Cerpen: Sepuluh

Standard

Pssttt….!!! “Kau dengar itu?” Neymar berkata pelan, menahan napas dan menatap kedua wajah temannya yang penuh dengan peluh. Hening. Tiba-tiba saja seisi hutan menjadi hening setelah bocah 7 tahun itu ber-ssttt pelan.

Kedua bocah lainnya tampak bingung, menggeleng. Mereka cuma memperhatikan bocah didepannya itu dengan tatapan penuh dengan tanda tanya. Bocah paling berani itu melangkahkan kakinya yang tanpa alas itu, perlahan menyusur lumpur-lumpur bau yang tertanam pucuk-pucuk bakau. Suara “blub” terdengar seiring dengan langkah kakinya yang kecil. Gelembung keluar dari bekas pijakannya, tampaknya itu kepiting bakau yang sedang bersembunyi.

Tiba-tiba saja tidak terlihat burung yang sedang mereka incar. Jam 5 sore biasanya banyak burung bangau yang berkeliaran disini, dan ketiga bocah ini, biasanya asyik menyasar dengan ketapel buatan mereka.

Dua bocah lainnya tetap diam, memerhatikan Neymar berjalan pelan dengan langkah hati-hati. “Sepertinya tadi aku mendengar suara air beriak, pelan, tapi aku mendengarnya!” Neymar menoleh ke belakang, hanya 2 langkah jauhnya dia dengan dua temannya itu.

“Benarkah?” Satu bocah berkaos kuning penuh lumpur itu menangapi, berbisik, sangat pelan. Agos. itu namanya. Takut-takut, dia mengisi ketapelnya dengan kulit tiram kecil seukuran batu kerikil yang baru saja dia temukan. masih berisi, dan kerangnya masih hidup. Kalau terkena orang biasa dengan kecepatan tinggi, cukup untuk merobek kulitnya.

Neymar masih diam, mencoba memastikan. Matanya begitu awas, melihat sekeliling, bagai mata elang tajam yang terfokus pada gerakan sepersekian detik.

“Aku takut itu Zebi hitam.” Neymar terdengar ragu, tapi suaranya masih terdengar sangat pelan, hampir tak terdengar.

Bocah berkaos putih penuh lumpur tampak kaget, “Benarkah? Bukankah dia biasa berburu malam hari?” Dia berusaha berbisik tapi suara cemprengnya tetap saja mengganggu telinga kedua teman-temannya sampai keduanya bersautan, “SHHHH!!!!” sangat keras. Topan, nama bocah itu.

“Iya, aku tahu, tapi, suara percikan air itu tampak begitu tenang.” Neymar memungut sesuatu dari dalam lumpur, dia mendapatkan cangkang kerang littorina yang ujungnya agak tajam. Bocah ini sangat ahli menembak dengan ketapel, dengan cangkang itu, cukup untuk menembus kulit anjing liar sekalipun.

Tidak ada riak sama sekali. Perairan mangrove, 3 kilometer dari rumah mereka tinggal yang penuh dengan mangrove tinggi setinggi 5 meter. Tenang. Hanya adaa gelembung kecil yang keluar diujung pandangan mereka. Satu ikan glodok taampak keluar dari air, memanjat, dan melebarkan insang mereka. Melompat kemudian menghilang di lumpur. Plung!

Hening lagi.

“Siapkan amunisi kalian!” Neymar memerintahkan dua bocah dibelakangnya. Dua bocah itu berebutan mengisi kantong celana bolong mereka dengan amunisi (kulit kerang, batu, biji mangrove) sampai-sampai celana mereka melorot. Agos memegang pergelangan pinggangnya.

Neymar mengalungkan ketapelnya. Meraih tombak runcing yang ujungnya terbuat dari baja yang diasah mengkilap. Menarik tali perahu kecil yang biasa digunakan orang tuanya untuk menjaring ikan. Berbunyi kreet. Air beriak sedikit.

“itu!” Suara cempreng Topan mengagetkan keduanya. Arah jam sepuluh! Ucapnya sok tahu, padahal dia tidak bisa membaca jam dinding di rumahnya.

Neymar tercengang. Iya! Itu Zebi Hitam! Buaya Muara terbesar yang paling ditakuti warga di sekitar Muara Zebi. “Siapkan amunisi!” Neymar berteriak.

Mata hitam yang tersebunyi dibalik keruh air. Bergerak mendekat, diiringi gerakan meliuk yang begitu tenang, namun menakutkan.

Plung! Tidak kena. Mencoba menembak. Mata itu berhenti. Tampak menimbang-nimbang. Jarak mereka sekitar 50 meter. Tidak bergerak.

Plung! Neymar mengerang kesal. “Sial!” Makinya. Ketiganya jadi kaku. Mereka mencoba menarik kaki mereka dari lumpur tebal, mereka cukup jauh menuju tanah keras.

“Lari!” Agos berteriak, saat mata itu bergerak begitu cepat, membuat riak-riak kecil. Ketiganya pontang-panting, mencoba menyelamatkan diri masing-masing. Satu sobekan di telapak kaki Topan. Dia terkena cangkang tritip yang sisinya sangat tajam. Dia meringis. Mereka masih berusaha menarik kaki mereka dari sedotan lumpur.

Neymar berbalik, mengambil satu biji bakau, matanya ditutup satu. Ketapel berada pada sisi kanannya. Tangannya meregang, menimbang jarak. Dia menahan napas, mencoba melihat mata yang menakutkan itu.

Satu..Dua..Tiga..

Pletak! Tepat, terkena mata itu! Neymar berseru girang. Mata itu menghilang dibawah keruh air. Menyisakan gelembung yang segera pecah. Hening lagi. Topan dan Agos berhasil mencapai tanah. Neymar masih berdiri kaku. Matanya masih awas.

Kali itu, Zebi Hitam berhasil dia tembak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s