Petualangan Baru di Laut Raja Ampat

Standard

15 Februari 2017. Pagi hari kemarin Sarah sempat menelponku dan memberikan kabar bahwa tiket pesawatku baru saja dipesan. Dia sudah lebih dulu di Raja Ampat bersama dengan tim dari Conservation International. Sambil berbincang ringan, Sarah menjelaskan kegiatan yang akan aku lakukan selama di Raja Ampat nanti, dan memberikan gambaran singkat akan keadaan di lapangan.

Awalnya, dia menjelaskan bahwa kami akan berada di kapal liveaboard selama satu minggu, dan menghabiskan waktu di Arborek di 2 hari pertama dan bertemu dengan beberapa NGO yang ber-partner dengan Manta Trust untuk memberikan data populasi pari manta di Raja Ampat. Kemudian dia memberitahu bahwa aku akan satu pesawat dengan Shawn dan John, dua sinematografer konservasi yang sangat aku kagumi karena film dokumenter nya yang berjudul “Racing Extinction“, siapa yang tidak girang?

Malamnya aku sempat tidak bisa tidur karena pesawat akan berangkat Shubuh hari. Mengingat beberapa tahun lalu aku sempat ketinggalan pesawat menuju Bali, aku memutuskan untuk tidak tidur dan menunggu hingga pukul 3 pagi. Sesaat sampai di bandara, aku memberikan pesan pada Shawn bahwa aku sudah sampai, dan dia memberitahu bahwa dia sudah lebih dulu check in dan menunggu di lobby bersama dengan 2 orang lain, John dan Laurie.

Ketika aku berjalan masuk pintu check in, aku melihat Shawn yang menggendong tas besar berisi kamera, ketika menyadari kami langsung menghampiri satu sama lain dan bersalaman. Saat itu aku masih belum percaya kalau bisa bertemu dengan Shawn secara langsung di bandara.

Setelah 3 jam perjalanan dan transit di Makassar. Akhirnya aku bisa melihat bandara Edward Osok, Sorong. Selang beberapa menit menunggu barang bawaan, kami akhirnya keluar dan disambut oleh beberapa orang dan 2 mobil milik Conservation International. Laurie pindah ke mobil 1 untuk pergi ke kantor CI sementara mobil lain berisi Shawn, John, aku dan barang-barang. Tak lama akhirnya kami sampai di pelabuhan Sorong, dan langsung pindah menuju rubber boat untuk pindah lagi ke kapal phinisi liveaboard.

img_20170215_141401_hdr

Pelabuhan Sorong, transfer dengan rubber boat

Angin siang hari, dengan matahari yang cukup terik menjadi pembuka hari pertama di Sorong. Dalam beberapa menit, kami sampai di sebuah kapal phinisi besar dan megah dengan warna kayu keemasan, kapal “Si Datu Bua” milik seseorang bernama Patty. Wanita kelahiran Amerika yang sudah menjadikan Indonesia sebagai rumahnya.

Sesampainya di kapal, kami langsung disambut oleh crew-crew kapal si Datu Bua. Kami disuguhkan soda limun dan handuk dingin. Tak lama, sang pemilik kapal, Patty membawa kami melihat-lihat isi kapal si Datu Bua dan ruangan untuk kami beristirahat. Si Datu Bua, merupakan nama yang berasal dari bahasa Biak. Patty sudah berada di Indonesia lebih dari 30 tahun, dan dia sudah berkeliling hampir ke seluruh pulau-pulau yang ada di Indonesia. Selama tur kecil tersebut, Patty banyak menceritakan soal pengalamannya menyambangi pulau-pulau kecil dan terlibat dalam kebudayaan tradisional Indonesia yang membuatnya sangat jatuh cinta.

Termasuk nama kapal “Si Datu Bua”, meski kapal phinisi ini dibuat di Sulawesi, Patty mengaku bahwa nama Si Datu Bua di dapatkan dari suku adat di biak yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Si Datu Bua sendiri berarti “Wanita Tercantik”, dalam kebudayaan suku Biak, akan dipilih beberapa wanita tercantik sebagai kebanggaan adat, dan wanita yang paling cantik bergelar “Si Datu Bua”. Patty tertawa saat menceritakan ini, karena dia mengaku bukan dia yang diberi gelar si datu bua, tapi dia memutuskan untuk memberikan nama Si Datu Bua pada kapalnya, karena kapal ini adalah satu kapal kebanggaan yang dimilikinya.

Aku berada di kapal bersama dengan Shawn dan John, kemudian Laurie menyusul beberapa jam kemudian. Saat hari sudah mulai sore, kapal mulai melaju menuju salah satu pulau di Raja Ampat, Pulau Mioskor. Shawn dan John akan memulai pembuatan film Conservation International. Besok, di Pulau Mioskor akan diadakan upacara adat, meresmikan wilayah konservasi baru di kepulauan Fam.

Kapal mulai melaju, meinggalkan Sorong dengan layar yang terkembang megah. Membuka petualangan baruku di Kepulauan Raja Ampat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s