Di lorong Rumah Sakit

Standard

Clup. Clup.

Suara tetes air infus menetes. Terdengar jernih di telinga mengalahkan desah napas lelah yang hampir tidak terdengar. Ruangan redup, lampu tak mampu mengalahkan gulita yang kuat. Angin dingin menelusup, menggelitik melalui celah-celah kecil ventilasi. Menjalar menuju tubuhku yang tak terbalut jaket. Aku terduduk, menopang dagu dengan kedua siku. Menunggu dengan tenang disamping sosok yang tak sadarkan diri dihadapanku. Selang tertanam di perutnya. Kabel infus besar menggantung, jarum tertusuk di tangan kanannya yang sudah tak berdaging.

Clup. Clup.

Terdengar lagi. Tetes yang bagai rintih hatiku saat ini. Aku melihat ke kanan dan melihat Mas Putra sedang tertidur duduk dengan leher miring ke kiri. Melihat lingkar hitam yang membuatku yakin, bahwa dia lelah setelah seharian bolak-balik menuju rumah dan kesini, untuk menjemputku pulang dan memandikanku.

Clup. Clup.

Tak terdengar suara siapapun, derap langkah berat para suster di luar, sepertinya sudah menghilang sejak sore tadi.

Clup. Clup.

Pukul 01:00, ya, aku ingat apa yang dikatakan Bu Astri mengenai pelajaran matematika sore lalu. Aku sudah bisa membaca jam, karena aku mendapat nilai 10 di soal latihan yang dia berikan.

Seharusnya aku tidur. Untuk apa anak 9 tahun sepertiku terbangun di tengah malam seperti ini. Aku ingin menemani Mas Putra dan menyelimutinya. Aku tahu dia kedinginan dibalik kaos lengan pendeknya. Dia bahkan memeluk dirinya dan mengusap kedua tangannya itu perlahan, dan bersin beberapa kali.

Aku juga kedinginan. Tapi, aku tidak peduli sekarang. Diselimutipun, aku akan selalu merasa kedinginan. Redup. Lampu ruangan rumah sakit ini berkedip sesekali. Mungkin bangsal tua ini sudah lama tidak diganti lampunya.

Aku melompat kecil, turun dari bangku tinggi yang disiapkan dokter siang tadi, khusus disediakan untukku.

“Tasya ingin menunggu bapak disini, kan? Dokter sediakan kursi untuk Tasya ya..” Ucapnya siang tadi. Kacamata tebal dengan wajah keriput, sepertinya dokter seusia bapak, atau mungkin lebih muda, seusia Om Iwan.

Aku mengenakan sandal oranye bergambar hello kitty yang sekarang sudah agak kumal. Sendal favoritku yang dibelikan bapak sebagai hadiah lebaran tahun ini. Mas Putra bahkan membelikan aku satu set peralatan sekolah hello kitty dari gaji pertamanya.

Derap langkah kakiku yang ringan ini terdengar menggema. Suara kerat kaki kursi bergesek dengan lantai nyaring terdengar. Aku bersyukur Mas Putra tidak terbangun. Aku berdiri. Tercenung. Melihat ke arah bapak yang masih tak sadarkan diri. Aku menoleh ke Arah Mas Putra yang masih tertidur dengan desah napas berat.

Aku berjalan beberapa langkah. Membuka pintu dan pemandangan taman Rumah Sakit tua. Tak ada siapapun. Hanya ada satu-dua orang terlihat menunggu di kursi taman. Sebagian lagi ada seorang suster yang baru saja mengganti infus.

Taman gelap. Hanya ada 4 lampu yang menerangi. Sebuah kolam kecil dengan air kotor yang berisi ikan mas dan lele di tengah tampak muram. Beberapa pohon yang daunnya dipotong membentuk bundar menjadi pagar di sekelilingnya. Rumput hijau yang hampir mengering terinjak dan tertindih oleh kursi-kursi kayu buatan.

Aku berdiri. Melihat sekeliling. Berjalan satu-dua langkah. Berharap ada sesuatu yang membuatku merasa lebih tenang. Aku berjalan menuju rumput taman yang hampir mengering itu. Melihat ada satu kursi kosong yang langsung menghadap ke kolam. Disampingnya ada sebuah pohon kecil yang bergemerisik tertiup angin malam.

Dingin. Tapi aku tidak peduli. Aku duduk. Menengadah menatap bintang malam yang hanya terlihat sedikit. Awan tak tampak, langit berpendar bersama dengan warna bulan, menciptakan lingkaran terang yang tak biasa. Tunggu, sepertinya aku ingat apa nama bulan ini.

Bulan sabit.

Iya, aku ingat. Malam ini bulan sabit.

Angin bertiup lagi. Menjalar, sedikit membuat tubuhku menggigil. Aku memeluk tubuhku sendiri. Mencoba menahan dingin yang hampir membuat gigiku gemeletuk.

Aku menoleh ke kanan. Dan aku melihat Mas Putra yang terbangun. Menatapku dengan tatapan linglung. Dia membetulkan jaket kusamnya yang selalu kuejek. Dia berjalan, lamat-lamat menatapku dengan mata yang tak biasa.

Kemudian duduk disampingku.

“Dingin?” Tanya Mas Putra, dia melepas jaket kusamnya, melingkarkannya di tubuhku. Dan sekarang, setelah beberapa lama akhirnya aku tahu mengapa dia begitu menyukai jaket ini. Harum. Hangat.

Aku bisa mencium harum parfum Ibu yang begitu lembut. Aku meremas jaket itu. Mencoba membuat aroma Ibu yang kurindukan itu kembali kedalam memoriku. Aroma yang setelah 2 Tahun menghilang.

Aku memejam. Mencoba mengumpulkan seluruh kenangan yang hampir karam. Memori ketika aku makan saat ibu masih menggosok beberapa potong pakaian. Atau aroma pengharum lantai dan desah lemas ketika aku baru pulang sekolah dan mengotorinya dengan sepatuku.

Agak sulit mengingatnya begitu jelas. Karena semuanya sudah hampir menghilang.

“Besok Mas Putra pergi kerja, Tasya dengan Mbak Ani ya?” Mas Putra berkata lirih. Mengalun bersama dengan hembus angin malam.

Mbak Ani. Sedang berada dirumah dengan beberapa keluarga. Aku melihatnya menangis tersedu hingga air matanya kering. Saat itu, aku ingin sekali memeluknya. Aku ingat saat 2 tahun lalu. Air mata dan tangisan yang sama saat ibu akhirnya berpisah dengan kami. Perpisahan yang tak mungkin menemukan kata “bertemu kembali”

Perpisahan yang bersifat selamanya.

Aku merajuk. Aku ingin menangis. Anak kecil sepertiku bisa apa!

Aku ingin memeluk bapak, karena kemarin, aku tidak sempat. Aku sempat membencinya karena dia bau. Bau obat. Bau sekali obat yang harus dia minum begitu banyak.

Hening. Redup.

Aku harap aku masih bisa memeluk bapak. Esok.

Adopted from true story: My Little cousin Atifa, 9 Years old

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s