Belum

Standard

Pagi. Saat kembali terbangun dengan berat dosa yang kian menumpuk. Ada hal yang tak pernah kuharapkan untuk kulihat. Mungkin aku hanya takut lalu kemudian menerka-nerka sesuatu yang terburuk. Tapi tak ayal membuat hatiku hancur luluh.

Salah. Mungkin aku salah. Berharap terlalu dini untuk hal yang belum sepenuhnya menjadi hakku. Bahwa aku terlalu menyimpulkan terlalu cepat dan selalu berliput kesombongan yang belum pasti akhirnya.

Benar. Mungkin aku benar, atas semua prasangka yang dahulu kuceritakan pada orang banyak. Bahwa dirimu memang sudah terikat dengan jalan cerita yang lain, dan tak ada diriku di dalamnya. Mungkin ini semua salahku, yang terlalu sombong untuk mengakui bahwa kuasa manusia hanyalah sebatas harap.

Ridho Tuhanmu lah, yang membuat semua cerita akan berakhir dengan bahagia bersama dengan restu-Nya. Terima kasih, Allah. Aku menjadi semakin mengerti sekarang, bahwa setiap berita yang tak sesuai dengan kehendakku, selalu berdasarkan jalan yang telah engkau tentukan. Bahkan sebelum aku ada.

Semua yang terjadi, tak lain hanyalah sedikit dari rezeki-Mu yang kau torehkan pada hatiku yang mungkin sudah sedikit mengeras.

Aku jadi mengerti, bahwa belum saatnya.

Belum, Belum saatnya aku mendahului takdirmu yang paling sakral. Diantara hari-hari indah yang membuatku bahagia, aku masih sering mengkhianati-Mu dengan hatiku yang angkuh.

Terima kasih, Allah.

Bahwa masih banyak hal yang harus kuperbaiki. Bahwa perjalanan ini masih panjang, bahwa aku ingin terus merasa bahagia dengan sedikit-banyak karunia hidup yang kau beri padaku melalui setiap petualangan yang membuatku dewasa. Ilmu di dunia ini begitu banyak sehingga aku masih harus banyak mempelajarinya untuk semakin dekat dengan-Mu.

Aku cemburu pada hamba-Mu yang istiqomah itu, mungkin Engkau memberikan aku kesempatan lebih banyak untuk mengejar-Mu dibalik lelahnya senja dan kantuk malam yang selama ini masih sering aku lewatkan.

Masih ada petualangan yang ingin mengajariku bahwa menjemput cinta, tak semudah melangkah kaki menuju jalanan yang dekat. Semuanya perlu perjuangan dan rintih melalui setiap sujud-sujud panjang.

Hatiku sesak. Namun hangat.

Terima kasih, Allah.

Telah menunjukkan padaku bahwa dia bukan untukku yang selalu kuidamkan. Aku masih harus terus belajar dan bersabar, masih harus lebih banyak menangis dan merayu-Mu lebih mesra lagi.

Aku yakin, dia yang untukku kelak adalah orang yang Kau pilihkan. Bukan aku yang cuma bisa berharap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s