Ayunan di Musim Hujan

Standard

Ruangan yang hening. Gorden tipis berwarna merah muda berkali-kali tertiup oleh angin yang berhembus melalui jendela yang terbuka. Jendela model lama, dengan bingkai kayu cokelat yang tidak di poles cat. Berbentuk persegi panjang dengan jumlah 6 persegi berukuran kecil di dalamnya. Sesekali berderit, karena engselnya sudah terlanjur tua.

Hening. Tidak ada suara siapapun. Sebuah mesin jahit tua yang sudah dimakan usia, berhias sarang laba-laba dan debu. Bingkai foto keluarga, yang tampak bahagia. Sepertinya, sudah hampir 20 tahun lamanya foto itu terpasang. Sepasang suami istri, yang laki-laki berperawakan jawa, dengan gurat wajah tegas dan janggut yang membingkai wajah dari telinga hingga dagu.

Sang istri, berperawakan sunda dengan kulit putih merona, dengan lipstick tipis yang tak begitu tampak. Senyum yang indah. Ditengahnya, ada seorang anak perempuan yang mengenakan kaus polos berwarna merah dengan celana ngatung yang berada di atas mata kaki. Sepatunya baru saja dibeli beberapa hari sebelum foto itu diambil, memang sengaja untuk foto keluarga, terlihat mengkilap, cantik. Dia tidak tersenyum. Tapi jelas, dia tampak bahagia. Keluarga yang bahagia.

Suara derit engsel jendela yang tertiup angin.

Cahaya matahari membuat bayangan di lantai kayu mahoni yang harumnya masih tersimpan sekarang. Menciptakan bayangan seperti barisan gedung-gedung tinggi, yang ternyata hanyalah bayangan pot-pot antik yang memantulkan bayangan benda-benda seisi ruangan.

Pohon oak di luar, berayun-ayun tertiup angin. Melindungi ayunan di bawahnya yang sejak tadi tidak ada yang menaiki.

Jam berdetak-detak, mencoba memecah suasana hening di ruangan itu.

“Setelah itu, masukkan saus nanas yang sudah dibuat ke dalam wajan” Samar-samar terdengar suara yang berasal dari ruangan lain. Asap terlihat mengepul tipis, menciptakan suara “cessss”.

“Jangan lupa bawang Bombay dan wortel yang dipotong kecil-kecil.”

Seorang wanita, kira-kira berusia 20 tahun, tangan kanannya memegang buku resep. Tangan kirinya memegang spatula yang berlumuran minyak. Sesekali dia mengaduk, sambal tak memindahkan pandangannya pada buku resep.

“Sudah jadi?” Suara itu muncul dari balik pintu. Seorang wanita paru baya dengan daster bunga-bunga. Mengenakan kerudung kaus hitam yang menutupi sebagian tubuhnya.

“Belum.” Jawab si wanita muda itu. “Sedikit lagi.” Katanya meyakinkan.

“Apinya jangan terlalu besar, nanti masakanmu gosong, Del.” Ucap wanita itu, meletakkan bawaannya diatas meja kaca. Sekantung plastik berisi mangga muda.

Adelia, menyendok sedikit masakannya dan meletakannya di telapak tangan kanannya. “Kalau segini, menurut bibi bagaimana?” Tanya Adel menoleh ke wanita di belakangnya.

Wanita itu mendekat, menyicipi sedikit saus yang masih tersisa di spatula kayu itu. “Sepertinya sudah pas. Matikan apinya!” Ucap wanita itu.

***

“Sudah kamu pikirkan masak-masak, del?” Tanya wanita tua itu, dia berhenti sejenak dari kunyahannya dan menatap Adel penuh tanda tanya.

Adelia, menatapnya dengan tatapan tanpa jawaban apa-apa. “Entahlah, bi latifah, Adel masih bingung.” Jawabnya. Kembali menyendok sesuap nasi dan mencampurnya dengan ayam goring saus nanas buatannya. “Adel ingin sekali bertemu dengan Ayah, tapi, adel masih belum bisa menerima keputusan ayah.”

Hening. Tak ada jawaban. Dan mereka berdiam cukup lama. Hanya suara angina di luar yang menerbangkan dedaunan, dan derit jendela tua di ruangan yang lain.

***

“Sudah adel bilang kan, adel gak setuju sama keputusan Ayah!” Nadanya sedikit tinggi.

“Kamu sudah hampir 22 tahun del! Kamu sudah harus bisa mengerti perasaan orang tua, kamu bukan anak kecil lagi!” Seorang pria berusia 57 tahun dengan kemeja garis-garis putihnya itu berdiri di belakang Adel. Mencoba menjaga nada suaranya tetap konstan.

Adel menghela napas, “Adel gak akan pernah setuju kalau Ayah menikah dengan wanita itu, siapa saja, asal jangan wanita itu, yah!”

Adel melipat tangannya, kaos kuning polosnya tampak kusut.

“Ada masalah apa memangnya dengan dia? Dia wanita yang baik, del. Ayah sudah mengenalnya cukup lama.” Pria itu bersikukuh, mencoba merangkul anaknya, namun Adel enggan.

Ruangan hening sejenak. Bi Latifah tampak menunggu di luar, mencoba melerai, tapi dia mengerti bahwa itu bukan urusannya. Meskipun Tyo adalah adiknya, tapi itu tetap urusan keluarga mereka. Dia hanyalah kakak yang dipercaya oleh adik iparnya untuk menjaga Adelia. Santi, adik iparnya yang sudah lebih dari 5 tahun meninggal karena kecelakaan.

Tampak Bramantyo, adik Bi Latifah itu keluar dengan muka kecewa. Usahanya lagi-lagi gagal. Membujuk Adelia untuk bisa menikahi wanita idamannya. Dia melihat Bi Latifah yang menatap dengan ragu. Tidak berbicara apapun. Akhirnya dia berlalu, menarik kunci dari atas meja kaca. Berjalan gusar keluar dan menyalakan mobil, kemudian berlalu beberapa menit lalu.

Bi Latifah dengan langkah ragu, mencoba mendekati kamar Adelia. Pintunya setengah terbuka, dia mencoba mengintip ke dalam dan melihat Adel sedang terduduk di atas kasurnya. Tercenung. Anak itu sudah tidak bisa menangis lagi. Sudah terlalu sering dia menangisi hal yang tak perlu di tangisi. Sepertinya, telaga air matanya kini sudah mengering, atau setidaknya, hatinya sudah benar-benar kehilangan kuasa untuk membuat air matanya turun.

“Del?” Bi Latifah berjalan masuk sedikit. Adel tak menggubris. Sesaat Bi Latifah duduk, Adel langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Bi Latifah. Kerudungnya seketika langsung basah. Adel menangis. Akhirnya.

Tidak ada suara, hanya air mata yang mengalir terus menerus. Sesekali isakan. Adel masih tak ingin bicara. Bi Latifa mengusap rambut pendeknya yang hitam. Mengerti, tidak perlu ada pertanyaan saat ini. Biarlah air mata itu terus turun, hingga ia tidak ingin turun lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s