaan yang sangat dinamis. Meski aku menjadi yang paling muda, dalam sekelompok orang yang sangat professional. Aku sangat beruntung aku bisa belajar lebih baik, untuk mengenali diri, orang lain dan juga berusaha untuk tetap optimis. Kami akhirnya menaiki speed boat Yaswal milik Conservation International. Dan berpisah dengan Shawn dan John.

Aku yakin akan bisa melihat mereka lagi nanti, dan aku sangat bahagia Allah tempatkan aku pada lingkungan baik yang bisa membuatku matang secara emosional.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s