Tempurung

Standard

Ada hal yang mengganggu pikiranku sejak kemarin. Hal yang sebelumnya memang selalu mengganggu ketenangan ku sejak beberapa bulan lalu.

Aku menyadari sebuah kesalahan yang seharusnya tidak kulakukan. Membuat hidupku selalu dihantui oleh rasa bersalah yang begitu dalam. Dan buruknya, kesalahan-kesalahan itu membuatku berbohong, pada banyak orang. Menciptakan bangkai yang pada beberapa jam lalu, membusuk sangat parah hingga akhirnya tercium juga.

Menyesal,

Itu yang kurasakan.

Menyesal atas setiap langkah yang aku menyadari itu salah, bahkan fatal. Sangat fatal. Segalanya bisa saja berakhir lebih buruk dari yang kubayangkan.

Sebelumnya, aku sudah menyadari konsekuensi yang mungkin akan aku terima. Hidup di Indonesia memang begitu, begitu banyak social judgement yang tak jarang, membuat orang tega mengakhiri hidupnya sendiri. Kejam. Begitulah, hidup dalam lingkaran manusia yang penuh dengan penilaian buruk. Yang selalu membuat kesalahan bagai sebuah aktor utama dalam panggung opera.

Aku benci ini. Aku membenci mereka dengan kekejaman pikirannya. Dan aku membenci diriku sendiri yang terlambat menyadarinya.

Allah tempatkan aku, pada posisi sebelumnya.

Yang terus-menerus membuatku hidup dalam tempurung penuh rasa takut. Aku selalu kebingungan akan banyak hal. Dan banyak manusia yang kuharap mampu memberikanku saran untuk jalan yang seharusnya kuambil.

Tapi sifat acuh itu. Aku benci. Kalau bisa kukatakan, aku mengutuknya.

Pada akhirnya, akulah yang menjadi korban dari perasaan dan kesalahan diriku sendiri. Aku mau menyalahkan siapa? Takdirkah?

Kemudian, aku menangis dalam diamku. Segera kulepas semua atribut pagi itu. Melarikan diri untuk langsung bersujud diatas sajadah merah panjang.

Tidak ada yang bisa kumintai tolong. Kecuali Dia. Dalam detik-detik rokaat yang pendek. Aku meminta secercah ketenangan, dalam hati yang begitu hancur, mengetahui sebuah kenyataan pahit, yang akan berimplikasi panjang, dan meledak, jika sumbunya tak kupotong dari sekarang.

Perasaan pesimis sempat menghantui. Mungkinkah itu bisa terpotong?

Lalu satu ucapan membuat segalanya menjadi terlihat mungkin. Dengan kekuatan dari sang pemilik semesta alam. Membuatku yakin, bahwa semuanya akan berakhir, dan aku bisa kembali mendapatkan ketenangan dalam mencapai mimpi-mimpiku lagi.

Berangsur, hatiku mulai tenang.

Gejolak yang semula hampir membunuhku dan rasa percaya diri yang sebelumnya selalu kuelu-eluka dihadapan semua orang.

Aku ini hanya manusia dalam tempurung!

Memangnya salah, ketika aku mencoba memutuskan sendiri? Salah?

Lalu kenapa, mereka tak sedikitpun memberikanku petunjuk atas segala putusan-putusan yang harus kuambil!

Sudahlah,

Mungkin aku harus lebih banyak belajar lagi, atau, skenario terbaiknya adalah, Allah mencoba membuatku lebih berhati-hati dan bersabar atas apa yang menimpaku tempo hari dan beberapa bulan lalu. Domino-domino yang berjatuhan, meski pada akhirnya runtuh hingga keping terbesar, aku selalu punya kesempatan untuk menyusunnya dari awal.

Ini adalah bagian diriku yang harus menjadi dewasa: Keegoisan dan Keputusasaan. Bagaimana mungkin aku bisa mencapai mimpi yang lebih besar, tanpa harus terjerembab dalam kebodohan dan kelalaian yang sudah kuperbuat. Aku harap, mereka mengerti. Aku hanyalah manusia 22 Tahun yang mencoba untuk belajar bertambah dewasa dan bijaksana.

Dan aku berharap, aku tak ingin lagi hidup dalam tempurung,

yang terus menerus membuatku kehilangan cahaya di siang hari.

Bersyukurlah, Rafid.

Allah membuatmu melihat segalanya lebih baik, sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s