Umi dan Farhan: Anastasia

Standard

“Maaf sekali tadi aku terlambat, aku benar-benar lupa kalau kita ada meeting hari ini..” Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal, berharap Anastasia tidak marah. Tapi, dia memang tidak marah, saat aku menatapnya, dengan ringan dia tersenyum, matanya menutup, rambut lurusnya terurai lemah ke bahunya.

“Tidak apa-apa.” Ucapnya, “beruntung yang lain tadi sibuk membaca beberapa buku sehingga aku tidak perlu berusaha membujuk mereka untuk tetap disana.” Lanjut Anastasia. Sejenak aku bernapas lega, kami berdua menuruni tangga porselen perpustakaan, beberapa mahasiswa lain sudah pergi lebih dulu, hanya tersisa aku dan Anastasia.

Pukul 16:00

“Farhan..” Kami berdua memperlambat jalan saat mencapai fountain di halaman depan perpustakaan kota, “Apa kau ada waktu? Sepertinya, aku ingin mengobrol banyak denganmu.”

Sejenak aku jadi salah tingkah, “Denganku? Ada hal apa?”

“Yah, banyak sekali..” Anastasia menggoda, “apa kau ada kegiatan dan janji lain?” Aku memutar otak sebentar,

“Sepertinya tidak ada.” Gumamku ragu, “Yah, sepertinya tidak ada,” ulangku dengan nada yang lebih keras. Anastasia tersenyum. “Syukurlah,” ucapnya riang. Kami berdua kembali berjalan, menuju Cafe terdekat di sekitar perpustakaan kota. Agak jomplang ketika melihat sekilas, Anastasia sedikit lebih tinggi dariku, kepalaku hanya berada pada telinganya, dan ketika kami jalan berdua, sangat tidak mungkin orang lain menganggap kami sepasang kekasih.

Heh! Aku tertawa sendiri, Anastasia? Denganku? Dia lebih cocok dengan Nick, setidaknya mereka memiliki tinggi yang hampir sama bahkan Nick lebih tinggi darinya. Ditambah, Nick memiliki proporsi tubuh yang lebih baik, dia juga memiliki selera berpakaian yang baik. Berbeda sekali denganku, yang selalu cuek dan asal-asalan dalam berpakaian. Aku meringis sendiri.

***

Anastasia menyeruput kopi dinginnya, dia sedikit sibuk dengan tablet miliknya yang sejak tadi memberikan notifikasi. Sepertinya dia tampak sebal, beberapa kali alisnya bertaut marah.

“Ada sesuatu?” Tanyaku penasaran, aku mengambil chip rumput laut pesanananku dan men-cocolkannya ke mayonaise.

Anastasia menatapku, “Tidak.” Dengan nada pendek, tanpa ekspresi. “Eh, maksudku, ya, tidak ada apa-apa, maaf..”

Aku melihat reaksinya sebentar, “Yah, baiklah..” Mencoba acuh dan kembali mengambil beberapa chip untuk kemudian aku lahap.

Selama lebih dari 15 menit Anastasia tetap sibuk dengan gadget nya, dan chipku sudah habis sejak tadi. Hanya teh lemon dingin yang sejak tadi kucoba minum sedikit-sedikit. Hari sudah hampir maghrib, langit sudah sedikit menguning.

“Aku sampai lupa..” Anastasia menepuk dahinya pelan, sambil menyisir rambutnya kebelakang, “maaf aku sedikit sibuk dengan diriku sendiri.” Dia kemudian mulai berbicara. “Aku ini bodoh sekali, padahal aku yang mengajakmu untuk mengobrol tadi.” Dia mengehela napas, sepertinya sejak tadi dia sibuk berkutat dengan gadget, dan pikirannya sendiri. Aku tak berbicara, hanya tersenyum tipis, respon yang paling tepat untuk sekarang.

“Yah, Emily memintaku untuk menjadi pelatih dalam drama kampus minggu depan, dan besok aku harus mulai melatih, aku benci sekali diminta mendadak seperti ini, dan saat aku menolak, dia malah balik memarahi aku.” Anastasia mendengus, “Maaf, aku jadi kelepasan bicara sendiri.”

Aku tersenyum lagi. “Tak masalah, jawabku, mencoba tak ikut campur,”

“Anyway, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu?”

Aku mengangguk, “Please,” ucapku sambil menyeruput teh lemonku melalui sedotan.

“Apa kau sudah mendapatkan tim untuk tugas bulan ini?”

“Maksudmu, Tugas dari professor daughtry?”

“Ya,” Anastasia menyeruput kopinya, tapi dia baru sadar kalau kopinya sudah habis.

“Aku bersama Nick dan yang lainnya..” Jawabku pelan, “Tapi kau boleh bergabung kalau mau.”

“Benarkah? Kalian akan memilih lokasi dimana?” Anastasia antusias, sejenak gurat wajahnya berubah seratus persen menjadi Anastasia yang kukenal, wajahnya benar-benar hangat.

“Tentu saja, kami berencana akan melaksanakan penelitian di Indonesia.” Ucapku, aku mencoba melihat reaksi Anastasia dalam beberapa detik kemudian. Sepertinya dia agak kaget, bibir tipisnya ternganga.

“Kenapa sejauh itu?” Nadanya berubah menjadi kaget setengah mati dan, dia tidak berhenti menganga.

Aku nyengir sedikit, “Kau boleh membatalkan pilihanmu kalau mau.” Aku menggaruk-garuk, mencoba memilih kalimat yang tepat. “Well, uh.. Ini semua keinginan teman-temanku, terutama Nick, dia sangat ingin ke salah satu pulau di Indonesia dan melihat bangau kesukaannya.”

Anastasia tampak menimbang-nimbang, “Tapi.. itu jauh sekali, dan, aku tidak berpikir akan sejauh itu..”

Aku hanya mengedik bahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s