Umi dan Farhan: Bagai Cinta Ali dan Fatimah

Standard

Aku duduk di The Wendy’s sambil menyeruput espresso dingin yang dinding gelasnya berembun. Satu titik air turun, menyibakkan titik air yang lain dan membasahi meja. Sehelai daun kering terbang tertiup angin, berhembus lembut sembari menikmati kata demi kata email Aisyah yang mengalir bagai sungai di musim panas. Sejuk dan menentramkan.

Aku mengerti bagaimana bahagianya Aisyah sekarang, dipinang lelaki yang dahulu sangat di dambanya.

“Farhan, jika kau menemukan cinta. Jangan kau jadikan cinta itu melekat dalam hatimu, kecuali cinta-Nya yang kita letakkan satu-satunya di lubuk hati kita yang paling dalam.”

“Karena ketika kau menaruh cinta selain Dia, itu akan membuatmu memiliki ambisi untuk mengejarnya, berharap dan merintih selain kepada-Nya.

“Cinta bagai mawar, yang ketika kau membiarkannya tetap pada hakikatnya, dia akan memerah, harum dan menyegarkan pekarangan rumahmu, tapi ketika kau menggenggam terlalu erat, mencoba mengambil mawar itu dari tangkainya, dia bisa melukaimu dan lama kelamaan, mawar itu akan mati.”

“Mencintai hakikatnya adalah suci, siapapun pasti pernah merasakannya, tapi, hanya yang paling bijaksana yang membiarkan cinta itu tetap pada jalan yang paling murni, tetaplah mencintai tanpa harus kehilangan, tetaplah mencintai, tanpa harus terburu-buru.”

“Tetaplah mencintai, pupuklah cinta itu dengan cinta yang lain. Cinta-Nya. Indahnya mencintai bagai Ali dan Fatimah, yang ketika keduanya menjaga hakikat cinta itu tetap suci, hingga Allah ikatkan keduanya dalam tali cinta yang paling hakiki, paling abadi.”

Aku menatap jendela kaca bertuliskan “The Wendy’s” yang menyajikan pemandangan pohon apel di luar yang sedang meranggas. Daun-daun kering memenuhi bagian akarnya yang ter-frame rapi dengan pagar putih pendek.

Mencintai bagai Ali dan Fatimah..

Aku tertegun sejenak, mencoba memahami apa arti dari kalimat yang diucap Aisyah melalui Surel nya siang ini.

Aku kembali menyeruput espresso dingin yang es batunya sudah banyak mencair. Membuat rasanya jadi sedikit hambar dan  warna cokelatnya semakin memudar.

Aku membiarkan pikiran-pikiran menjalar memenuhi syarafku, membuat begitu banyak kalimat-kalimat yang pernah kudengar dari orang-orang kembali ke dalam memori otakku. Membuatku terus nyaman melamunkan banyak hal.

Ponsel berdering, tanda pesan masuk. “Farhan, where are you? We are waiting for you in library now, we have discussion, remember? Anastasia.”

Aku menepuk dahiku, membuatku tersadar akan lamunan panjang barusan. Aku melirik jam tangan dan sudah lebih 20 menit aku terlambat dari jadwal semula. Sepertinya, reminder di smartphone lupa ku setel dan membuatku kehilangan satu janji dengan Anastasia dan beberapa anak di klub Fische untuk mempelajari beberapa spesies ikan sebagai tugas course Coral Ecology Professor William.

Aku menutup laptopku, meletakkan bill dan uang di meja, mengemasi tasku dan mengenakan jaket biru dongker. Mencoba mengejar waktu menuju perpustakaan kampus, berharap Anastasia dan yang lainnya masih sabar menunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s