Aku Tidak Ingin Tertidur

Standard

17 Desember 2016

Sudah 4 hari.

Benarkah? Sudah secepat itu waktu berlalu sejak 13 desember lalu. Lagi-lagi aku terbangun dengan perasaan kesepian yang terus menusuk-nusuk. Perasaan aneh yang tidak pernah bisa di deskripsikan. Baru saja aku berhasil di wisuda, mengenakan toga, seperti banyak cerita-cerita novel yang kubaca saat masih SMA dahulu. Sejatinya, tidak ada perasaan yang terlalu spesial dalam momen itu. Tidak, aku berbohong.

img-20161212-wa00091

Mungkin selfie bersama yang terakhir kalinya disini

Jelas, semuanya terasa berbeda.

Aku merasakan perasaan yang sama, seperti saat pertama kali dilantik menjadi mahasiswa UNSOED, 4 tahun silam. Bersama dengan 10 mahasiswa lain dalam grup OSMB yang sama. Entah, mereka sekarang ada dimana. Bahkan kudengar, ada 1 orang yang mengalami kecelakaan dan geger otak sampai tidak mengingat siapa dirinya. Padahal kami dahulu sempat menjalin hubungan intens di facebook satu sama lain. Merencanakan untuk bisa bertemu kembali lepas momen pelantikan mahasiswa baru. Yah, meski UNSOED hanya sebesar ini, tetap saja sulit menyatukan 12 Mahasiswa dari 8 fakultas berbeda.

Perasaannya persis sama.

Perasaan terasing, baru, euforia, manusia ramai berbondong-bondong. Tapi yang paling nyata adalah perasaan kesepian yang selalu saja singgah.

Sudah 4 tahun, teman. Aku tidak pernah menyangka kita bisa ditakdirkan bertemu, bahkan lulus bersama. Yang kutahu dulu aku menyesal setengah mati masuk universitas ini, semuanya diluar kemauanku. Aku membencinya, aku membenci kehidupanku.

Hujan menderas, di tanggal 16 Desember kemarin. Pukul 16:00 di sore hari. Aku duduk tenang, menyaksikan langit gelap yang rimbun dengan awan hitam. Hujan menderas tanpa ampun, menyamarkan suara manusia-manusia yang sibuk bertilawah di atas sajadah panjang dengan lampu oranye dan langit-langit marmer.

Suasana yang indah. Kembali pada memori itu lagi.

Ayah bilang, cari saja kosan yang berdekatan dengan masjid, supaya lebih mudah sholat berjama’ah, bahkan saat aku pertama kali pindah ke Purwokerto, ayah menghadiahi aku 2 buah sarung. Supaya ibadah mudah katanya. Seringkali juga ayah bilang, shalat maghrib, nanti tunggu di masjid sampai isya tiba. Isi dengan ngaji, tapi jangan sampe tidur.

Padahal kadang kalau di masjid ayah yang sering ketiduran. Tapi aku wajar, karena setiap lepas pulang kerja, ayah langsung mandi dan bergegas ke masjid. Capek.

Aku sempat melihat senyum ayah yang mesem-mesem, saat malam pelepasan di Auditorium lusa lalu. Mendengar namaku disebut mendapat predikat IPK terbaik di Program Studi. Ummi sejak tadi sibuk ngoceh, mengomentari orang-orang yang hadir saat itu.

Orang tuaku masuk ke ruangan dengan sangat canggung, batik merah Ayah dan Kerudung merah umi dan bros mentereng jadi pusat perhatian karena kami menjadi yang terakhir tiba di ruangan dan duduk di barisan paling depan untuk mahasiswa yang mendapat predikat cumlaude. Kalau ingat, aku jadi ingin tertawa.

img_20161212_211101

Ayah, Umi dengar kan IPK apit berapa?

Sudah 4 hari.

Benarkah? Sudah berlalu sejauh itu.

img-20161214-wa0008

Dunia memang terasa sangat sempit. Terima kasih sudah menjadi teman

Aku kembali duduk di kosan terakhir di Purwokerto. Dengan isi ruangan yang hampir kosong karena sudah selesai berkemas. Lagi-lagi muncul perasaan kesepian yang hadir saat hujan tiba.

Aku benci perasaan ini. Apakah ini perasaan saat ber-transisi menjadi manusia dewasa? Aku yakin, ayah sering merasakan hal yang sama. Karena ayah sering sekali murung di ruang tengah saat seisi rumah sedang sepi. Aku sering melihatnya memilih berkebun, memotong dahan pohon yang sudah terlalu panjang, atau bahkan mencuci mobil. Karena kegiatan itu, setidaknya bisa mengusir kesepian.

Sudah 4 hari.

Sudah berlalu sejauh itu. Aku tidak sempat berlama menghabiskan waktu, mungkin yang terakhir kali bersama kawan karena langsung berangkat ke Yogya bersama keluarga. Aku menyadari ada hal yang kembali hidup. Perjalanan kami diisi lebih banyak candaan karena kak aden yang selalu saja membuat suasana jadi lebih cair dengan bercandaan yang sebenarnya tidak lucu. Pasti Rifqi langsung bilang, “Sok asik” dengan gaya cadel yang membuat kami jadi sering meledeknya sepanjang perjalanan.

img_20161215_092050

Akhirnya Umi ke Yogya

Ayah jadi sering ikut tertawa. Meledek Umi yang suka heboh kalau maghrib tiba dan panik kalau tidak menemukan masjid. Atau pertanyaan-pertanyaan lucu yang sebenarnya tidak perlu untuk dijawab.

Kehadiran Adeeva, anak kakak dan kak aden, jelas membuat suasana di keluarga jadi lebih baru. Karena setiap hari, selalu ada yang kami rindukan. Terlebih Adeeva yang sekarang sudah bisa berjalan dan sangat comel kalau ingin bicara dan minta sesuatu. Sekarang pun, aku sudah merindukannya.

img_20161213_130632

4 Tahun yang sudah berakhir.

Tapi perpisahan ini sangat aneh. Aku hampir tidak bisa menemukan dimana titik perpisahan itu. Kita bisa saja tidak bertemu tanpa merencanakan perpisahan itu sendiri. Sama seperti Tito yang tiba-tiba datang, membawa hadiah untuk kami wisuda. Kemudian saat aku kembali, kamar kosannya sudah kosong bersama dengan seluruh barang dan kenangan yang kita punya selama 2 tahun tinggal di rumah kos yang sama.

Akhirnya, chat di sosial media lah yang menjadi alternatif perpisahan. Tidak adil, itu sangat tidak menyenangkan.

Ternyata, kamu tidak akan tumbuh dewasa jika tidak kehilangan teman.

Aku tidak menyangka, bisa bertemu mereka. Apa itu takdir? Mungkin itu bukan pertanyaan yang tepat.

Aku tidak tahu harus bersyukur seperti apa lagi, telah dipertemukan oleh mereka yang sudah menjadi bagian dari 4 tahun yang kulalui. Aku menolak jika harus kembali mengingatnya. Terlalu banyak, dan aku takut aku sudah melupakannya.

img-20161213-wa000011

Terima kasih sudah hadir, disini

Keluarga.

Apa sebenarnya makna dari semua itu? Kalau artinya, selalu bersedia menolong saat dibutuhkan. Itu terlalu sempit.

Atau selalu dirindukan ketika meninggalkan? Bisa jadi juga. Tapi menurutku, definisinya bisa tergantung bagaimana kita merasakan hal itu sendiri. Bagiku, bukan menjadi ukuran seberapa lama kita menghabiskan waktu bersama, tapi lebih ketika kita bisa terus menghargai, percaya satu sama lain, dan ketika bersama mereka, jam-jam bagai satu kedipan mata. Tidak akan terasa.

Ah, teman.

Kalian bukan teman. Kurasa kalian lebih dari itu.

Sekarang aku sangat tersiksa, saat aku tertidur. Hari bergulir, menandakan satu-persatu waktu akan segera menemui saatnya aku pergi meninggalkan Purwokerto. Tidak untuk selamanya, curug Telu yang kukunjungi bersama Kemal dan Kursat, menjadi kenangan tersendiri yang selalu aku rindukan untuk menapaki kenangan itu sekali lagi.

Aku tidak ingin tertidur. Aku ingin merasakan malam dingin, sama seperti 2 tahun lalu menyaksikan bintang dari atas lantai 3 bersama anak-anak Malvino. Belajar materi DOC yang segunung, ditemani kabut dingin yang menjadi tanda bahwa semester baru akan tiba.

Tidak bisa kembali, semuanya. Aku bersyukur. Bahwa meski di setiap masalah yang hadir selama aku berjuang merah gelar ini, aku menghabiskan waktu dengan orang-orang yang tepat.

Ah, teman.

Aku tidak ingin tertidur dan kehabisan waktu. Meski sejatinya sekarang, kita hampir sulit untuk bisa tertawa bersama-sama lagi. Kamar kosan yang hampir kosong ini, masih saja membuatku kesakitan akan masa-masa yang aku ingin renggut kembali dalam ingatan. Tidak bisa, tentu saja.

Aku tidak ingin tertidur dan kehabisan waktu.

Aku ingin terjaga, berdua lagi bersama dengan diri-Nya. Memohon bahwa apapun yang akan menjemputku di depan sana, aku berharap semua kebaikan teman, ah tidak, sahabat, ah bukan juga; keluarga selama ini, menjadi jembatan di setiap jurang kebuntuan mereka dalam menjemput jalannya masing-masing.

img-20161214-wa0007

Lupa? Mungkin akan sulit. Terima kasih

3 hari lagi.

Aku pergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s