Hening Yang Tak Terbaca

Standard

Sudah lama sekali ingin menulis lagi. Mencoret-coret selembar-dua lembar kertas yang ada, merubahnya dari putih bersih menjadi oret-oret penuh tinta biru dan hitam. Sudah lama ingin merangkai kata-kata yang berantakan di dalam kepala, bercerita kepada diri sendiri yang saat ini sedang berada diantara persimpangan diantara jalan penuh dengan cabang, bingung yang mana yang hendak dipilih. Kabut tebal tampak menyelimuti, membuatnya hanya menampakkan sepotong jalan yang sisanya tertutup kabut. Tak tahu kemana akan berujung. Tak ada petunjuk barang satupun.

Hati telah lama bergejolak, kebanyakan mendidih karena kesabaran yang selalu menemui ujung. Atau karena gelisah yang membuatku berkeringat saat malam. Selalu membuatku bertanya, takut, sedih. Semuanya bercampur seperti larutan kimia yang akan bereaksi dan meledak sewaktu-waktu.

Bahkan, di dalam ruangan penuh dengan mesin bising ini. Semua ketakutan bahkan semakin jelas. Membuatku terkurung dalam ruangan baja yang tetap membuatku sendiri kehilangan arah.

Sudah terlalu banyak, mungkin. Sepentil dosa-dosa yang bagai manik-manik kecil yang menyelimuti hatiku yang semakin kotor. Dengan kalimat penuh dusta yang terucap, atau asyiknya membicarakan mereka saat sedang menyeruput kopi dingin. Membuat setiap inci kebaikan, mengembun dan menetes, kemudian hilang bersamaan dengan kebaikan lainnya. Kadang aku ragu, apakah memang hati ini semakin hari semakin mati.

Saat mendengar suara panggilan agung yang mengingatkanku, bahwa jarak masalah dan jalan keluar, hanyalah sedekat kening dan tanah tempat bersujud. Bahwa lima waktu yang aku kira hanya sebatas penggugur, merupakan sebuah waktu dimana aku bisa berdua menumpahkan setiap beban dalam hati yang bergejolak. Bahwa saat merasa sendiri, merupakan waktu yang sangat tepat untuk bisa mencari ketenangan di setiap sujud-sujud panjang.

Aku lupa.

Lupa bagaimana caranya bisa merasakan itu semua. Lupa. Bagaimana caranya bisa meluruhkan manik-manik dosa yang berkumul dalam hati ini meluruh bersamaan dengan sesal, dan membuatnya menjadi kembali ringan. Ataukah, memang hati sudah terlanjur mati?

Ataukah, bahwa di setiap duduk diantara lutut itu begitu cepat menguap dan tak membekas sama sekali menjadi waktu yang paling kurindu, sama seperti dahulu?

Sudah lama.

Sudah lama aku berpaling dalam setiap kerendahan dunia. Yang pada kenyataannya, semua ini cumalah permainan di balik dalamnya lautan yang begitu luas. Tidak ada apa-apanya.

Begitu banyak kalimat dalam kepala, saat kucoba terjemahkan, malah membuatku bingung sendiri. Apa mau diri ini sebenarnya.

Dan setiap kesedihan datang. Semakin membuat berat saja derap langkah, karena aku sendiri. Tak ada siapapun. Cuma aku sendiri. Tidak bisa bertanya.

Saat aku merasa begitu yakin dicintai. Namun aku sadar bahwa aku bukanlah pilihan siapapun, kecuali diriku sendiri. Dan aku, tak pernah memilih cinta sejati yang selalu merindukanku untuk mengadu dalam setiap hening yang tak bisa terbaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s