Umi dan Farhan: Di Persimpangan Jalan

Standard

Kami berdua berpisah di persimpangan jalan, Anastasia memutuskan untuk menaiki taksi menuju dorm, dia akan mengunjungi Emily dan sepertinya, dia akan memarahi Emily karena chat nya sore tadi. Entahlah.

“Senang berbicara denganmu.” Ucapnya sebelum pergi, dia tersenyum dengan bibir tipis merahnya. Wajahnya masih merona meski tak terkena cahaya jingga. Yah, meski masih tersisa sedikit matahari sore ini.

“Aku juga.” kataku menanggapi, aku memeras tali tas yang berada disamping pinggangku, mencoba menahan diri akibat salah tingkah. “Beritahu aku kalau kalian akan pergi ke Indonesia, aku akan menyisakan banyak tabungan untuk membeli tiket pesawat kesana.” Ucapnya lagi.

Sebuah taksi berhenti tepat di belakangnya, jendela kacanya membuka sedikit dan Anastasia menoleh, “Sebentar lagi, pak!” sambil melambaikan tangan. “Yah, aku pergi dulu.” Ucapnya. Dia memasukkan tangannya ke Mantel cokelatnya, berbalik dan menaiki taksi. Aku masih berdiri, menyaksikannya berlalu dari balik kaca, dan lampu taksi yang berkedip kemudian menghilang di tikungan.

Aku tercenung sesaat, aku melihat jam dan sudah pukul 17:00, aku lupa belum melaksanakan sholat ashar, jadi kuputuskan untuk pergi ke Masjid Shia di dekat pusat kota. Mungkin aku bisa menenangkan diri sambil mendengarkan celoteh anak-anak Komunitas muslim yang sedang belajar mengaji. Atau mengobrol sedikit dengan Ali, mahasiswa sastra yang kukenal bulan lalu usai menghadiri kajian jum’at malam. Jalanan masih ramai dengan orang-orang kantoran yang melepas lelah di Cafe sepanjang jalan besar kota Michigan.

Usai beberapa rakaat dan beberapa huruf qur’an selesai kubaca, aku kembali bersujud untuk menyatakan rasa syukur yang tak pernah cukup kepada sang pemilik hidup. Yang selalu menyelipkan berkahnya disetiap rasa bahagia yang kurasakan hari ini. Bahkan, yang menyelipkan kedamaian setiap kali aku menyaksikan awan-awan jingga menghilang bersamaan dengan matahari yang tenggelam. Aku mengemas tas, mengusap kedua wajaku dan berbalik.

“Nick?” Aku berdecak pelan, melihat Nick tengah duduk di tangga Masjid Islamic Center. Jaket biru tua nya tampak lusuh, aku menyaksikannya dari belakang, memeras rambut dan termenung sendiri. Nick menoleh, “Hai?” tanyanya setengah linglung. “Sudah selesai?” dia berdiri dan berbalik arah menyambutku. Aku mengangguk, melihat Nick yang terhalang cahaya matahari yang tersisa hari ini. Membuatnya tampak bagai siluet lukisan yang dipajang di Pameran Lukisan Museum tua.

“Sedang apa kau disini?” Tanyaku menghampiri, aku duduk di tangga dan mengambil sepasang sepatuku. “Menunggumu.” “Kau tau aku disini?” “Ya, tadi aku melihatmu di persimpangan jalan.” Nick ikut duduk, menungguku memakai sepatu. “Kebetulan aku baru saja selesai dari suatu tempat dan akan pulang, lalu aku melihatmu.” Aku mengangguk, “Sudah lama kau menunggu?” “Sekitar 20 menit, apa yang membuatmu sangat lama?” Nick menghela napas. Aku hanya tersenyum tipis, “Hanya sedikit menikmati ketenangan.”

Nick diam tidak merespon. Aku selesai memakai sepatu, dan berdiri. “Sudah makan? Aku lapar.” Ucapku menatap Nick yang terdiam. Dia kemudian mengangguk. “Boleh, aku belum terlalu lapar sih, tapi kupikir sepotong burger tidak masalah.”

***

“Tadi aku bertemu anastasia.” Ucapku saat baru saja duduk dan membuka menu, Nick sedang sibuk melihat-lihat menu, sepertinya dia bingung akan memesan apa. “Benarkah? Dalam rangka apa?” Nick menatapku sekilas, kemudian kembali melihat menu. “Meeting dan berdiskusi mengenai beberapa hal.” Aku menutup menu, dan melambaikan tangan ke salah satu pelayan. “Dan kau tau apa?” Nick menutup menu juga.

Seorang pelayan mendatangi kami dan membawa note kecil dengan bolpoin. “Aku ingin fetuccini dengan orange juice.” Ucapku sambil mengalihkan pandangan. “Aku Espresso dingin saja.” kata Nick, dia tidak memesan makanan. “Apa?” Ucap Nick. Pelayan tadi sedang sibuk mencatat, “Ada yang lain?” aku menggeleng dan dia segera menarik buku menu dari hadapan kami. “Dia ingin bergabung dengan kita untuk tugas professor Daughtry.” Nick hanya menaikkan bibirnya, menyatakan bahwa dia tidak begitu kaget. “Bagus.” Ucapnya datar. “Hanya itu?” lanjutnya lagi. Aku mengangguk, memutuskan untuk tidak membicarakan hal ini lebih lanjut. Sepertinya Nick tidak tertarik. “Kau habis dari mana?” tanyaku akhirnya, merubah jalur pembicaraan. “Berkeliling.” jawabnya pendek. “Tadi ada pertunjukkan sepeda di 43rd Avenue, ada sekelompok anak-anak remaja yang beratraksi dengan sepeda mereka. Dan mereka terjun menggunakan sepeda dari slide board yang sangat tinggi!” Nick Antusias. Aku mengangguk, “Waw, aku baru tahu ada pertunjukkan itu disana, kenapa kau tidak mengajakku?” Protesku sambil menautkan alis. “Well,” Nick nyengir. “Aku tahu kau punya janji, jadi tidak kuajak. Lagipula, aku tidak lama menontonnya, aku merasa bosan dan akhirnya hanya duduk-duduk menikmati taman.” “Baiklah.” tanggapku singkat.

“Aku baru saja bertemu dengan ibuku.” Ucap Nick kemudian. Dasar Nick aneh! Baru saja dia bilang cuma jalan-jalan di taman, tapi kemudian dia nyeleneh dan ngomong jujur seperti ini. Aku mendengus kesal. “Terserah kau, Nick!” Ucapku acuh.

Nick cuma nyengir. “Itu juga tidak disengaja, ibuku baru saja berkunjung ke salah satu rumah temannya, dan dia membeli beberapa bunga untuk ulang tahun pernikahannya dengan pria itu.” Nick kembali mengedik bahu, dia mengambil sumpit dan memainkannya. “Mereka akan merayakan hari besar mereka minggu depan, dan ibuku mengajakku.” Lanjut Nick. “Lalu? Kau terima tawaran itu?” Tanyaku mendekatkan wajah pada Nick. “Entahlah, aku akan memikirkannya.” Nick berhenti memutar-mutar sumpitnya. “Aku bingung.” Ucapnya dengan suara yang kecil dan samar. Dia kembali murung lagi. Aku jadi berpikir, akhir-akhir ini Nick menjadi sering murung. Terutama saat mengingat masalah Ibunya.

Kurasa akan lebih baik jika Nick cepat kuajak ke Indonesia dan Membuatnya lupa sedikit tentang perasaannya yang terus menerus gelap. “Kau sudah siapkan dana untuk beli pesawat kan?” Tanyaku akhirnya. Entahlah, aku merasa tak tega mengalihkan pembicaraan, tapi aku tahu Nick tidak nyaman membicarakarakan hal ini. Tak ada jawaban. Nick hanya memainkan sumpit lagi, memutar-mutarnya dan kemudian menggenggam sumpit itu. “Aku sudah menyiapkannya dari tahun lalu.” dia nyengir. “Kau tahu seberapa ingin aku kesana, bukan? Aku bahkan menyiapkan dana untuk hidup disana!” Nick nyengir tambah lebar. Kemudian dia tertawa. Dan aku pun tertawa. Kami berdua tertawa. “Excuse me.” Makanan kami sudah tiba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s