Berdamai dengan Hujan

Standard

“Itu terlalu naif menurutku..” Ucapnya bergurau, kemudian dia kembali menatap lurus ke depan, kearah hamparan padi-padi yang membentang hijau. Sungai besar menanti di ujungnya. Tebing-tebing batu membingkai cakrawala. Diatas, jalur kereta api tua yang menghubungkan Purwokerto – Cilacap masih setia menjadi penghubung perjalanan.

Aku menghela napas, “Setidaknya, kita harus bisa merencanakan segala hal sejak awal, bukan?” Sejenak mencoba membiarkan angin sejuk sore hari, membuat kami berdua terduduk diatas batu, ditepi barisan padi.

Kerudung merah muda panjang itu melambai tertiup angin. “Aku bersyukur..” Ucapnya perlahan, dia menunduk sunyi. Aku memerhatikan.

Hening. Angin bertiup, membuat barisan padi-padi itu riang menyambut mentari yang sebentar lagi tertidur.

“Aku bersyukur, Allah pertemukanku dengan kamu.” Dia tersenyum, suaranya menghilang. “Terima kasih, sudah membawaku sejauh ini.”

Aku tidak menggubris, jantungku sedikit berdegub-degub, kemudian semakin cepat. Dentumannya seperti dapat terdengar di padang yang luas ini.

Barisan gerbong kereta melintas, suaranya terdengar samar dari kejauhan, menabrak dinding-dinding batu yang membingkai. Semakin kecil, kemudian menghilang, bersama dengan bayangan senja yang menguning.

Aku masih mengingat kalimat yang pernah kau katakan. Saat kita masih duduk berdua, menyaksikan barisan padi di tepian, duduk diatas batu berlumut. Melihat kereta yang sibuk mengantarkan penumpang dari kejauhan. Saat kita masih sama-sama merasakan bagaimana cinta dan euforia tumbuh dewasa, meski belum diatas kaki sendiri. Tapi kita memiliki semangat untuk bisa meniti bersama-sama.

Suara derit rel kereta di kejauhan, membuat kita nyaman, bukan? Kau bilang kau selalu suka perjalanan dengan kereta. Katamu itu bagai perjalanan menemukan tepian, saat kamu sedang kebingungan untuk menentukan arah. Entah apa maksudnya, aku selalu suka melihatmu tersenyum tipis saat kau kebingungan mengatakan kalimat yang tidak kumengerti.

Ada sebagian memori yang masih tinggal, bahkan hingga sekarang.

“Mungkin kita harus sama-sama menjaga jarak, mulai saat ini.” Ucapmu melalui pesan whatsapp malam itu. Pukul 3 pagi. Aku yang semakin alpa mendirikan tahajjud, akhirnya memutuskan untuk kembali menghidupkan lentera di sepertiga malam. Aku ketakutan saat kau menjadi baik, tanpa diriku yang tak kunjung menjadi baik untukmu.

Aku mengerti mengapa kau sampaikan hal itu, aku mengerti. Aku sangat ingin membalas pesanmu itu. Tapi nyatanya tak pernah kuucapkan dan kutekan tombol kirim. Membuat pesan terakhir itu, benar-benar menjadi yang terakhir dari kisah yang mungkin, baru kita mulai seujung kuku. Mungkin akan terus tumbuh, atau tidak sama sekali.

“Kurasa kita sudah salah memulai. Maafkan, aku sudah terlalu jauh meruntuhkan harapan-harapan yang sudah terlanjur tumbuh.” Ucapku, beberapa hari sebelum pesan whatsapp itu kuterima.

Kau tidak menjawab, barang sepatah katapun. Kemudian berlalu. Jalanan aspal yang dipenuhi daun-daun cokelat gugur itu, menutup derap kakimu yang tak terdengar. Aku memang tak akan pernah mengerti apa arti dari hati yang hancur. Karena hatiku sudah terlebih dulu hancur. Terdengar tidak adil saat manusia seperti dirikupun, selalu saja menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kubuat sendiri.

Saat itu, mungkin kita sama-sama tak peduli dengan perasaan masing-masing.

Kubilang, aku sudah tak sama lagi. Mungkin karena lentera iman yang ada, semakin redup lantaran semakin banyak kutinggalkan amalan-amalan sunnah itu. Pada akhirnya, akulah yang harus mengkhianati mimpi-mimpi yang pernah kita susun bersama. Meski masih jauh, sangat..sangat jauh.

***

“Selamat.” Ucapku di dalam pesan whatsapp pagi saat hari kelulusanmu.

Aku mengerti betapa bahagianya kamu. Tertinggal tanda pesan biru, tanda pesan itu sudah kau baca.

Sebisa mungkin kucoba untuk berbaik sangka, mungkin kamu sedang sibuk lantaran bersiap untuk wisuda di pagi hari. Akhirnya, menjemput garis finis perjuangan terlebih dulu.

Hingga beberapa hari semuanya berlalu. Menghilangkan kenangan-kenangan yang masih tersisa.

Hujan turun menderas, sore itu.

***

“Mungkin kita harus kembali, kepada jalan kita masing-masing. Aku harus kembali berdamai, dengan perasaanku sendiri. Berdamai dengan semua hal yang pernah kita simpan bersama-sama.” Ucapmu bergetar. Satu butir air turun, melewati pipmu yang merona. Tapi aku tak melihat rona-nya sama.

Kali itu, aku melihatnya redup.

Maafkan aku.

Aku mengepal tangan, mencoba menahan gejolak rasa yang terus saja muncul. Dadaku berdegup, degubnya sama dengan saat kau katakan pada hari kita menyaksikan kereta masih setia mengantar penumpang bertemu dengan keluarganya dirumah. Tapi dentum jantungku menyatakan perasaan yang lain.

Apa ini?

Hujan kian menderas, merundukkan bunga yang kita lihat di kebun raya yang semakin sepi. Kau bilang saat itu, mungkin ini adalah terakhir kalinya kita bisa menyimpan perasaan kita masing-masing, kembali menghapus semuanya kosong, sama seperti di awal dahulu. Saat kita, masih belum mengenal siapa itu “kita”.

“Terima kasih, sudah membawaku sejauh ini.” Suara yang menghilang. Kamu berbalik, tanpa melihatku lagi.

Apa kau tak sudi?

Kau menerobos kerumunan hujan yang semakin riuh. Menabrak-nabrak aspal yang kesepian sejak siang tadi. Kebun raya sepi sejak beberapa menit lalu. Hanya kita. Aku. Dan perasaan yang menggelayut diatas dahan-dahan pinus yang basah terkena hujan.

Aku melihatmu, membawa motor matic merah muda itu, kemudian melajur, melewati barisan besar pohon pinus yang menggapai-gapai langit.

***

Berdamai, katamu?

Aku berdiri dibawah hujan, menggenggam gagang payung yang berkarat. Didepan genangan yang memantulkan bayanganku dan kilat yang menyala.

Berdamai dengan hujan?

Aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal padamu yang kala itu menghilang di dalam gerbong kereta. Padahal sejak tadi pagi aku sudah bersiap untuk bisa mengantarmu, untuk pergi dari kota yang sempat menjadi saksi kisah yang menurutku, terlalu baik untuk bisa kita lupakan selama-lamanya.

“Terima kasih.” Pesan whatsapp sore itu, ditengah hujan. Menjadi yang terakhir.

Kupikir, akan lebih mudah. Tapi aku tak pernah mengerti bagaimana hancurnya perasaanmu. Karena sejatinya, aku tak lagi memikirkan lagi seberapa hancurnya perassanku sendiri.

Siapa yang peduli?

***

Kilat menyambar. Barisan sawah yang tak lagi hijau, muram ditimpa hujan. Kilat menyambar, memperlihatkan pantulannya di sungai besar yang tak lagi jernih. Kereta tak lewat.

Aku mengingat tempat ku berpijak sekarang, saat aku masih bisa melihat kerudung merah muda dengan bros kupu-kupu, hasil buatanmu sendiri yang dengan bangga kau tunjukkan padaku saat kau selesai membuatnya.

Biarlah kisah-kisah itu larut bersama dengan aliran sungai serayu yang muaranya di lautan.

Aku harus berdamai dengan hujan, yang membiarkannya luntur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s