Hatiku di Lamakera

Standard

Sudah memasuki minggu ke-3, seperti biasa, terbangun dengan pemandangan matahari terbit dari jendela kamar.

Shubuh tak pernah terlambat pagi ini, selalu berkumandang tepat pada pukul 04:30 pagi. Matahari sekarang sudah tinggi saat aku menuliskan cerita ini. Cerita kekagumanku akan desa kecil di bagian timur Pulau Solor, Nusa Tenggara Timur. Desa yang penuh dengan kesederhanaan, penuh dengan kecantikan hati para penghuninya.

IMAG0138

Aku tinggal di Rumah Keluarga Bapak Musa dan Ibu Jamilah. Keluarga Nelayan yang begitu rendah hati menerima kami, anak-anak magang yang tidak pernah bisa jauh dari handphone nya. Sudah beberapa minggu Ibu Jamilah memasak untuk kami, tidak ada yang bisa mengalahkan masakkan Ibu Jamilah. Sambal goreng dan ikan gorengnya selalu menjadi penghibur lelah kami usai seharian melaut.

Kami juga tinggal bersama dengan dua anak mereka, Hamdan dan Ari. Dua anak penurut luar biasa, yang selalu menjadi sahabat kami untuk mengantar pergi menelusuri sisi-sisi desa, atau membeli pulsa di pulau sebelah, Pulau Adonara.

IMAG0183

Ada hal yang pasti akan kurindukan di desa kecil ini. Desa yang aman, karena biarpun semalaman meletakkan motor diluar rumah, pasti tidak akan dicuri. Biar jendela hanya ditutup dengan triplek dan gorden, tapi tetap aman karena tidak akan ada yang masuk seenaknya dan mencuri. Tidak akan masuk surga tetangga yang tidak aman dari gangguan tetangganya, bukan? Itulah yang menjadi identitas masyarakat Lamakera.

Mungkin karena 100 persen masyarakat di Lamakera adalah muslim dan hampir dari mereka adalah anggota keluarga satu sama lain. Banyak yang menikahkan anaknya dengan anak tetangganya, sehingga keluarga di lingkungan ini sangat dekat.

IMAG0137

Awalnya kukira aku akan menghabiskan bulan-bulan magangku di Larantuka, tapi aku bersyukur, Allah tempatkan aku di Lamakera. Beberapa minggu disini, aku mencintai desa ini lebih dari apapun.

Tidak ada yang lebih indah selain melihat anak-anak menggotong bubu untuk menangkap kepiting di pagi hari bersama ayahnya.

Atau menyaksikan ibu-ibu sibuk mengatur ikan hasil tangkapan para suaminya.

IMAG0259.jpg

Melihat masyarakat yang berkata, “Assalamualaikum” setiap kali bertegur sapa, dan bertemu denganku saat sedang duduk menikmati pagi dengan segelas kopi. Dan, melihat orang-orang sibuk membantu pak sulaiman mengangkat mesin kapal usai diperbaiki pagi tadi.

IMAG0258

Lingkaran kekeluargaan muslim. Yang selalu aku rindukan di desaku dahulu.

IMAG0256

Anak-anak disini pun, selalu membuatku bahagia saat melihat mereka. Setiap sore, usai melaut, aku selalu melihat mereka bermain bola di pinggir pantai hingga maghrib tiba. Saat adzan berkumandang, mereka langsung membubarkan diri dan melaksanakan sholat di masjid.

Masjid di Lamakera sangat bersih dan megah. Tidak ada dinding, membuat kenampakannya mirip dengan Masjid Fatimatuzzahra di Purwokerto, membuatku sedikit merindukan berjammaah di masjid itu. Usai maghrib, selalu ada kelompok ibu-ibu dan bapak-bapak yang membentuk lingkaran untuk mengaji bersama hingga waktu isya tiba. Menambah langit lamakera yang tak pernah sepi dengan cahaya bintang-bintang.

12974274_10201388441349744_6271983286470480442_n

Meskipun disini sering sekali terjadi mati lampu, orang-orang biasanya keluar dan berbaur satu sama lain. Anak-anak selalu menghabiskan waktu diluar rumah, sekedar bercanda atau menongkrong di bale-bale milik Pak Syukur. Saat usai melaksanakan isya, lampu biasanya masih padam, lalu kulewati jalanan desa watobuku yang ramai oleh anak-anak. Tak jarang, banyak anak-anak SMP yang menyapaku sambil berkata, “Mas namanya siapa? Kuliah dimana?” sambil tertawa-tiwi. Meski masih agak canggung, tapi pasti aku akan terbiasa disini.

Yang pasti, ada sisi desa lamakera yang selalu membuatku tersenyum di pagi hari. Mendengarkan debur ombak yang menggulung, langit orange keunguan yang menghilang seiring terbitnya matahari pagi. Suara anak-anak yang bermain riang diatas kapal dan berenang disekitar pantai. Mencari harta karun cangkang-cangkang kelomang laut yang berlimpah tertiup gelombang surut di pesisir pantai.

IMG_20160407_063233.jpg

Desa yang indah.

Hatiku pada desa ini. Hatiku di Lamakera.

IMAG0230.jpg

Advertisements

2 thoughts on “Hatiku di Lamakera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s