Pertempuran Shubuh

Standard

Sudah pertengahan ramadhan, padahal tadi aku terbangun di pukul 03:30 Pagi. Saat teman sekosan gaduh menyalakan motor karena berebut dari garasi kosan yang sempit untuk mencari makanan untuk sahur. Sepertinya akibat tidur larut pagi, aku baru mendapatkan waktu tidur setengah jam. Mataku perih seperti terbakar. Benar-benar sulit untuk bangun. Saat aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tanpa sadar aku malah tergiring kembali ke kasur.

Satu jam terasa seperti sepuluh menit. Saat suara agung shubuh membangunkanku. Mataku terbelalak saat muadzin mengucapkan kalimat “Hayya ‘ala sholaah” pada kedua kalinya. Aku tersadar, sangat-sangat sadar. Beberapa teman kosanku saat itu sudah mengenakan sandal. Gemuruh suara derap kaki mereka bertiga berada di depan kamarku, karena kamarku dekat dengan garasi dan lemari tempat meletakkan sandal.

Kalau saja, aku bangun lebih cepat pagi itu. Sebelum bahkan adzan shubuh mendahuluiku. Tidak tidur kembali setelah mencuci muka. Lima menit bagai satu detik. Adzan shubuh selesai berkumandang. Tapi aku masih terbaring, malas diatas kasurku sendiri.

Hening. Kemudian ayam mulai berkokok. Mungkin panik lantaran begitu banyak malaikat yang turun shubuh itu.

Ah! Aku mencoba berkutat dengan kasurku. Mencoba untuk bangun. Tapi diriku berkata dalam hati, “Aku masih punya waktu 10 menit untuk tidur, setelah itu baru sholat shubuh.”

Aku berguling ke kanan. Masih hening.

Andai saja shubuh itu aku tidak kalah dengan nafsuku sendiri. Pasti aku tak akan tertinggal di detik-detik yang begitu penting. Ini akan menjadi kesekian kalinya aku bangun tanpa disaksikan oleh malaikat yang ikut berjamaah di shubuh hari di masjid dekat kosan.

Ayo, kamu pasti bisa bangun! Bisa, pasti bisa!

Berguling ke kiri. Kenapa susah sekali ya?

Berguling ke kanan. Aku malah memeluk bantal dengan mata yang setengah tersadar.

Sudah berapa menit ya?

Terdengar gemerisik speaker masjid yang hampir mengumandangkan iqomah. Lalu, apa kamu mau ketinggalan shaf bersama malaikat yang turun shubuh ini lagi? Ayo, bangun! Jangan sia-siakan shubuh ramadhan mu, jangan biasakan seperti hari-hari lain.

Iqomah berkumandang. Sekuat tenaga aku bangun dan lari ke kamar mandi. Menjambret handuk dan menggosok gigiku. Iqomah sudah selesai. Samar-samar terdengar suara imam membaca Al-Fatihah.

Masih sempat, aku masih bisa mengejar rokaat pertama.

Aku kembali ke kamar setelah berwudhu kilat.

Imam masih membaca surah makiyyah, sepertinya aku bisa mengejar rukuk pertama. Ya!

Aku menarik sarung yang tergeletak di atas koper hitam milikku. Imam masih terdengar membaca surat, sepertinya aku masih bisa mengejar rukuk pertama.

Aku berlari keluar tanpa mengunci kamar. Mencari-cari sandal yang biasa kugunakan untuk pergi ke masjid.

Lari! Lari!
Ayo terus lari!

Masih, imam masih membaca surat makiyyah. Dengan langkah sekuat tenaga aku mengambil spasi besar dalam derap lariku. Jika dibayangkan, aku seperti sedang lari marathon bersama dengan setan-setan shubuh yang mencoba mendahuluiku dan mencoba mengalihkan perhatianku dari pahala yang begitu besar.

Sedikit lagi…sedikit lagi.

Allahu Akbar.
Ah!

Rokaat pertamaku yang berharga terlewat. Rasa-rasanya begitu jauh mencapai masjid yang jaraknya tak lebih dari lima puluh langkah ini.

Aku mencapai pintu masjid. Shaf sudah rapat dan selesai melaksanakan rukuk.

Aku lantas grasak-grusuk mengisi shaf belakang yang masih tersisa.

Sedih. Mengapa aku begitu bodoh dan lemah untuk bisa mengalahkan nafsuku sendiri?

Bagaimana kamu mau membangun sebuah rumah di surga kalau shubuh mu masih seperti ini?

Ah! Aku ingin menangis kala itu juga. Malu dilihat Allah. Malu, dilihat malaikat.

Lagi-lagi. Tidak, bukan lagi-lagi. Untung aku tidak kalah dalam pertempuran di subuh pagi. Untung aku tidak lagi terjerumus dalam dekapan tangan-tangan setan di waktu fajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s