Disini lebih lama lagi

Standard

Anak rambut tergerai. Tertiup angin. Bayangan dedaunan tampak di wajah putih itu. Angin berhembus dingin, ditengah cuaca yang cukup terik. Rumput hijau yang selalu dipotong itu merupakan alas yang terbaik untuk bisa duduk dibawah pohon oak tinggi di tengah hari seperti ini. Gadis kecil itu bersandar di batang pohon oak yang dingin. Memejamkan mata, membiarkan angin memeluknya, menerbangkan anak-anak rambutnya. Dia meletakkan kedua tangannya di rumput. Sejuk. Bagai bisa merasakan oksigen dipompa melalui tangannya.

“Cling!”

Suara notifikasi berdering keras.

Mimpi.

Adelia menyeka mukanya, dia baru sadar sedang tertidur di perpustakaan setelah seharian mencari bahan referensi untuk penelitian akhirnya. Angin yang menelusup dari ventilasi perpustakaan di lantai 5 membuatnya mengingat angin di bawah pohon oak beberapa tahun lalu.

Kamu dimana? Sudah ditunggu oleh Fikri di Sekretariat BEM.

Anisa. Adel berbisik sendiri. Saat dia memperhatikan jam, pukul 3 sore. Terlambat 30 menit sejak yang dijanjikan. Dia baru ingat hari ini akan bertemu dengan Fikri, presiden BEM Universitas, untuk berdiskusi mengenai beberapa hal. Nampaknya semalaman membaca novel bukanlah ide yang baik. Salah sendiri juga menyeruput kopi hitam jam 10 malam. Itu malah membuatnya terjaga sampai jam 4 shubuh tadi. Gerutunya dalam hati.

***

“Sudah dibilang kan, aku maunya warisan dari bapak langsung dijual saja dan dibagi rata! Kalau sistemnya seperti itu, aku nya rugi dong!”

“Tidak bisa begitu, aku kan juga punya kuasa untuk mengambil keputusan! Kalian semua sama saja! Pasti bersekongkol untuk menipu adiknya sendiri yang paling bontot!”

“Aku gak mau tau! Pokoknya dijual, lalu dibagi rata!”

Ponsel ditutup. “Gimana mas?” Tanya wanita itu.

“Sudah kuduga mereka pasti sekongkol untuk membodohi aku! Sudah aku bilang, kalau sistem pembagiannya berdasarkan luasan tanah, aku yang rugi!”

“Kan sudah kubilang mas, mereka memang berusaha untuk membuat mas dapat bagian yang sedikit.” Dia membetulkan rambutnya yang baru saja ditata di salon. “Bawa saja kasusnya ke pengadilan mas, mas kan orang hukum, pasti bisa memenangkan kasus itu dengan mudah.”

Pria itu tercenung. Kepalanya penuh berisi dengan urusan warisan. Warisan mendiang ayahnya yang kini menjadi permasalahan di dalam keluarga besar mereka. Bersama dengan ke-6 kakaknya, juga dengan Bi Latifah. Sudah hampir 2 tahun, permasalahan itu belum juga selesai.

“Kita jadi pergi makan malam ini, kan?” Bujuk wanita itu, mendekati suaminya dan mengelus pundaknya. Kukunya yang di cat ungu itu tampak sangat berkilau di bawah cahaya lampu.

Tidak menjawab, Tyo masih saja tak bergeming. Sesekali dia mengecek ponselnya. Mencoba mengetahui keadaan anak semata wayangnya itu.

“Menghubungi anak itu lagi?” Tanya wanita itu lagi. Seperti tak habis pertanyaan yang keluar dari mulutnya.

“Kan sudah kubilang, biarkan saja. Lagi pula, dia sudah besar, kan? Sudah sepantasnya dia hidup sendiri.” Wanita itu berjalan sedikit, mengambil dompetnya dan menjepitnya di antara lengan dan pinggang.

***

Warna biru yang semula terang, meluruh menjadi warna jingga bercampur merah. Dedaunan hijau tampak bercampur dengan warna langit. Angin berhembus. Menerbangkan anak-anak rambutnya. Sudah hampir satu jam dia duduk disitu. Biarlah. Pikirnya. Untuk apa pula pulang kerumah. Akhir-akhir ini, meja belajarnya seperti musuh, ditambah dengan semua pikiran yang muncul tatkala sampai di depan pintu. Membuatnya ingin berlari, ke tempat dimana dia sekarang.

Dia meletakkan kedua telapak tangannya ke rumput kering yang warna nya serupa warna awan. Merasakan hangat siang tadi masih tersimpan di setiap lembar-lembarnya. Tas kecil berwarna ungu dengan 3 buku tebal itu cukup membuat pundaknya sakit.

Beruntung, fakultasnya tepat berada di depan ladang sawah seperti ini. Kalau sedang penat, dia bisa duduk seharian menyaksikan orang-orang menanam padi dan menggerus padi dengan anai-anai. Atau, ditawari makan ubi ungu dengan teh tawar di siang bolong. Tertidur pulas dibawah naungan pohon jati hingga melewatkan dua kelas dan terpaksa titip absen.

Dia menarik napas. Membiarkan udara di sore hari memasuki relung hatinya yang saat ini sedang gelap. Membanting tubuh ke rumput. Berdebam kecil. Merentangkan tangan, tertidur dan menyaksikan langit sore penuh dengan burung walet dan capung-capung sawah berterbangan bagai siluet. Awan tampak tipis, menciptakan warna ungu yang berbaur dengan merah. Menjadi gradasi lukisan yang paling tidak ada tandingannya.

Tidak.

Tidak mau memikirkan apapun. Hanya ingin bermesraan dengan langit sore ini. Pikirnya. Dalam beberapa hari lagi, musim hujan akan tiba. Tidak akan ada lagi senja bermanja dengan rumput kering. Atau langit ungu dan jingga, yang ketika dinikmati, bagai sahabat yang tak pernah ingin pergi. Mungkin akan berada di sini lebih lama lagi. Atau bahkan, aku tidak ingin beranjak hingga esok tiba. Biar saja tertidur di sini sampai masuk angin. Pikirnya.

Angin berhembus, meniupkan kenangan masa lalu. Tertidur dibawah langit sore. Berteduh dibawah rindang pohon oak. Memeluk rerumputan.

Mungkin sedikit lebih lama.

Hujan pun menitik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s