Jangan Membenciku, ya

Standard

Langit sore yang indah. Bahkan di hari melelahkan, bertempur dengan derasnya arus manusia di kereta sore ini, Allah masih sudi memberikanku kesempatan untuk sedikit bernapas, menyaksikan langit oranye yang memudar dari peron lantai 2. Meski terganggu dengan tiang listrik yang kabelnya menjuntai hingga kebawah. Di dalam kerumunan manusia yang berebut oksigen bersih di Jakarta sore ini, masih saja membuat hati terasa sangat sepi. Merasa merindukan yang dahulu sering kurindukan.

Mimpi malam lalu, membuatku yakin bahwa aku memang merindukan cerita lalu.

Hai.

Sudah hampir setahun, kita tak bertegur sapa. Masih ingatkah bagaimana hangatnya perasaan yang saat itu singgah? Membuat gelap menjadi ungu yang cerah.

Membuat kaki berat ringan melangkah menuju suara adzan. Bersemangat, memperbaiki diri, demi meyakini, bahwa kita sudah menemukan satu sama lain.

Salah.

Mungkin aku salah, atau memang, perasaan itu singgah terlalu cepat, hingga lebih cepat pula ia hengkang dari ruang rindu yang selama ini selalu kosong, ditinggal oleh yang memilikinya.

Hai.

Sudah hampir setahun, kita tak bertegur sapa. Bukan maksud hati ingin membuka lembar yang kini, mungkin sudah tertutup cukup lama. Dari sakit hati yang timbul, atau desas-desus dan kalimat yang tak terbaca. Membuat kita menjauh, sangat jauh. Hingga akhirnya, memang benang merah yang dahulu kukira berada pada jari kelingkingmu, seakan menghilang, menuju orang lain.

Andai,

Kamu mengerti bagaimana sulitnya memendam perasaan ini dalam-dalam. Karena aku, sesungguhnya takut kehilangan lebih lama. Saat surat lalu yang sudah usang itu, mengantarkanku pada rindu yang selalu kusebut namanya dalam setiap sujud-sujud panjang.

Aku masih ingat, ketika pertama kali melihatmu dengan hijab merah besarmu. Wajahmu bersinar akibat wudhu di sepertiga malam.

Lain hal denganku.

Kamu beruntung, Allah jauhkan kita. Karena aku, sesungguhnya belum siap.

Belum siap melawan setan-setan yang berkerumun dalam kesendirianku. Bahwa panggilan agung yang bergema lima kali sehari itu, masih ringan kutinggalkan demi 5 menit yang lain.

Hai.

Kamu beruntung, Allah jauhkan kita. Karena kulihat, kau menemukan pintu yang lain. Yang membawamu, pada cerita baru yang lebih indah, untukmu.

Andai,

Kamu mengerti bagaimana sakitnya dihalangi oleh orang yang paling kau cinta. Bahwa surga ditelapak kaki yang selalu kucinta, memintaku untuk menahan diri lebih lama.

Terlepas dari sedikit rasa berat yang melanda orang tua saat itu, memintaku untuk menjauh darimu.

Menjauh.

Aku mengerti,

Mungkin kau merasakan yang lebih sakit. Andaikata kau bilang aku pengecut pun. Aku memang begitu.

Tak pernah bisa sedikit kutentang keinginan manusia yang selalu memberikanku kasih sayang yang begitu besar. Bahwa disetiap permintaan mereka, adalah sedikit balas budi yang mungkin bisa kucicil sedikit-demi sedikit.

Hai,

Aku mengerti,

Mungkin kau merasakan yang lebih sakit.

Tapi,

Kumohon, jangan membenci ku. Kalaupun kau demikian, tak ada yang mampu membuatku membenci diriku sendiri, lebih dari siapapun.

Aku masih belum pantas,

Menjadi yang kamu mau, seperti saat pertamaku bahagia melihatmu kala itu. Saat perasaan yang kukira benar, ternyata datang terlalu cepat. Terlalu cepat aku membuat janji yang tak pernah bisa kutepati. Mungkin saat ini, atau nanti.

Karena aku,

Masih ingin melihat Andalusia di seberang makam Ibrahim. Seperti yang dibilang orangtuaku. Bahwa punggung yang masih kuat ini, masih harus menyicil sedikit kebahagiaan yang mereka inginkan. Karena itu, menjauhkanku padamu.

Aku takut,

Kau akan terlalu lama menunggu, karena itulah, membenciku, mungkin lebih baik. Atau, membuat dirimu membenciku, adalah cara yang terbaik yang bisa kulakukan. Untuk sedikit memberikan spasi bagi cerita yang sudah terlanjur dekat.

Hai.

Kumohon, jangan membenciku.

Yang tak mengerti, bahwa memperbaiki sekeras dirimu mencoba, terus-menerus membuatku semakin mencintai diriku sendiri yang terlalu gigih berambisi menaklukan dunia sebelum ajal tiba.

Aku tak segigih dirimu.

Jemari semakin berat saat membalik lembar mushaf di siang hari. Setiap hari.

Allah memang adil.

Lelaki baik, untuk perempuan yang baik, bukan?

Dan sekarang, aku belum baik. Untukmu yang sudah baik. Jaga selalu hijab itu, ya? Agar Allah dan bidadari-Nya mencintaimu.

Kulihat kau bahagia, dengan pilihan yang baru. Yang dengannya, kudoakan kalian mampu menjadi pasangan bahagia di dunia dan mampu membuat jalan berdua ke surga.

Sungguh berat,

Untukku menuliskan ini.

Dan memberikannya padamu.

Terima kasih, sudah menunggu selama ini. Meski tak selalu bisa diucap, bahwa rindu ini selalu muncul tiba-tiba. Sama seperti malam ini.

Tapi cukuplah, bisikan yang tak terdengar, menjadi hadiah yang paling manis didengar bagi sang Pemilik Hidup.

Kumohon. Jangan membenciku.

Semoga berbahagia, dengan dia yang menjadi pilihan barumu.

Seperti yang kau bilang, bukan? Semoga Allah tetap izinkan kita berteman, meski Dia tak izinkan kita tinggal dalam satu atap.

Jangan benci aku, ya?

Kututup lembar ini, kuharap kau lupa atas sakit yang tercipta cukup lama. Tapi biarlah, Dia yang menjadi obat, bahwa tiada yang lebih indah, dari janji-Nya.

Tertanda,

Yang Dahulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s