Umi dan Farhan: Terbang

Standard

“Aku akan memikirkannya,” Anastasia berkata kemudian, dia tampak menimbang-nimbang.

Kami berdua terdiam sejenak. Langit semakin menguning, barisan burung walet terlihat di balik jendela Cafe. Banyak dari orang-orang kantoran yang sudah pulang di hari kerja, berbondong-bondong menenteng tas mereka, mengejar waktu untuk bertemu dengan keluarga.

“Farhan,” suara Anastasia melesat bagai embun, sejuk dan lembut ditelinga. Di Cafe yang mengalun suara musik Daniel Bedingfield – If You’re Not the One di bagian Reff, aku merasakan suara Anastasia masuk di dalamnya. Aku menatapnya berbeda. Wajah Anastasia terpapar mentari sore yang membuat kulit putihnya menjadi agar oranye, separuh warna kulitnya merona cerah. “Aku ingin tahu tentang Indonesia.” Lanjutnya.

Aku tak menjawab selama beberapa detik, mencoba mengatasi keanehan yang terjadi pada diriku. Anastasia, sejenak mengalihkan pikiranku. Siapa yang ada dihadapanku sekarang, memberikan kesan aneh, membuat pikiranku menjadi kosong saat melihat rona wajahnya tersinari cahaya sunset.

“Farhan?” Anastasia menegurku, dia menepuk lengan kananku yang terdiam diatas meja, basah bersama titik air yang membasahi meja Cafe. Aku mengedikkan bahu, mencoba mengumpulkan kesadaran bagai orang yang baru saja pingsan.

“Indonesia, ya?” Aku menarik napas, mencoba membuat diriku tetap normal dihadapan Anastasia. “Aku tinggal di wilayah perkotaan, jadi tidak begitu tau.” Ucapku jujur.

“Tapi, saat aku mengejar gelar sarjana dulu, aku tinggal di sebuah kota kecil di salah satu Provinsi di Jawa. Kau tahu pulau jawa, kan?”

Anastasia mengangguk, “Aku sedikit banyak membacanya melalui beberapa buku ensiklopedia, National Geographic meliput salah satu pulau di Indonesia, pulau Kalimantan minggu lalu. Hutannya sangat indah, dan, biodiversitas di sana sangat sangat tinggi.”

Aku tersenyum, “Sangat tingi.” Tegasku lagi, “itulah yang membuat Nick dan yang lain ingin pergi kesana, Nick ingin ke pulau Nusakambangan, Cilacap di Jawa Tengah. Kau tahu pulau apa itu?”

Anastasia menggeleng, “Itu adalah pulau tempat para narapidana di tahan.” Dia mengernyitkan dahi, tampak ngeri sekaligus penasaran. “Pulau yang berisi para tahanan dan kriminal kelas tinggi, tak heran pulau itu sangat terpencil. Tapi, kau tahu? Pulau itu menyimpan banyak keunikan, diantaranya keanekaragaman hayati yang sangat tinggi juga.”

Anastasia berdecak, dia tersenyum sumringah, “Benarkah?” Dia meletakkan kedua lengannya di dagu, mencoba memberitahuku bahwa dia ingin mendengar lebih banyak tentang Negeriku.

“Burung Bangau jawa, itu yang ingin Nick teliti. Dan, oh, di kota tempat aku belajar dulu, kami menyebutnya kota dengan seribu air terjun. Hampir setiap spasinya menyimpan keindahan air terjun.”

“Farhan, aku ingin terbang ke Indonesia!” Dia tertawa renyah, dan tersenyum menatapku.

Langit sore, menguning dan berubah oranye. Aku melihat barisan burung-burung membelah langit, menciptakan formasi yang tak biasa. Membentuk huruf V dan mengepak bersamaan. Membuatku ingat, saat masa kecilku, masa dimana aku bersama Umi duduk di padang rumput menyaksikan langit menghitam, melihat pantulan dari air yang bagai kristal.

Terbang. Ya, aku ingin terbang. Pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s