Tenggelam

Standard

Lingkaran yang rapat.

Aroma kasturi yang tertiup angin.

Alunan melodi surga yang mengalun.

Dahi yang basah.

Aku iri dengan mereka, mengapa mereka begitu khusyuk, terduduk diam mendengar kalam ilahi yang begitu syahdu?

Aku melepas sepatuku.

Melihat awan putih, yang sebentar lagi kelabu.

Angin bertiup.

Allahu akbar.

Angin bertiup.

Aku melihat barisan pohon yang daunnya menari, bersamaan dengan desis yang mengambang di udara.

Allahu akbar.

Aku masih terduduk diam. Membiarkan setiap pikiran melayang dan memenuhi batinku. Segalanya terasa begitu rumit.

Allahu akbar.

Angin bertiup. Melantunkan melodi desis al-fatihah, yang hanya terdengar oleh sang pemilik Kalam. Memilin benang-benang sajadah merah panjang, yang basah tersiram ketaatan.

Angin bertiup. Memantul, dari tiang-tiang abu-abu, batu marmer yang dingin, disusul ciutan burung pipit di langit-langit.

Samiallahuliman hamidah.

Aku masih terduduk. Pikiran semakin berkerumun didalam hati, menyesakkan. Bayangan-bayangan ketakutan menghantuiku. Besok, lusa, minggu yang akan datang, dan seterusnya. Pun, segala ketakutan yang membuat derap langkah kian melambat. Membuat air muka muram.

Allahu akbar.

Apa yang kulakukan?

Aku menoleh kebelakang. Tapi raga enggan juga bergerak.

Aku iri.

Iri dengan mereka.

Mengapa mereka bisa menggapai khusyuk di setiap lima waktu? Mengapa mereka bisa tenggelam dalam tiap bait-bait kalimat yang penuh dengan kebenaran itu? Mengapa mereka bisa bergetar, dalam senandung surga?

Nikmatkah?

Mengapa sulit untukku bisa tenggelam dalam setiap janji-janji pasti?

Sudah terlalu tebalkah, keburukanku di dunia? Sudah terlalu banyakkah dosaku, sebanyak butir pasir di dalam lautan?

Allahu akbar.

Letakkan dunia dalam genggaman tanganmu. Jangan di dalam hatimu.

Mataku terpejam. Merasakan semilir angin. Matahari siang itu, kelabu. Dedaunan muram. Hening menyergap.

Kembalilah pada-Nya, tundukkan kepalamu, jangan angkat ia hingga kau dapatkan ketenangan.

Aku iri.

Aku ingin merasakannya juga.

Tenggelam dalam subhanallah rabi’al a’la wa bihamdihi.

Mengalirkan kasih sayang dalam setiap sujud-sujud panjang. Sama seperti dahulu.

Angin berhembus lagi.

Aku beranjak, mengumpulkan segenap puing-puing ketaatan yang runtuh. Mencoba mendapatkan kembali cinta itu.

Cinta yang paling hakiki.

Mencoba kembali merindukan.

Pertemuan dengan sang pemilik.

Alam semesta.

Assalamualaikum warahmatulah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s