Hanya Hati yang Rindu

Standard

Kulit menyentuh permukaan jendela yang buram. Dingin menjalar sedikit demi sedikit, menuju tangan, kemudian ke bahu. Suara debam hujan di luar, menciptakan gemuruh perasaan tenang yang membuatku memejamkan mata. Dingin. Hujan. Sudah sejak beberapa jam lalu. Terduduk di kursi menghadap jendela, menyaksikan butir-butirnya memenuhi kaca, mirip butir embun di pegunungan.

Gemuruh di luar masih jelas. Menciptakan melodi yang tak biasa. Dedaunan menari terkena butir hujan. Tanah kering yang sejak enam bulan lalu pun, merindukan bagaimana rasanya bermandi hujan. Sudah banyak katak di luar, mungkin bahagia menyambut hujan, menciptakan nyanyian selamat datang. Samar-samar, tertimpa suara debam yang semakin deras.

Bingkai persegi panjang kecil, berdebu. Sudah terdiam disana sejak beberapa bulan lalu. Melindungi foto berukuran sedang dengan pemandangan pantai di siang hari. Menjaga senyum yang terpampang di foto itu, menjadi tetap bahagia, sama seperti beberapa bulan lalu. Menjaga kenangan yang hampir hilang itu, tetap sama seperti pertama kali bertemu.

Hampir beberapa menit, aku memandangi bingkai berdebu itu. Suara hujan, membawaku pada cerita-cerita kecil yang sudah lewat. Meski kecil, tetap menjadi penyejuk hati yang membuatku tersenyum. Mengingat ban bocor saat dalam perjalanan menuju pantai, atau insiden uang yang hilang di perjalanan. Mencicipi es teh manis dingin setelah seharian berjemur dibawah terik matahari.

Indah. Pantai yang indah. Memori yang indah.

Hujan masih turun deras. Menderu lagi, bersamaan dengan guntur yang sekali dua kali berbunyi, bagai drum dalam simfoni musik orkestra. Diselingi kilat yang menyala di kejauhan. Dan di balik jendela lantai tiga, aku bisa melihat awan senja yang seharusnya oranye itu menghitam. Terselubung awan badai di kejauhan.

Mungkin.

Hanya rindu.

Rindu cerita yang dulu pernah terangkai dalam bait-bait kasar jalanan aspal yang berlubang. Terhapus oleh hujan di tengah jalan dan menerobos lampu merah tanpa menggunakan mantel. Tersusun rapi dalam lembar-lembar dedaunan pohon cemara yang hijau di tengah hutan. Tersimpan manis bersamaan dengan melodi burung mancar yang bergaung dari dahan-dahan pohon pinus.

Meski kaki berdarah karena tergores ranting pohon tajam. Gatal-gatal akibat nyamuk dan terpeleset karena jalan setapak yang licin.

Mungkin.

Hanya rindu.

Hari-hari kosong yang berubah menjadi sebuah buku penuh bagian-bagian cerita. Yang setiap lembarnya selalu menarik untuk di baca.

Mungkin.

Hanya rindu.

Sebesar rindu tanah kering yang merindu pelukan hujan. Menciptakan aroma petrichor dan menumbuhkan kuncup dedaunan hijau.

Sebesar rindu bunga daisy yang muak terkena debu jalanan. Meringis menantikan titik hujan.

Mungkin.

Hanya rindu.

Hati yang kosong, karena merindukan kawan lama. Atau, justru hati yang merindukan sang pemiliknya.

Rindu..

Hujan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s