Ajari Aku Menjadi Dewasa

Standard

Kemarin aku baru saja tiba dirumah, usai 5 jam perjalanan dari Purwokerto-Jakarta bersama dengan tas carrier merah besar berisi baju-baju. Disambut oleh ayah yang mengenakan mantel hijau tipis dari plastik seharaga 5 ribuan, sabar menunggu di ujung stasiun yang sepi karena hujan kian menderas. Setelah menyambung perjalanan dari stasiun Jatinegara akhirnya sampai juga di stasiun serpong.

Saat aku tiba berjalan menghindari cipratan hujan yang kian menderas, ayah masih sempat mengelap jok motor dengan kanebo, berusaha membuatnya kering saat aku duduk. Benar-benar momen yang aneh.

Saat aku tiba dirumah, Umi belum tiba sehingga hanya aku dan ayah. Suasana rumah sepi, tapi selalu menyenangkan berada di rumah, meski selalu tersiksa dengan perasaan kesepian yang selalu saja muncul dari sudut-sudut ruangan.

Sore itu, hujan masih belum juga reda, kilat masih beradu diluar dan petir menyaambar hingga membuat langit sedikit berkelip. Listrik akhirnya padam beberapa menit kemudian. Aku sedang terdiam di kamar usai membersihkan diri dengan sebatang lilin kecil yang berusaha menerangi.

Umi masih saja ngedumel memarahi Rifqi, adikku sore itu yang pulang dengan baju berlumuran tanah, membuat seisi rumah jadi ramai. Ayah yang kelelahan sore itu juga jadi ikut marah-marah. Sedikit membuatku sebal ketika berada dirumah selalu mendengar teriakan-teriakan.

Rifqi juga tidak berhenti membalasa ocehan-ocean Umi. Anak 10 tahun itu memang kadang suka ngelunjak kalau diberitahu orang tua. Berkali-kali Umi menasihati dengan nada yang berbeda-beda, meski pada akhirnya pakai nada tinggi juga. Rifqi menyerah sampai akhirnya dia harus menurut dan diam.

Aku terduduk diam dalam gelap, menyaksikan percakapan yang selalu kubenci jika dengan nada tinggi. Sistem pendidikan di keluargaku memang sedikit unik, sejak kecil aku memang tidak pernah ingat sering dimarahi oleh Umi. Beberapa ingatan sudah banyak menghilang. Beberapa, seperti dimarahi di tempat umum karena aku ngotot ingin beli VCD Digimon bajakan di Tangerang dahulu sampai dipukul, atau dipaksa menghabiskan nasi McDonald ku yang tercampur dengan fanta hingga aku muntah-muntah karena rasanya aneh.

Memori-memori yang buruk memang tidak banyak tersisa, tapi aku banyak mengingat kebahagiaan yang tertinggal saat aku maish kecil dulu. Mungkin, karena senin hingga sabtu aku selalu sendirian dirumah dan baru bertemu dengan Ayah dan Umi di sore hari, tidak jauh berbeda dengan Rifqi. Tapi ada hal yang dilewatkan Rifqi saat ini. Dia tidak sempat merasakan bahagianya pergi jalan-jalan bersama Ayah Umi dan Kakak ke kebun binatang, atau berjalan berdua bersama ayah ke taman hiburan di Jakarta hingga maghrib tiba.

Momen yang hampir langka. Aku pernah mendengar Rifqi berteriak akalu dia membenci ayah saat itu, lantaran hal kecil karena tidak diperbolehkan pergi keluar. Ayah hanya diam tidak menjawab, sikap yang selalu Ayah lakukan jika dirinya sudah tidak tertarik dengan perdebatan. Jarang sekali aku melihat Ayah marah, bahkan Ayah hampir tidak pernah memarahi saat aku kecil dulu. Beda dengan Rifqi, ayah lebih sering menaikkan nada suaranya, meski saat Rifqi dimarahi atau bahkan dipukul Umi, ayahlah yang selalu paling dahulu membelanya.

Banyak hal yang masih belum kumengerti saat ini.

Waktu-waktu sudah banyak berubah, tidak lagi seperti dahulu. Kakak sudah pindah bersama dengan suaminya di Bogor, dan hanya pulang ke rumah munkin 2 minggu sekali dan hanya satu atau dua hari saja. Membuat keadaan menjadi semakin sepi.

Ayah dan Umi juga. Tahun ini mungkin Ayah akan pensiun, dan hanya Umi yang bekerja. Membuatku semakin kebingungan dan malu dengan diriku sendiri. Keadaan dirumah juga semakin menyebalkan dengan perasaan kesepian yang semakin menyiksa.

Aku tidak pernah mengerti bagaimana orang tuaku mendidikku saat itu. Banyak hal yang hilang dari dalam memori. Tapi siapa diriku sekarang, adalah hasil dari jeri payah mereka. Kadang aku sebal kalau pulang kerumah selalu mendengar Umi berdebat dengan Rifqi, anak kecil itu memang tidak pernah mau kalah dan sangat keras kepala. Meski kadang aku mengerti, saat Umi memarahi atau bahkan memukulnya, itu karena Umi sayang padanya. Sudah berulang kali dibilang tidak boleh main hujan-hujanan padahal dirinya sendiri sedang pilek.

Ayah juga sering kesal karena Rifqi selalu menghabiskan banyak baju dalam sehari, dan dalam urusan rumah tangga ini, Ayahlah yang kebagian mencuci dan menyetrika semua baju dirumah.

Setiap malam saat ayah pulang, Ayah selalu menyempatkan mencuci meski sudah jam 10 malam, dan pagi saat shubuh sudah mulai menyetrika baju-baju. Wajar, kalau Ayah sering marah karena aku mengerti Ayah capek dengan semua itu, dan disatu sisi, dia tidak bisa mengeluh pada siapapun.

Orang tuaku, mereka sekarang sudah tua. Terlalu banyak hal yang sudah mereka lakukan untuk membesarkanku sampai sekarang ini. Ayah dan Umi, sudah sering pulang larut hanya demi mengumpulkan uang untuk menyambung pendidikan aku dan kakak dahulu, sekarang ditambah dengan Rifqi.

Aku sudah resmi lulus, meski belum wisuda, tapi aku sadar harapan Ayah dan Umi ada padaku sekarang. Padahal, pada kenyataannya aku sendiri masih belum mengerti banyak hal. Seperti apa rasanya menjadi dewasa? Aku bahkan masih belum pandai mengatur keuanganku sendiri.

Sekarang bahkan aku masih bingung apakah harus melanjutkan studi atau bekerja, aku masih belum memiliki uang untuk tes IELTS ku. Dahulu saat kuliah, lanjut studi adalah pilihan yang harus kupilih setelah lulus. Tapi pada kenyataannya sekarang aku kebingungan jalan mana yang harus kupilih.

Masih banyak hal yang belum kumengerti, yang kutakutkan adalah aku belum siap untuk menjadi dewasa seperti kedua orang tuaku. Aku belum mengerti bagaimana rasanya menanggung begitu banyak tanggung jawab akan kehidupan yang harus kujalani. Rifqi sebentar lagi akan lulus SD, dan akulah yang akan menanggung sisa pendidikannya nanti. Sejujurnya aku masih takut bagaimana kehidupan nanti akan berjalan.

Apakah aku akan mengecewakan kedua orang tuaku?

Kenapa bahkan setelah lulus aku malah ketakutan, bahwa semua pencapaian yang kupunya seakan menjadi tidak berarti apa-apa.

Mungkin aku harus sedikit bersabar atas ketakutan-ketakutan yang selalu terbawa di dalam setiap bangun tidurku di pagi hari. Mungkin aku harus terus berinstrospeksi sejauh mana kualitas ibadah dan ketergantunganku pada-Nya selama ini. Mungkin karena imanku semakin rapuh dan tipis.

Aku masih belum mengerti, bagaimana jika aku nanti menjadi dewasa? Disaat aku masih sangat ketakutan dengan perasaan sepi dan sendirian. Apakah aku bisa belajar dari sekarang?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s