Merindukan itu Melelahkan

Standard

Bukan rahasia lagi.

Jatuh cinta itu melelahkan. Hanya bagiku mungkin. Di usia yang hampir menginjak 22 Tahun, mungkin seharusnya aku bisa seperti orang lain, mencintai siapapun tanpa harus takut sakit hati, terlebih mencinta bertepuk sebelah tangan.

Seringkali terjadi, dan bahkan dimulai saat aku belum mengenal apa itu cinta.

Tragis sekali, tapi selama ini, aku bisa bertahan dengan itu. Mungkin karena sudah menjadi naluriku untuk mudah melupakan sesuatu, bahkan seseorang. Sudah cukup banyak aku menderita sakit hati, sehingga membuatku mudah untuk melakukan apa itu yang namanya “Let Go”

Biarkan saja, berakhir seperti itu. Toh, aku selalu tahu kemana aku akan kembali.

Dalam tahun-tahun terakhir, aku berjuang mengembara bersama perasaanku sendiri. Mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan, “Siapakah dirimu?”

Aku menemukan siapa itu kamu, pada tahun-tahun perkuliahan. Membuatku merasa yakin bahwa kami, saat itu bisa hijrah bersama untuk meraih ijab qobul suatu saat nanti. Tapi semuanya memang tidak mudah. Mencintai seseorang, tanpa berani untuk memupuknya, tak bertegur sapa, bahkan komunikasi melalui media sosial seperti yang orang lain lakukan, menjadi prinsip bahwa aku masih belum berani untuk membiarkan perasaan itu terlalu dalam.

Sehingga mencinta yang terberat kala itu, adalah, untuk merindukan, bahkan saat jarak hanya sepentil. Di sebuah kampus kecil di sebuah kota kecil.

Cobaan begitu banyak, untukku. Aku harus melawan begitu banyak perasaan dan pembicaraan orang banyak. Bahkan aku mengingkari di dalam diriku sendiri bahwa aku harus mengubur perasaan itu dalam-dalam. Disisi lain, aku menyakiti dia, dan menyakiti diriku sendiri.

Aku selalu terduduk diam sendiri, merasakan semilir angin dari langit-langit tempat favoritku mengadu. Sekedar diam saja, dan aku merasakan ketenangan yang luar biasa. Seakan Dia berbisik, “Akan ada waktunya, kamu menemukan dia.”

dia yang terbaik, menurut-Nya. Kemudian aku mulai bersabar lagi. Mengelana, di dalam perasaanku sendiri. Bahkan disetiap perjalanan-perjalanan jauh yang kulakukan. Aku berharap bisa menemukan dia, seperti di film-film. Tapi ternyata tidak.

Mungkin aku yang terlalu pemilih. Sehingga tak juga kunjung kutemukan dia.

Tak kusangka, jatuh cinta itu melelahkan.

Kemudian saat 4 tahun berlalu, aku kembali pada nama itu. Nama yang selalu kuinginkan. Aku selalu ingin kembali kepada nama yang membuatku ingin meneruskan cerita yang bahkan belum pernah dimulai. Terlalu banyak janji dalam diriku yang belum bisa kutepati.

Ternyata pertanyaan, “Mana gandengannya?” Saat lebaran, bukanlah sebuah meme lucu semata. Itu bukan lelucon, itu benar terjadi.

Saat di mobil menuju rumah almarhum Jiddi kemarin, kakak sempat bercerita bahwa Om Usman bermaksud mengenalkanku dengan salah satu keponakannya dari Sulawesi, yang notabene seumuran denganku, beberapa bulan lalu saat pernikahan kak iwan. Tapi sayangnya aku masih berada di Lamakera, sehingga munajat itu tak sempat terlaksana. Tapi pada akhirnya, malah sepupu ku sendiri yang meminta untuk meminang calon yang akan dikenalkan padaku itu.

Aku kembali pada ideologi bahwa, “Jodoh tidak akan direbut orang”

Aku menghela napas menuliskan ini. Memang melelahkan.

Suzanne, sahabatku dari Mesir dulu pernah berkata, “Senyaman apapun kamu saat sendiri, kamu akan tetap merindukan seseorang, bahkan orang yang belum pernah kamu temui sekalipun. Karena kita manusia, sejatinya dilahirkan tidak lengkap, sebagai laki-laki, kamu akan merindukan tulang rusukmu yang hilang. Itu kisah nabi Adam, ya kan?”

Benar, itu semua benar.

Terkadang perasaan merindukan seseorang itu, begitu menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi, kamu tidak tahu merindukan siapa. Merindukan seseorang yang belum pernah ditemui. Kisah cinta macam apa ini sebenarnya?

Memegang prinsip begitu sulit, bahkan ketika diri merasa begitu haus akan “cinta”, berkali-kali aku bercerita pada ustadz, sahabat, orang tua. Banyak dari mereka mengatakan, “Cintai Dia dulu. Perbaiki ibadah, perbanyak sunnah.” Tapi banyak dari mereka juga yang mengatakan seolah aku harus meruntuhkan prinsipku sendiri.

Seringkali perasaan di dalam hati bergejolak.

Aku ingin menekan nama itu lagi di ponsel, menanya kabar, sudah 4 tahun. Masih ingatkah? Atau kau bahkan sudah membenciku sejak lama. Tapi aku bersyukur, kita memiiki “jalan” yang sama. Kukira kamu akan mengkhianatinya 🙂

Saat ini, hanya Dia yang tahu perasaan apa yang kusimpan. Dan kuharap, Dia tak jatuhkan aku pada orang yang salah.

Merindu itu melelahkan. Tapi aku sadar, yang lebih melelahkan adalah terus membuat kesalahan dalam kemaksiatan, yang terus menjauhkan aku padamu.

Tunggu aku, ya. Aku akan segera menjemputmu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s