Umi dan Farhan: Surel

Standard

Nick menenggak isi bir dari kaleng yang tersisa, dari 4 kaleng, hanya tersisa satu yang masih penuh. Dia tampak menikmati, di tangan kirinya terdapat rokok yang mengepulkan asap yang diapit oleh jari tengah dan telunjuknya.

Aku hanya menatapnya sesekali, kemudian memandang ke depan, melihat langit yang sudah tidak terdapat bintang lagi. Pukul 05:40, fajar hampir menyingsing. Kami berdua duduk diatas balkon yang terbuat dari lapisan semen yang dicat putih, Nick hanya menggunakan kaos hitam oblong tanpa lengan, sementara aku mengenakan kaos putih dan celana training hitam.

Kami berdua bisu satu sama lain. Aku hanya menunggu Nick bicara, yang sepertinya, dia sedang menyusun kalimat apa yang ingin dia ucapkan.

Tetes terakhir berhasil dia habiskan. Dia meletakkan kaleng kosong yang meneteskan bir di samping kirinya, tergeletak bersama kaleng-kaleng lain. Nick menghisap rokoknya, kemudian menghembuskannya perlahan.

“Kau tau, han?” Nick mulai bicara, dia menatap lurus kedepan tanpa menatapku, aku mengalihkan pandangan padanya, “bagaimana rasanya merindukan seorang Ayah?”

Nick kemudian tersenyum getir, matanya masih tegar. Dia menatap langit, tapi sepertinya, tatapannya agak kosong, jiwanya seperti terbang entah kemana, mungkin ke masa lalunya.

Aku tidak bergeming, bingung, sebenarnya aku tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang, merindukan Ayah, tapi aku yakin, ada maksud lain yang ingin dikatakan Nick dibalik pertanyaannya, maksudnya, apa dia menanyakan aku bagaimana rasanya merindukan seseorang yang tak mungkin untuk kau temui selamanya?

Aku menggeleng, akhirnya.

Nick menoleh kearahku. Dia kemudian kembali menatap lurus kedepan, “Yah…” Dia menghela napas, mengetukkan rokoknya sesekali, membuang abu yang terbakar ke bawah. Abu itu jatuh perlahan, kemudian hilang diterpa angin.

“Maksudku, hatiku hampa sekali.” Ujar Nick lagi, “Seperti ada yang hilang.”

Aku tak menjawab, hanya berusaha mendengarkannya, hingga selesai. Aku yakin, dia memiliki banyak sekali unek-unek yang sudah membusuk di pikirannya, akibat terlalu lama di pendam sendiri.

“Aku mendapatkan surel dari Ibuku, dia menanyakan kabar, dan aku merindukannya. Dia bilang, pulanglah libur semester depan, bertemu dengan ayah tiriku, dan kita akan makan malam bersama.” Nick kembali menghisap rokoknya, kembali memikirkan sesuatu.

“Tapi, aku tidak suka orang itu, maksudku, dia bukan ayahku, dia hanya orang asing yang masuk ke dalam kehidupan ibuku.”

Aku mengangguk, faham.

“Kau tau, han, Ayah kandungku tidak pernah mengajarkan aku untuk minum bir, alkohol, dia tidak pernah mengajari aku caranya merokok.”

Aku menatapnya bingung, “Benarkah?”

Nick mengangguk, “Ya, saat aku berusia 12 tahun, Ayahku mengajakku bermain bowling, lalu saat makan siang dia mengajakku bicara, untuk berhati-hati dalam bergaul, memilih teman, jangan sampai dia terjerumus dalam pergaulan yang salah. Padahal, saat itu dia sedang menghisap rokok dan meminum alkohol.”

“Lalu saat aku tanya, kenapa ayah meminum alkohol dan menghisap rokok, dia bilang, biar aku saja yang rusak, kau tidak boleh! Begitu ucapnya saat itu.”

Aku mencoba memahami kalimatnya, lalu, “Lalu kenapa kau sekarang meminum alkohol?”

Nick diam, sambil kembali mengetuk-ngetukkan rokoknya.

“Aku hanya, merindukan Ayahku..” Suara Nick mengalun bersama Angin, lembut, menandakan kalimatnya barusan berisi begitu banyak kerinduan yang mendalam, tersimpan begitu banyak makna, begitu banyak cerita yang tidak sempat diungkapkan, yang selama ini terpendam cukup dalam, cukup lama.

Aku menepuk bahunya, sebenarnya, inilah kalimat yang sejak tadi ingin dia katakan. Nick tidak bicara lagi, dia membuang puntung rokoknya jauh-jauh, melemparnya, membuat semua abunya terbang tertiup angin.

Kami berdua duduk, hingga tiba saatnya matahari terbangun. Fajar menyingsing. Angin dingin menusuk, bertiup, membuat bunga-bunga mekar. Dingin, kemudian hangat. Nick masih bungkam, sepertinya dia mencoba memendam lagi, dan menahan air mata yang sejak dulu ingin ia keluarkan, dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Dia merindukan Ayahnya.

***

Aku membuka laptopku, di perpustakaan kampus pagi itu, yang mungkin, hanya aku dan 3 orang di depanku yang berada disini, ditambah satpam dan Mrs. Gregory yang menjaga pintu registrasi perpustakaan.

Surel dari Aisyah, “Assalamualaikum, Farhan.”

Advertisements

One thought on “Umi dan Farhan: Surel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s