Di bawah bintang-bintang

Standard

Sudah hampir berakhir,

Bulan yang mulia ini. Janjiku dahulu, aku akan selalu mempergunakan waktu untuk bisa bermunajat sebanyak-banyaknya. Masih ingat saat SMA dulu, saat berharap untuk bisa mendapatkan tempat terbaik untuk kuliah, mulai dari ke Turki, Russia, dengan pengalaman dan kemampuan yang masih pas-pasan. Yang akhirnya, semua doa itu mengantarkanku pada universitas tempatku belajar sekarang.

Tahun yang berbeda.

Tapi jantung yang masih sama. Sedikit merindukan malam itu. Sepuluh malam akhir, yang membuatku bersemangat untuk melirih dibawah bintang-bintang, bercerita, bahwa aku ingin sekali bersekolah di Turki, hanya karena melihat siaran Ustadz Solmed yang  menaiki kereta Gantung di Istanbul. Rindu. Rindu saat merasa didengar.

Meski hanya bersama dengan kipas angin malam dan lampu yang remang di masjid Al-Fattah. Membuatku merasa yakin bahwa Dirimu ada bersamaku saat itu.

Aku masih berjanji tahun lalu, untuk bisa fokus mengejar Tahun ini dengan amalan-amalanku yang masih saja bolong-bolong. Mungkin karena setahun ini, imanku tipis sehingga seringkali terjerembab dalam lubang maksiat.

Ya Allah,

Aku Malu.

Pantaskah aku meminta pada-Mu lagi seperti saat dahulu?

Malam ini pun,

Tepat 4 tahun setelah malam itu. Padahal, aku ingin sekali kembali bermalam di masjid Fatimatuzzahra seperti tahun-tahun lalu saat menghabiskan Ramadhan di Purwokerto. Berjam-jam menikmati lembar mushaf tanpa takut akan tertidur, saat hatiku merasa damai. Sangat damai. Merasa seperti dilingkupi cahaya Ramadhan yang begitu menentramkan. Lalu kenapa tahun ini berbeda?

Ya Allah,

Aku Malu.

Aku tidak bisa menepati janjiku lagi. Bahkan kualitas ibadahku jauh sekali dari baik. Sholat yang tak khusyuk, dan genggamanku yang semakin jauh dari Al Qur’an.

Ya Allah,

Mengapa aku seperti ini? Tak pantaskah lagi aku duduk bersama-Mu di bawah bintang-bintang? Bahkan, semua keberhasilan yang Kau berikan kepadaku hingga saat ini, masih membuatku kehausan dan semakin bertanya-tanya.

Aku takut,

Takut tidak mampu memegang amanahMu untuk tetap berdiri diatas sajadah panjang itu. Aku merindukan hatiku yang basah dengan bacaan al-Qur’an seperti dahulu. Bisakah Kau kembalikan hatiku yang lama?

Terlalu sombongkah aku?

Terlalu kotor kah hatiku?

Terlalu jauh aku dari-Mu?

Terlalu besarkah hijab yang Kau bentang itu di antara hatiku?

Ya Allah,

Aku malu, jika masih saja sudi meninggalkan setiap janji-janji-Mu, aku lelah dengan dunia yang terkadang menelantarkanku, dan seringkali Kau-lah yang menjadi alasan untukku “Pulang”.

Disaat sedih yang tak bisa dimengerti, hingga kebahagiaan yang selalu saja masih kuumbar. Masih sudikah Engkau memberikan aku malam dibawah bintang-bintang seperti 4 tahun lalu?

Aku yakin Kau masih menyimpan doa itu. Doa yang kupanjatkan dalam hening. Doa yang membuatku bersemangat mengarungi dunia, demi membuatku lebih dekat kepada-Mu. Jika memang itu baik bagiku, dekatkanlah.

Jika tidak,

Dekatkanlah aku pada-Mu.

Aku ingin bahagia,

Bahagia bersama dengan hati yang terselimuti oleh kasih sayang-Mu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s