Diatas Angin

Standard

Bergemuruh.

Menubruk dinding-dinding kaca. Berusaha menerobos masuk. Menyisakan raut wajah tak peduli dari orang-orang itu. Semakin tinggi, semakin kuat. Menghilang.

Gumpal awan berisi titik-titik hujan itu berjalan santai. Berlenggok, menari bersama dengan angin. Menyaksikan dunia dari atas. Melihat kerumunan pohon hijau yang daunnya tersisa sedikit. Melihat kilat-kilat cahaya dari birunya lautan luas meski sedang sekarat. Melihat kepulan hitam yang membumbung, panas, dan membuat dunia sesak napas.

Dingin. Semakin tinggi.

Terkeret pada kabel besi kuat yang membentang. Jauh, membuatku terbang meski hanya berada dalam kereta gantung. Kutorehkan wajahku ke kanan, melihat barisan gunung itu bagai pagar-pagar tinggi yang menahan langit. Bagai tirai-tirai tempat sang raja langit beristirahat. Atau keindahan yang bisa kunikmati dari lukisan seorang anak SD.

Hijau. Menentramkan.

Bisa kulihat kapal berlayar, menghabiskan waktu mencari sedikit-banyak rezeki yang membentang dari ujung. Bahwa aku menyadari, semuanya tertulis dalam paragraf yang begitu rapi.

Dingin. Dingin. Semakin tinggi, semakin kencang, dan menghilang.

Dapat kurasakan angin menembus dari jendela-jendela kereta gantung. Meniupkan gigil dan perasaan ganjil yang tidak memiliki kamus penerjemah.

Perasaan yang mungkin, hanya semesta yang tahu artinya.

Awan menghilang. Terempas sangat jauh. Samar, kabur dengan warna langit yang biru, terang, bersama dengan perasaanku. Mungkin akan hilang juga, bersama dengan angin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s