Membersihkan Kenangan

Standard

Hujan turun lagi.

Awalnya hanya rintik, kemudian menderas membasahi jalan kecil di kaki gunung slamet. Seketika jalanan sepi karena pengendara motor memutuskan untuk berteduh beberapa waktu.

Tanah basah. Dedaunan juga.

Menyibakkan aroma yang selalu kusuka saat hujan turun. Untunglah jemuranku siang ini bisa kering, meski baru saja kujemur beberapa jam lepas adzan dhuhur tadi.

Selalu ada yang kembali, saat hujan turun. Langit gelap, selalu membangkitkan kenangan-kenangan yang selalu membuatku kembali pada waktu-waktu itu. Sudah sering aku menulis cerita tentang memori, catatan, kisah, kenangan. Karena hal itulah, yang selalu kutakutkan akan hilang dalam kehidupanku.

Aku selalu takut akan memori, takut akan kehilangan. Yang paling kutakutkan adalah; dilupakan. Meski pada akhirnya akulah yang akan lupa terlebih dahulu.

Langit penuh dengan emosi, kilat sejak tadi menyambar-nyambar, meski petir masih tak bersuara. Dingin menyergap dari jendela yang kubiarkan terbuka. Menyiramkan bau-bau tanah basah yang selalu kusuka.

Sudah beberapa jam, setelah ujian pendadaran berakhir. Tidak bisa kulukiskan bagaimana rasanya. Saat terbangun pagi tadi, aku ketakutan akan jadi apa nasibku hari itu. Meski yang paling kutakutkan adalah Pak Hamdan yang menanyakan aku siapakah dosen FPIK diluar prodi Ilmu Kelautan. Mengingat aku pernah disetrap beberapa bulan lalu karena salah memberikan surat pada dosen yang berbeda.

Pak Hamdan menjadi pengujiku pagi tadi. Dan pertanyaan beliau persis apa yang kubayangkan. Syukurlah aku berhasil menjawabnya. Semua dosen terlihat senang, meski begitu banyak evaluasi yang harus kuterima dari tahun-tahun lalu di perkuliahan.

Aku harus bertambah dewasa.

Aku harus menjadi lebih baik.

img_20161018_111641

Banyak hal, yang ternyata tidak kusadari membuat banyak orang kecewa. Banyak orang yang mengira aku sombong dan tidak pedul akan lingkungan sekitarku. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, karena sejatinya tiada yang salah. Akulah yang harus bisa merubah diriku sendiri. Terlepas dari segala kekurangan itu, aku bersyukur Allah karuniakan aku sahabat-sahabat yang begitu mengerti bahwa aku hanyalah manusia yang penuh dengan alpa dan dosa.

Itu takdir.

Semua takdir.

Ah, sudah berada di akhir.

Padahal dulu aku menyesali setengah mati masuk ke universitas ini. Tapi bertemu dengan mereka, adalah karunia utama yang harus kusyukuri setiap hari.

img_20161018_110134

Terima kasih, teman.

Cerita, berbahagia di akhir pula. Aku tidak perlu harus terus-menerus menyesali apa yang sudah terjadi. Pun, semuanya sudah berakhir dan hanya menjadi sebuah pelajaran yang kebaikannya selalu ada dan bisa kupetik.

DCIM100MEDIA

Perpisahan. Bukan yang terakhir, kan?

Ada serpihan-serpihan cerita yang sekarang, hanya menjadi memori indah namun kelam, karena sudah banyak orang yang kukenal akhirnya menghilang bersama dengan kenangan-kenangan yang pernah mereka buat.

Aku sudah pindah lebih dari 3 kali di kosan yang berbeda. Tapi styrofoam hitam yang selalu kutempel pertama kali saat pindah, adalah styrofoam pertama yang kubeli di kota perantauan ini. Penuh berisi dengan impian-impian yang selalu ingin kubangun saat menjalani kuliah. Tak semuanya tercapai, bahkan terkesan tidak begitu realistis. Aku ingat saat pertama kali Ayah, Umi dan Kakak mengantarku kesini, dan bagaimana sulitnya kesepian meski aku sering merasakan hal itu juga.

img_20161019_172225_hht

Tinggal jauh dari orang tua.

Aku tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya.

Saat aku menilik satu persatu memori yang tinggal, aku menyadari hal itu adalah yang paling membentuk siapa diriku sekarang.

Sudah berakhir.

Atau, baru saja dimulai?

Aku harus segera merapikan kamar lama ini. Merapikan segala sesuatunya, termasuk kenangan yang berada disini.

img_20161019_172305_hht

Beberapa mungkin akan hilang. Tapi tahun-tahun terbaik akan selalu menjadi milik mereka yang selalu ada disaat aku sendiri dan memerlukan kehangatan.

Aku sendiri yang mengatakannya, bukan?

Mengapa pula aku harus bersedih atas segala kenangan yang kubuat sendiri? Setidaknya aku akan tahu dimana semua itu tersimpan, dan aku bisa melihat kebahagiaan di dalamnya.

Selamat jalan, untukku yang sebentar lagi akan menyambut petualangan berbeda. Aku tak pernah tahu bentuk jalan seperti apa yang akan kutempuh nanti. Tapi, selalu ada kejutan dari-Nya yang selalu kusuka, bahwa ketika aku terpuruk sekalipun, Dia tidak akan pernah membiarkan aku sendiri.

Aku harus berkemas.

Merapikan semua kenangan yang tersisa.

 

Advertisements

3 thoughts on “Membersihkan Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s