Surat Untuk Langit

Standard

Bintang sudah muncul. Gemerlap, bagai titik-titik kristal yang terus menerus bersinar tanpa pernah lelah. Malam juga sudah dingin, memang benar-benar dingin akhir-akhir ini, bahkan siang yang terik dengan matahari saja masih sangat dingin. Suhu di termometer ponsel sudah mencapai 19 derajat celsius. Membuat siapapun yang bangun di pagi hari malas sekali untuk mandi karena takut menggigil, padahal cuma untuk berangkat kuliah.

Bulan Ramadhan sudah tiba. Siapa yang tidak gembira? Aku jelas, aku sangat gembira. Setelah 11 bulan lainnya aku merasa menjadi manusia yang amat kosong, kapan lagi bisa memborong semua pahala di bulan flash sale ini? Cuma mereka-mereka saja yang gigih yang bakal meraih pakaian penuh dengan ketaatan yang harganya sangat mahal setelah ditinggal pergi bulan flash sale pahala ini.

Hah, bagaimana tidak?

Tidak pernah aku merasa begitu ringan membaca satu ayat qur’an yang diganjar puluhan kali di bulan yang agung ini?

Ramadhan setiap tahun selalu akan berbeda. Meski pahala yang ditawarkan selalu sama, sama-sama melimpah. Tapi momen menyisakan menit-menit terakhir berbuka bersama keluarga kini tak bisa sama seperti dulu. Duduk menonton tv dan menyaksikan lorong waktu usai pulang madrasah di sore hari. Menantikan sambil tertawa dan menit-menit terakhir puasa menyajikan takjil bersama Umi di dapur. Meski seringkali aku malah membuat repot.

Sudah hampir 21 tahun. Usiaku. Bukan anak kecil lagi, kan? Bukan saatnya lagi bisa bersenang-senang, bukan? Dan aku mulai bisa merasakannya, hidup soliter dan harus mengenyampingkan emosi demi meghindar untuk di cap tidak dewasa.

Berat sekali. Tapi aku masih merasakan kehampaan yang selalu saja singgah. Yang selalu membuatku terus-menerus memimpikan seseorang yang ingin segera kutemui. Akan seperti apa dirimu?

Hai,

Kamu pasti saat ini sedang bahagia menyambut ramadhan bukan? Aku sangat penasaran bagaimana rupa senyummu, dan suaramu tatkala melantunkan ayat.

Maaf, aku masih belum pantas untuk bertemu denganmu, saat ini. Karena masih saja tersandung dengan kerikil-kerikil maksiat. Meski aku menyadari, saat-saat bahagia adalah ketika aku bisa mengingatmu, karena-Nya.

Hai,

Kamu pasti sedang merindu juga, bukan? Bukankah kita punya benang merah yang terikat di kelingking kita masing-masing? Apa kamu merasakan cinta yang sama? Ngomong-ngomong, dimana beli kacamata itu, ya? Iya, kacamata yang bisa melihat benang itu, supaya aku bisa menelusurinya dan bertemu denganmu.

Apakah kamu sejauh itu? Atau, kita memang sangat dekat? Mungkin aku tak menyadari wajah kita pernah bertemu, meski aku tak menoleh saat kau mengenakan helm dan tertutup dengan hijab besarmu.

Tapi, kamu masih menungguku, kan?

Apa kamu masih menantikan aku di batas waktu? Batas dimana jalan cerita kita akan segera menemui lembar pertama kehidupan dunia, bersama-sama merangkai cerita untuk kehidupan akhirat yang katanya, begitu indah di surga-Nya.

Kamu mau, kan? Bersama-sama merajut bersama benang-benar itu? Mendayung, dan menjadi pelabuhan yang selalu membuatku nyaman menghabiskan waktu senja bersama?

Kamu mau, kan?

Kamu, masih menungguku? Ataukah, kamu lelah menantikan diriku yang masih penuh dengan lalai ini?

Maaf, aku bukan orang yang romantis. Aku terkadang suka sekali bergurau, dan tak pernah bisa lepas dari dosa. Tapi aku yakin. Allah tidak membenciku, karena cinta-Nya. Selalu membuatku terus yakin untuk bisa memperbaiki diri. Meski tak mudah.

Hai,

Apa kamu masih disana? Iya, merasakan ketentraman melantunkan ayat-ayat yang membuat dunia ini riang? Burung-burung sampai bertasbih menyaksikanmu melantunkan ayat itu.

Ah, Betapa bahagianya nanti. Aku harap begitu.

Mencarimu itu tak mudah. Aku harus jatuh-bangun menghukum diriku sendiri yang malas ini. Lalai! Sholat berjammaah di masjid saja masih suka tertinggal! Maaf, ya..

Hai,

Kamu masih mau menerimaku apa adanya, bukan?

Bantu aku memperbaiki diriku nanti, karena aku sungguh, sungguh-sungguh tak mampu bila sendiri. Sudah saatnya aku membutuhkan kamu. Yang saat ini, sedang sabar sekali menanti.

Maaf, jika calon imammu kelak bukan orang yang sempurna. Aku ingin merasakan ramadhan bersamamu, kelak.

Aku merasa bahagia.

Apa kamu juga?

Sebentar lagi tarawih, selamat berpuasa, ya.

Semoga Allah bisa menyatukan benang itu, segera. Setelah kita memperoleh kacamata itu, kacamata taat yang membuatku tahu. Bahwa itu kamu.

Selamat beribadah. Semoga kita selalu dekat, denganNya. Jangan jauh-jauh ya..

-R.S-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s